Ketika Survival Mengalahkan Moral dalam Dunia Tanpa Otoritas

Seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia yang memiliki hobi dalam fotografi dan memiliki ketertarikan dalam menulis opini dan artikel
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nico Manaek Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanya von Degurechaff, tokoh utama dalam Youjo Senki, kerap digambarkan sebagai sosok yang kejam, dingin, namun sangat rasional. Setiap keputusan yang ia ambil di medan perang selalu didasarkan pada efisiensi dan perhitungan yang matang, bahkan jika hal tersebut harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, di balik citra tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sifat kejam dan dingin itu merupakan penyimpangan moral, atau justru bentuk paling ekstrem dari upaya untuk bertahan hidup? Dalam dunia yang penuh konflik dan ketidakpastian, apakah mempertahankan moralitas benar-benar menjadi jalan menuju perdamaian, atau justru kemampuan untuk menghancurkan ancamanlah yang memastikan kelangsungan hidup?
Dunia dalam Youjo Senki memiliki kemiripan dengan realitas internasional jika dilihat melalui kacamata Hubungan Internasional. Salah satu kesamaan yang paling menonjol adalah tidak adanya otoritas tertinggi yang mampu mengatur seluruh negara, atau dalam kajian HI dikenal sebagai kondisi anarki. Dalam perspektif Realisme dalam Hubungan Internasional, kondisi ini membuat setiap negara harus mengandalkan dirinya sendiri untuk menjamin keamanan dan kelangsungan hidupnya. Tidak adanya jaminan perlindungan dari pihak lain mendorong negara-negara untuk menggunakan kekuatan, termasuk militer, sebagai instrumen utama dalam mempertahankan diri maupun mengejar kepentingannya.
Dalam konteks tersebut, dunia Youjo Senki digambarkan sebagai lingkungan yang penuh konflik dan ketidakpastian, di mana perang menjadi hal yang lumrah. Kondisi ini secara tidak langsung membentuk perilaku para aktornya, termasuk Tanya von Degurechaff, yang terus berupaya untuk bertahan hidup dengan mengandalkan rasionalitas dan efisiensi. Dengan kata lain, tindakan Tanya bukan sekadar pilihan individu, melainkan respons terhadap sistem yang menuntut setiap aktor untuk mengutamakan survival di atas segalanya.
Dunia tanpa otoritas tertinggi, atau kondisi anarki, menjadikan keamanan sebagai sesuatu yang langka sekaligus berharga dalam Youjo Senki. Dalam situasi seperti ini, keamanan bukan lagi hal yang bisa diasumsikan, melainkan tujuan utama yang harus diperjuangkan. Tidak hanya Tanya, tetapi juga negara dan aktor lain dalam cerita terdorong untuk bertindak secara pragmatis dengan tetap berpegang pada rasionalitas demi mencapai kondisi yang mereka anggap aman.
Kondisi tersebut mendorong kekuatan terutama militer menjadi instrumen utama dalam menjamin keamanan. Negara-negara berupaya memperkuat diri, bahkan hingga menundukkan pihak lain, untuk menciptakan rasa aman di lingkungannya. Namun, dalam sistem yang penuh ketidakpastian, rasa aman yang telah dicapai tidak pernah benar-benar cukup. Kecurigaan terhadap potensi ancaman membuat negara terus meningkatkan kekuatannya, yang pada akhirnya memicu spiral konflik yang tidak berkesudahan. Dalam konteks ini, perang bukan lagi sekadar pilihan, melainkan konsekuensi dari sistem yang memaksa setiap aktor untuk terus mengejar survival.
Rasionalitas dan upaya mempertahankan keamanan dalam Youjo Senki tidak sepenuhnya menghapus moralitas, tetapi sering kali menempatkannya dalam posisi yang tertekan. Hal ini terlihat melalui Viktor Vooren Grantz, yang sempat meragukan tindakannya di medan perang, terutama ketika perjuangannya untuk melindungi tanah air justru berdampak pada kehancuran wilayah lain. Keraguan tersebut menunjukkan bahwa moralitas masih ada pada level individu. Namun, dalam tekanan sistem militer dan tuntutan untuk menjalankan perintah, ia tetap melanjutkan tugasnya. Dengan demikian, moralitas tidak hilang, tetapi dikompromikan demi kebutuhan yang lebih mendesak, yaitu survival.
Kasus Arene memperlihatkan dinamika tersebut pada level yang lebih luas. Kekaisaran melakukan operasi militer besar-besaran dengan menghancurkan kota demi mencapai tujuan strategis, sambil tetap mengikuti prosedur yang sejalan dengan Just War Theory, seperti pemberian peringatan dan penargetan berbasis kepentingan militer. Namun, aturan tersebut juga ditafsirkan secara fleksibel, misalnya dengan mengkategorikan warga yang melawan sebagai kombatan tidak sah serta membenarkan kerugian sipil sebagai konsekuensi yang dianggap sebanding. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tindakan tersebut dapat dianggap sah secara prosedural, secara moral tetap menimbulkan persoalan serius. Pada akhirnya, dalam dunia tanpa otoritas, tuntutan untuk bertahan hidup dan memenangkan konflik menjadikan moralitas berada di posisi sekunder.
Dalam Youjo Senki, dunia yang dipenuhi perang dan ketiadaan otoritas menciptakan sistem yang mendorong setiap aktor untuk memprioritaskan survival di atas segalanya. Dalam kondisi seperti ini, kecurigaan menjadi hal yang wajar, sementara moralitas perlahan bergeser dari prinsip menjadi pilihan. Sosok Tanya von Degurechaff bukanlah anomali, melainkan produk dari sistem yang menuntut efisiensi dan kemenangan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah tindakan tersebut rasional, melainkan apakah rasionalitas yang mengabaikan moral dapat terus dibenarkan. Jika dunia tanpa otoritas memang mendorong logika seperti itu, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya perilaku aktornya, tetapi juga sistem yang membuat pilihan tersebut terasa masuk akal. Pada akhirnya, yang mengerikan bukan sekadar dunia yang kejam, melainkan ketika kita mulai menerima bahwa dalam menghadapi ancaman, mengorbankan moral adalah sesuatu yang wajar.
