Mengapa Istirahat Kini Terasa Seperti Rasa Bersalah?

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nida Nurfadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, kita sering membayangkan betapa menyenangkannya memiliki waktu luang. Tidak perlu terburu-buru bangun pagi, tidak dikejar tugas, pekerjaan, atau berbagai tanggung jawab. Kita hanya ingin punya satu hari untuk tidur lebih lama, menonton film, atau sekadar tidak melakukan apa-apa.
Namun, ketika waktu luang itu akhirnya benar-benar datang, sesuatu yang aneh justru terjadi. Kita mulai merasa bersalah.
Saat tidur lebih lama, muncul pikiran bahwa seharusnya kita sudah bangun dan melakukan sesuatu. Ketika menghabiskan waktu menonton film, kita merasa seharusnya mengerjakan tugas atau belajar keterampilan baru. Bahkan ketika tubuh benar-benar lelah dan membutuhkan waktu untuk berhenti, masih ada suara kecil yang mengatakan bahwa kita sedang membuang-buang waktu.
Seolah-olah, istirahat kini harus memiliki alasan agar terasa pantas dilakukan.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan di tengah budaya produktivitas yang berkembang di era digital. Kita hidup dalam lingkungan yang terus mendorong seseorang untuk melakukan lebih banyak hal. Bangun pagi harus produktif.
Waktu luang harus dimanfaatkan. Akhir pekan menjadi kesempatan untuk mengejar pekerjaan yang tertunda. Bahkan hobi pun terkadang harus menghasilkan sesuatu.
Tanpa disadari, produktivitas perlahan berubah dari aktivitas menjadi identitas. Kita tidak hanya merasa senang ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, tetapi mulai merasa berharga hanya ketika sedang menghasilkan sesuatu.
Akibatnya, ketika tidak melakukan apa-apa, muncul perasaan bersalah.
Psikolog Alexandra M. Freund dan Michael Baltes melalui kajian mengenai regulasi tujuan menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk menetapkan tujuan dan mengevaluasi kemajuan dirinya.
Namun, ketika pencapaian tujuan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, seseorang dapat kesulitan menerima kondisi ketika dirinya harus berhenti atau beristirahat.
Masalahnya bukan terletak pada keinginan untuk menjadi produktif. Keinginan untuk berkembang tentu merupakan hal yang positif. Persoalan muncul ketika produktivitas dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan sepanjang waktu, seolah-olah berhenti sejenak berarti mengalami kemunduran.
Budaya hustle juga memperkuat cara pandang tersebut. Di media sosial, kita sering melihat bagaimana kesibukan dipresentasikan sebagai sesuatu yang membanggakan. Seseorang yang bekerja hingga larut malam dianggap berdedikasi. Orang yang memiliki banyak pekerjaan sampingan dianggap lebih sukses. Bahkan, seseorang yang selalu sibuk terkadang dianggap lebih bernilai dibandingkan mereka yang memiliki waktu luang.
Padahal, sibuk dan produktif bukanlah dua hal yang sama.
Seseorang bisa menghabiskan berjam-jam bekerja tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. Sebaliknya, seseorang yang mengambil waktu untuk beristirahat mungkin justru sedang mempersiapkan dirinya agar dapat bekerja dengan lebih baik keesokan harinya.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa pemulihan setelah bekerja memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan dan performa seseorang. Waktu untuk melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta mendapatkan istirahat yang cukup dapat membantu seseorang kembali bekerja dengan kondisi yang lebih baik.
Artinya, istirahat bukan lawan dari produktivitas. Istirahat justru merupakan bagian dari proses yang memungkinkan produktivitas berlangsung secara sehat.
Sayangnya, kita sering lupa membedakan antara berhenti dan menyerah.
Berhenti untuk tidur bukan berarti malas. Mengambil cuti bukan berarti tidak bertanggung jawab. Menghabiskan akhir pekan tanpa mengerjakan sesuatu bukan berarti hidup kita tidak memiliki tujuan.
Ada kalanya tubuh memang membutuhkan waktu untuk berhenti tanpa harus menghasilkan apa pun.
Mungkin, salah satu alasan mengapa kita merasa bersalah saat beristirahat adalah karena kita terlalu lama percaya bahwa waktu hanya berharga ketika digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Padahal, manusia bukan mesin yang harus terus bekerja agar dianggap berguna.
Kita berhak memiliki waktu yang tidak menghasilkan apa-apa.
Kita berhak tidur tanpa merasa bersalah. Kita berhak menikmati hari tanpa harus mengunggahnya. Kita berhak melakukan sesuatu hanya karena menyenangkan, bukan karena bisa dimasukkan ke dalam daftar pencapaian.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi lebih produktif, melainkan bagaimana berhenti tanpa merasa kehilangan nilai diri.
Sebab, hidup tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita selesaikan. Ada bagian dari hidup yang memang tidak perlu menghasilkan apa-apa selain rasa tenang.
Dan mungkin, istirahat bukanlah waktu yang terbuang.
Mungkin, istirahat adalah cara kita mengingat bahwa hidup tidak selalu harus dikejar.
