Konten dari Pengguna

Satu Mei, Satu Suara yang Tak Pernah Redam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisrina Fauziah Jauhar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suara-suara itu kembali bergema setiap 1 Mei. Buruhnya menyuarakan harapan, tuntutan, dan perlawanan dari jalan-jalan kota hingga linimasa media sosial. Hari Buruh Internasional bukan sekadar hari libur nasional; itu adalah pengingat bahwa kemajuan ekonomi selalu bergantung pada pekerja yang menjalankan produksi.

Foto by : Nisrina Fauziah Jauhar
zoom-in-whitePerbesar
Foto by : Nisrina Fauziah Jauhar

Dalam sejarah panjang perjuangan buruh di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19, Hari Buruh adalah hasilnya. Ribuan buruh di Chicago melakukan aksi menuntut jam kerja delapan jam sehari pada 1 Mei 1886.

Dalam peristiwa Haymarket Affair, banyak demonstran tewas dalam aksi kekerasan yang mengikutinya. Namun, karena tragedi itu, peringatan tahunan 1 Mei muncul, dirayakan di seluruh dunia sebagai simbol perjuangan kelas pekerja.

Di Indonesia, Hari Buruh kadang-kadang dianggap sebagai ancaman politik, terutama selama era Orde Baru. Demonstrasi buruh dilarang dan suara mereka ditutup. Pasca reformasi, suara buruh menjadi lebih kuat. Pada tahun 2013, pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional, yang merupakan langkah simbolik yang signifikan, tetapi tidak cukup.

Tujuan pekerjaan umumnya tidak berubah setiap tahun kecuali upah layak, kepastian kerja, jaminan sosial, dan penghapusan sistem kontrak atau outsourcing. Di balik pemberhentian buruh, ada keresahan nyata tentang kebutuhan hidup yang meningkat, kebijakan yang tidak berpihak, dan perlindungan hukum yang kurang terhadap hak-hak dasar pekerja.

Tantangan baru di era teknologi telah berlalu. Banyak pekerja saat ini bekerja di sistem ekonomi seperti driver ojek daring, kurir aplikasi, dan freelancer digital, yang seringkali tidak dianggap sebagai pekerja secara formal. Mereka bekerja tanpa jaminan kesehatan, jaminan pendapatan, dan kesempatan untuk bernegosiasi yang adil.

Jika negara gagal mengatur hubungan antara pemilik platform dan karyawannya, digitalisasi akan menimbulkan ketidaksamaan selain menciptakan peluang. Ini adalah suara-suara ini yang sekarang juga muncul dalam peringatan Hari Buruh.

Hari Buruh bukan hanya masalah serikat pekerja dan buruh; ini adalah panggilan bagi seluruh masyarakat untuk merenungkan jalan menuju kemajuan yang adil. Karena buruh merupakan komponen penting dalam pembangunan ekonomi negara, suara mereka akan tetap tidak terdengar selama kemajuan ekonomi terhambat.

Negara harus memastikan regulasi ketenagakerjaan yang adil, memfasilitasi percakapan sosial, dan memastikan bahwa kemajuan ekonomi juga menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik bagi para pekerja. Di sisi lain, masyarakat luas harus mendukung budaya kerja yang sehat, moral, dan manusiawi.

"1 Mei: Satu Suara yang Tak Pernah Padam" adalah peringatan bahwa perjuangan buruh tidak selesai. Ada suara yang terus menuntut perubahan di balik gaji rendah, beban kerja tinggi, dan keamanan kerja yang rapuh.

Suara yang konsisten, meskipun tidak selalu terdengar nyaring. Suara yang berbicara bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan kerja yang lebih adil bagi semua orang.