Konten dari Pengguna

Ekonomi Digital dan Perubahan Pola Konsumsi: Efisien atau Konsumtif?

Nikeisha Sasikirana

Nikeisha Sasikirana

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nikeisha Sasikirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan Ekonomi Digital telah mengubah cara kita berbelanja. Jika dulu harus ke pasar, kini belanja online melalui marketplace sudah menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari dan mengubah perilaku konsumen.

Namun, kemudahan tersebut juga membuat kita terkadang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kita mungkin awalnya hanya melihat-lihat barang, tetapi akhirnya membeli karena ada diskon, gratis ongkir, voucher, atau promo tanggal kembar. Di sinilah muncul pertanyaan: apakah belanja online selalu menguntungkan atau justru bisa membuat kita semakin boros?

Sumber gambar dari ChatGPT/AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar dari ChatGPT/AI

Mudah Bukan Berarti Selalu Hemat

Belanja online memang memiliki banyak keuntungan. Kita dapat menghemat waktu, membandingkan harga, membaca ulasan, dan melihat rating dari berbagai toko tanpa harus datang langsung.

Namun, promo yang ditawarkan juga dapat memengaruhi keputusan kita. Misalnya, barang seharga Rp50.000 mendapatkan diskon menjadi Rp35.000; kita mungkin merasa telah menghemat Rp15.000. Padahal, jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan, kita tetap mengeluarkan uang Rp35.000.

Hal yang sama dapat terjadi pada gratis ongkir. Kita terkadang menambah barang ke keranjang hanya karena ingin mendapatkan gratis ongkir. Akhirnya, pengeluaran justru menjadi lebih besar dari rencana awal.

Menurut saya,diskon dan gratis ongkir tidak selalu berarti hemat. Kita tetap perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Ekonomi Digital Memberikan Peluang

Belanja online tidak hanya memberikan keuntungan bagi konsumen, tetapi juga bagi penjual. Sekarang, seseorang dapat memulai usaha dari rumah dan memasarkan produknya melalui marketplace atau media sosial tanpa harus memiliki toko fisik.

Bagi UMKM, hal ini menjadi peluang untuk menjangkau konsumen yang luas. Namun, persaingan juga semakin terbuka karena konsumen dapat dengan mudah membandingkan harga, kualitas, dan pelayanan dari banyak penjual.

Sementara itu, perkembangan belanja online juga tidak berarti toko offline akan hilang. Ada barang tertentu yang masih ingin dilihat atau dicoba secara langsung. Karena itu, belanja online dan offline dapat berjalan bersama sesuai kebutuhan konsumen.

Belanja Online Tetap Membutuhkan Kebijaksanaan

Menurut saya, belanja online tidak selalu menguntungkan. Semuanya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.

Sebelum membeli sesuatu, kita bisa bertanya kepada diri sendiri. Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah harganya sesuai? Atau saya membelinya hanya karena ada promo?

Teknologi memang membuat kita lebih mudah berbelanja, tetapi keputusan tetap berada di tangan kita sebagai konsumen. Jangan sampai karena terlalu mudah membeli, kita justru lupa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Belanja online seharusnya membuat kehidupan lebih mudah, bukan membuat kita membeli lebih banyak dari yang sebenarnya kita perlukan.