Konten dari Pengguna

Saat AI Menjadi Dokter Pertama: Cepat Menjawab, Belum Tentu Tepat Mengobati

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Niken Rahmah Ghanny tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kemudahan teknologi, masyarakat tetap membutuhkan informasi kesehatan yang akurat, penilaian profesional, dan perlindungan keselamatan.

Keluhan kesehatan kini tidak selalu membawa seseorang langsung ke ruang praktik dokter. Sebagian orang justru lebih dahulu membuka telepon genggam, mengetikkan gejala yang dirasakan pada chatbot berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), lalu membaca kemungkinan penyakit dan saran penanganannya. Dalam hitungan detik, berbagai penjelasan muncul dengan bahasa yang terstruktur dan terdengar meyakinkan.

Ilustrasi dibuat oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat oleh AI

Bagi sebagian orang, cara ini terasa praktis dan menenangkan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah jawaban yang cepat dan meyakinkan selalu merupakan jawaban yang benar?

Pemandangan semacam ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. AI telah mengubah cara manusia mencari informasi, termasuk informasi kesehatan. Ketika tubuh memberikan sinyal yang tidak biasa, sebagian orang kini memilih bertanya kepada chatbot sebelum memutuskan untuk mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan. AI seolah menjadi dokter pertama yang dapat dihubungi kapan saja, tanpa antrean dan tanpa biaya konsultasi.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Tidak semua orang memiliki kemudahan mengakses layanan kesehatan. Jarak, biaya, waktu tunggu, dan keterbatasan fasilitas masih menjadi persoalan. Dalam kondisi tersebut, kehadiran AI menawarkan kemudahan yang sulit diabaikan. Masyarakat dapat bertanya tentang gejala, memahami istilah medis, membaca hasil pemeriksaan, hingga memperoleh gambaran awal mengenai suatu penyakit.

Gambaran ini juga terlihat dalam Indonesia AI Report 2025 yang diterbitkan kumparan. Laporan tersebut menemukan bahwa 34 persen responden pernah menggunakan AI untuk konsultasi atau diagnosis kesehatan fisik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Angkanya mencapai 33 persen pada kelompok milenial dan 35 persen pada Gen Z. Survei ini melibatkan 1.000 responden dari kelompok Gen Z dan milenial di sejumlah wilayah perkotaan Indonesia. Temuan tersebut memang tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh penduduk Indonesia, tetapi cukup memberikan gambaran bahwa AI mulai mengambil peran dalam perilaku masyarakat ketika mencari informasi kesehatan.

AI generatif memiliki kemampuan mengolah informasi dalam jumlah besar dan menyajikannya dalam bahasa yang mudah dipahami. Teknologi ini dapat membantu masyarakat mengenali istilah medis, memahami faktor risiko, serta menyiapkan pertanyaan sebelum berkonsultasi dengan dokter. Dalam konteks edukasi kesehatan, manfaat tersebut patut diapresiasi.

Namun, kemampuan menyusun jawaban yang sistematis tidak sama dengan kemampuan memastikan diagnosis. AI generatif dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan kondisi seseorang. Bahkan, kesalahan tersebut dapat disampaikan dengan bahasa yang sangat meyakinkan sehingga sulit dikenali oleh pengguna awam.

Dalam praktik kedokteran, satu gejala tidak selalu menunjukkan satu penyakit. Nyeri dada, misalnya, dapat berkaitan dengan gangguan otot, masalah pencernaan, kecemasan, maupun penyakit jantung yang membutuhkan penanganan segera. Untuk menentukan penyebabnya, dokter tidak cukup hanya membaca keluhan. Diperlukan penilaian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, faktor risiko, dan bila diperlukan pemeriksaan penunjang.

Persoalan ini diperkuat oleh penelitian yang diterbitkan dalam npj Digital Medicine pada 2025. Melalui tinjauan sistematis terhadap 19 penelitian, Kopka dan kolega menemukan bahwa akurasi model bahasa besar dalam membantu masyarakat menentukan tingkat urgensi penanganan kesehatan berkisar 57,8–76 persen. Hasil tersebut menunjukkan adanya potensi, tetapi juga memperlihatkan bahwa kemampuan AI belum cukup konsisten untuk dijadikan satu-satunya dasar menentukan apakah seseorang membutuhkan pertolongan medis.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Nature Medicine pada 2025 memberikan gambaran yang lebih menarik. Dalam studi terkontrol terhadap 1.298 partisipan, model AI dapat mengidentifikasi kondisi medis dengan benar pada 94,9 persen skenario ketika bekerja sendiri. Namun, ketika masyarakat menggunakan AI untuk membantu mengenali kondisi dan menentukan tindakan, hasilnya justru tidak menunjukkan peningkatan yang bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini mengingatkan bahwa kemampuan sistem dan kemampuan manusia memanfaatkan sistem tersebut merupakan dua persoalan yang berbeda.

Jangan menjadikan AI sebagai musuh, tetapi jangan pula memberinya kepercayaan tanpa batas

Menolak pemanfaatan AI dalam kesehatan tentu bukan pilihan yang bijaksana. Teknologi ini berpotensi membantu memperluas akses informasi, mendukung analisis data, membantu proses skrining, dan meningkatkan efisiensi pelayanan. Bahkan, dalam sistem kesehatan yang dirancang dan divalidasi dengan baik, AI dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna bagi tenaga kesehatan.

Akan tetapi, perlu dibedakan antara AI yang dikembangkan dan divalidasi untuk tujuan klinis tertentu dengan chatbot umum yang digunakan masyarakat untuk mencari diagnosis. Keduanya tidak dapat diperlakukan sebagai hal yang sama. Teknologi yang digunakan dalam pelayanan kesehatan harus memiliki standar keamanan, validasi, pengawasan, dan pertanggungjawaban yang jelas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui panduan Ethics and Governance of Artificial Intelligence for Health menekankan pentingnya perlindungan privasi, transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan manusia dalam penerapan AI di bidang kesehatan. Prinsip ini penting karena kesalahan informasi kesehatan bukan sekadar persoalan teknis. Dampaknya dapat menyangkut keselamatan manusia.

Di sinilah literasi kesehatan masyarakat perlu berkembang bersama literasi digital. Masyarakat perlu memahami bahwa jawaban AI merupakan informasi awal, bukan diagnosis yang telah dikonfirmasi. Hasil konsultasi dengan chatbot tidak boleh menjadi alasan untuk memulai atau menghentikan pengobatan tanpa arahan tenaga kesehatan. Informasi pribadi dan rekam medis juga perlu dijaga ketika menggunakan layanan AI.

Lebih jauh, pemerintah, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan pengembang teknologi perlu mengambil bagian dalam membangun ekosistem penggunaan AI yang bertanggung jawab. Edukasi mengenai batas kemampuan AI perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Pengembang juga harus memastikan sistem yang digunakan untuk kepentingan kesehatan memiliki mekanisme pengamanan dan evaluasi yang memadai.

Untuk kondisi yang mengarah pada kegawatdaruratan, seperti nyeri dada berat, sesak napas, penurunan kesadaran, atau kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, masyarakat harus segera mencari pertolongan medis. Tidak perlu menunggu jawaban chatbot.

Teknologi boleh semakin pintar, tetapi keselamatan manusia tetap menjadi tujuan utama.

Pada akhirnya, persoalan AI dalam kesehatan bukan semata-mata tentang seberapa canggih teknologi mampu menjawab pertanyaan manusia. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan jawaban tersebut tidak menyesatkan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Di balik setiap pertanyaan tentang penyakit, ada seseorang yang mungkin sedang cemas, keluarga yang sedang khawatir, atau pasien yang berharap mendapatkan kesembuhan. Mereka tidak hanya membutuhkan jawaban cepat, tetapi juga penilaian yang tepat, tanggung jawab profesional, dan kepedulian manusiawi.

AI boleh menjadi tempat pertama kita mencari informasi kesehatan. Namun, jangan sampai ia menjadi satu-satunya tempat kita mencari pertolongan. Sebab, teknologi dapat membantu menjelaskan penyakit, tetapi kesehatan manusia membutuhkan lebih dari sekadar jawaban: ia membutuhkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dan pelayanan yang tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya.