Opini & Cerita
·
21 September 2020 15:47

Berebut Maba: Pergumulan Narasi Organisasi Ekstra Kampus

Konten ini diproduksi oleh Nirwansyah
Judul di atas terinspirasi dari salah satu karya Carool Kersten “Berebut Wacana; Pergulatan Wacana Umat Islam Era Reformasi,”. Namun, bukan konten dari buku tersebut yang hendak diulas, tetapi hal lain yang pada intinya sama-sama ‘berebut’. Bedanya, rebutan yang satu ini sifatnya musiman dan cenderung mengelabui. Ya, apalagi kalau bukan berebut maba. Musim tersebut lazim terjadi ketika memasuki tahun ajaran baru atau penerimaan mahasiswa baru (maba) pada Perguruan Tinggi.
ADVERTISEMENT
Maba dan Memuncaknya Berahi
Musim maba (mahasiwa baru) merupakan suatu musim yang menandakan tahun ajaran baru telah tiba dan diterimanya mahasiswa baru setelah lulus dari SLTA. Iklim yang terjadi pada musim tersebut cukup menarik untuk diulas. Sebab pada musim maba, girah dan nafsu berahi mahasiswa lama maupun tingkat atas yang ‘ngakunya’ militan dalam berorganisasi semakin menjadi-jadi.
Laksana iman, berahi juga mengalami naik-turun. Pada tahun ajaran baru ini lah nafsu berahi tersebut memuncak. Hal ini dapat dilihat dari oknum di setiap organisasi ekstra kampus yang bersolek dan berupaya untuk merangsang serta membujuk rayu para pendatang baru (maba) agar tertarik bergabung dengan organisasinya.
Barang tentu, kita mesti mempertanyakan, khususnya bagi maba dalam melihat agenda terselubung di balik bujuk rayu tersebut. Sebab, “Tak ada makan siang yang gratis.”
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, alangkah eloknya kita mengetahui sekilas tentang bujuk rayu atau berahi. Dalam hal ini, saya akan meminjam lensa “BeRAHi”-nya seorang filsuf Perancis, Jean Baudrillard, dalam melihat fenomena tersebut.
Dalam bukunya tersebut, dituliskan bahwa “Bujuk rayu berahi telah menjelma menjadi segala hal yang terselubung.” Selain itu, bujuk rayu berahi juga sarat akan kepalsuan dan menjadi sebuah pemujaan atas “manfaat” jahat tanda-tanda, sebuah persekongkolan tanda-tanda.
Lantas, apa kaitannya dengan perebutan maba? Ketika memasuki tahun ajaran baru, di saat yang bersamaan juga terjadi kontestasi tanda-tanda atau simbol-simbol dari berbagai organisasi ekstra kampus yang banyak bereliweran di berbagai media sosial. Berbagai kegiatan atau aktivitas yang sebelumnya mati suri, seperti diskusi, bermacam pelatihan, dan sebagainya tiba-tiba menjamur dan aktif kembali dengan membawa misi “suci”-nya masing-masing, yakni untuk merekrut para mahasiswa baru sebagai anggota.
ADVERTISEMENT
Testimoni Basi
Adapun cara lain yang dilakukan oleh organisasi ekstra kampus selain menyelenggarakan diskusi dan sejenisnya. Misalnya, melakukan personal chat, membuat grup gelap, berbagai aktivitas yang sifatnya hura-hura, bahkan ada yang sampai bernuanasa agama, dan sebagainya. Last but not least, yakni mengagung-agungkan senior yang sudah menjadi tokoh, artis, hingga status mentereng lainnya dan ada pun testimoni untuk dijadikan sebagai bahan bujuk rayu. Padahal, testimoni tersebut merupakan testimoni klise yang terus diulang-ulang setiap tahun ajaran baru tiba.
Dengan membesar-besarkan senior tersebut, seolah-olah ingin memberikan isyarat bahwasannya mereka bisa menjadi seperti itu, karena dulunya mereka bergabung dengan organisasi kita, loh. Maka dari itu, ayo gabung! Jika mau fair, seharusnya hal tersebut juga harus diimbangi, yakni membandingkan mereka yang “sukses” dengan mereka yang bernasib terbalik.
ADVERTISEMENT
Dalam faktanya, hal itu tidak terjadi. Sehingga, glorifikasi senior dan sederet hal bujuk rayu di atas menjadi sesuatu yang kosong makna. Dalam wacana seperti itu, makna dan pesan digantikan oleh bujuk rayu berahi yang penuh kepalsuan, ilusi, dan penampakannya (Baudrillard, 2018). Masih dengan rujukan yang sama, dinyatakan:
“Rayuan, beroperasi melalui serangkaian makna pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya. Sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebentuk wajah merayu yang penuh make-up adalah wajah yang kosong makna, sebab penampakan artifisial dan palsunya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan rayuan adalah kepalsuan dan kesemuan. Apa yang diinginkan rayuan bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan dan gelora nafsu”.
Jadi, “Rayuan (seduction) tak pernah berhenti pada tanda. Ia beroperasi melalui pengelabuan. Ia menenggelamkan manusia selamanya ke jurang kesemuan. Itulah amoralitas rayuan. Ia menggelincirkan orang dari kebenaran karena tergoda penampakan”.
ADVERTISEMENT
Jangan Terlalu Ekstrim
Dalam tulisan ini, saya berusaha memposisikan diri sebagai kader yang mencintai IMM, tetapi dalam waktu yang sama tidak ingin menjadi kader yang terlalu ekstrim, sehingga menjadikan IMM sebagai kebenaran tunggal dan tak luput dari kelemahan.
Sebab, meminjam istilah Erich Fromm, sebagaimana disitir Ahmad Fuad Fanani dalam bukunya “Re-Imagining Muhammadiyah,” kita bisa memilih “to be (menjadi)” IMM, dan bukan “to have (memiliki)” IMM.
Seseorang yang “menjadi” akan berusaha untuk senantiasa tidak berpuas diri dan memberikan kontribusi ke organisasinya, sekecil apapun usaha itu. Sebaliknya, orang yang merasa “memiliki”, biasanya akan merasa menguasai, mencintai, dan memonopoli.
Barang tentu, uraian ini tidak bermaksud untuk menggebyah-uyah dengan kampus lain. Bisa jadi ada kemiripan, namun juga tak menutup kemungkinan terdapat perbedaan. Meminjam pepatah orang Minang, “Lain lubuak, lain ikannyo.” Kurang lebih berarti, beda kampus beda pula dinamika di setiap tempatnya masing-masing.
ADVERTISEMENT