Konten dari Pengguna

Etika dan Filsafat Komunikasi dalam Cancel Culture di Jagat Maya Penuh Drama

Nida Nurfadhilah

Nida Nurfadhilah

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Ilmu Komunikasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nida Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gambar di ambil dari freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gambar di ambil dari freepik

Kamu tau nggak sih, di zaman medsos kayak sekarang, satu typo aja bisa jadi trending. Sumpah, kadang aku scroll Twitter baru dua menit, eh udah ada public figure yang “disidang” netizen. Cancel culture? Udah kayak acara wajib tiap minggu. Cancel culture itu semacam budaya gasak bareng-bareng. pokoknya kalau kamu ngelakuin salah (atau dianggap salah, nggak peduli beneran salah apa nggak), siap-siap di-unfollow, diboikot, dihujat habis-habisan. Dunia maya suka banget sama "tunjuk hidung" beramai-ramai ini. Bahkan, masalah sepele jadi ajang balas dendam massal.

Etika Komunikasi? Ya Nggak Segampang Itu, Ferguso! Semuanya katanya demi “tanggung jawab sosial.” Tapi, serius deh, kayaknya nggak ada yang mikirin etika komunikasi pas lagi emosi. Ada nih filsuf Sissela Bok bilang, omongan itu nggak cuma soal jujur doang, tapi juga harus mikirin efeknya. Nah, cancel culture sering bikin orang nggak sempat klarifikasi atau minta maaf. Udah keburu dibakar, bro.

Kritik Tanpa Perasaan Immanuel Kant pernah nyeletuk, manusia katanya bukan alat, jangan diperlakukan kayak sendok bekas. Tapi pada praktiknya, cancel culture sering banget ngebuang sisi manusianya orang. Gara-gara pengen balas dendam kolektif, lupa deh tuh kalau yang diserang juga manusia. Kadang malah berasa kayak gladiator—siapa yang kalah langsung diusir dari arena. Sadis sih.

Medsos = Ruang Publik Rame Tapi Semrawut Habermas (iya, yang itu, filsuf Jerman), sempet ngimpi soal diskusi publik yang adem, rasional, dan bebas tekanan. Lah, Twitter ama TikTok mah kebalikannya. Bising, chaos, secepat F1, semua orang pengen jadi komentator. Seringnya, bukan diskusi sehat, melainkan lomba siapa paling nyolot dan cepat ngegas.

Empati? Ya Ampun, Mana Ada

Levinas bilang, hubungan etis itu berawal dari “lihat wajah orang lain.” Dalam teori sih keren, tapi di dunia maya, yang ada profil picture random plus nickname alay. Orang lupa, di balik username itu ada yang punya cerita juga. Cancel culture suka abai sama detil kayak gitu. Netizen ramai-ramai nendang tanpa mikir perasaan. Udah kayak main Werewolf, bukan manusia beneran.

Kritik Oke, Tapi Jangan Asal Main “Cancel” Nggak semua cancel culture itu haram, sih. Kadang, perlu juga buat ngasih shock therapy ke pelaku ketidakadilan. Tapi masalahnya, netizen sering lupa ngerem. Kritik tanpa empati cuma bikin ruang publik makin horor.

Ya, kita mesti belajar mana kritik konstruktif, mana yang cuma bawa bensin sama korek buat nambah rame. Komunikasi tuh kadang bukan soal siapa paling lantang, tapi siapa yang paham ngomong itu ada efek riilnya ke orang lain. Jadi lain kali sebelum ngegas, mikir dulu, gitu lho.