BPS Catat RI Impor 2,5 Ton Emas Senilai Rp 6,72 T, Pemasok Utama dari Australia
·waktu baca 2 menit

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga emas global masih mengalami tren penurunan dalam tiga bulan terakhir. Namun di saat yang sama, Indonesia justru mengimpor emas dalam jumlah besar pada April 2026.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan harga emas di pasar internasional pada April 2026 masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Meski mulai mengalami koreksi dalam beberapa bulan terakhir.
BPS melaporkan harga komoditas logam mulia di pasar global masih meningkat 58,61 persen secara tahunan pada April 2026. Namun secara bulanan, harga logam mulia turun 2,71 persen dibandingkan Maret 2026.
Berdasarkan data BPS, harga emas pada Februari 2026 tercatat USD 5.019 per troy ons, sementara pada Mei 2026 tercatat sebesar USD 4.587 per troy ons.
“Jika melihat dinamika pada tiga bulan terakhir kita bisa lihat harga emas mengalami tren penurunan walaupun level harganya masih lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Pudji dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Selasa (2/6).
Koreksi harga emas global juga tercermin pada pergerakan harga emas perhiasan di dalam negeri. Pada Mei 2026, emas perhiasan mengalami deflasi 2,67 persen secara bulanan dan menjadi salah satu komoditas yang paling besar meredam inflasi nasional. Emas perhiasan tercatat sudah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret hingga Mei 2026.
Meski harga emas sedang terkoreksi, impor logam mulia Indonesia justru masih cukup tinggi. Berdasarkan data BPS, impor emas atau HS 7108 pada April 2026 mencapai 2,5 ton dengan nilai mencapai USD 377,2 juta atau senilai Rp 6,72 triliun (kurs Rp 17.835 per dolar AS).
Australia menjadi pemasok emas terbesar bagi Indonesia, dengan volume mencapai 1,3 ton atau senilai USD 199,2 juta. Nilai tersebut setara 52,81 persen dari total impor emas Indonesia pada April 2026.
Setelah Australia, impor emas terbesar berasal dari Hong Kong sebanyak 533 kilogram dengan nilai USD 81,7 juta. Sementara itu, Uni Emirat Arab menempati posisi ketiga dengan volume 240 kilogram senilai USD 36,4 juta.
Selain dari sisi impor, BPS juga mencatat Australia menjadi salah satu penyumbang defisit perdagangan nonmigas terbesar Indonesia pada Januari-April 2026. Defisit tersebut terutama berasal dari komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata.
