Konten dari Pengguna

"Indonesia’s Fish Stock Puzzle" (#1)

NORA AKBARSYAH

NORA AKBARSYAH

Dosen Program Studi Perikanan Laut Tropis, FPIK, Universitas Padjadjaran Fisheries Management, Small Scale Fisheries, Sustainable Fisheries

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NORA AKBARSYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi Nora Akbarsyah 2022
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi Nora Akbarsyah 2022

Exploring the Complexities Behind Indonesia Marine Stock Assessments

Laut Indonesia adalah raksasa sumberdaya ikan yang sangat besar. Data perikanan memegang peranan yang sangat penting dalam perumusan dan pengambilan kebijakan pada sektor perikanan tangkap. Kualitas, kelengkapan dan ketersediaan data sangat menentukan efektivitias penilaian stok ikan dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan perikanan tangkap kedepan. Kelengkapan data seperti data jenis dan jumlah hasil tangkapan, ukuran ikan, hasil tangkapan pada per alat tangkap atau per kapal, dan juga hasil tangkapan pada tiap trip operasi penangkapan.

Pendekatan ilmiah dalam menentukan kebijakan juga dapat dibantu dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Digitalisasi data tangkapan dan pelacakan aktivitas penangkapan, telah terbukti meningkatkan akurasi penilaian stok dan mendukung kebijakan berbasis indikator seperti total allowable catch (TAC) dan produktivitas spasial.

Digitalisasi untuk dalam perikanan tangkap termasuk di dalamnya pembaruan data produksi ikan setiap hari serta update data jumlah armada akan sangat membantu dalam pelaksanaan Penangkapan Ikan yang Terukur (PIT). Kebijakan PIT membutuhkan data produksi perikanan dan effort yang akurat. Tanpa data ini penentuan batasan kuota penangkapan akan tetap abu-abu.

Digitalisasi bukan hal yang mudah dilakukan pada masyarakat perikanan Indonesia, tetapi bukan hal mustahil juga untuk diterapkan. Peran berbagai pihak baik pemerintah, dinas terkait, akademisi serta masyarakat sendiri butuh untuk bersinergi bersama mewujudkannya. Pemerintah harus lebih jeli melihat dan mengamati kenyataan di Lapang bahwa data yang tercatat belum sepenuhnya lengkap. Hal ini akan menyulitkan para akademisi dan peneliti dalam membuat sebuah analisis baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek yang dibutuhkan sebagai dasar dalam penentuan kebijakan.

Keterbatasan pun dihadapi oleh para petugas pencatat data di lapang. Jumlahnya yang terbatas jika dibandingkan dengan kapasitas bongkar muat TPI memberikan dampak pada kelengkapan data tersebut. pada TPI di pelabuhan yang besar masih memungkinkan untuk melaksanakan hal tersebut. Tetapi tidak untuk TPI-TPI kecil yang petugasnya sedikit. Mengingat ada banyak TPI dan pelabuhan yang waktu proses bongkar dan lelang hasil tangkapan sepanjang hari. Hal ini perlu menjadi perhatian berbagai pihak.

Tantangan lain yang ada pada perikanan kita adalah lebih dari 80% perikanan tangkap Indonesia didominasi oleh small-scale fisheries atau perikanan skala kecil. Perikanan ini beroperasi dengan kapal yang berukuran di bawah 5 Gross Tonnage. Perikanan ini cenderung menggunakan teknologi konvensional dan tidak jauh dalam memilih daerah penangkapan ikan. Pada beberapa daerah seperti Pangandaran, Jawa Barat, tidak semua hasil tangkapan dari alat tangkap perikanan skala kecil ini terlaporkan. Tetapi juga ada banyak pula yang dengan kesadaran penuh mengikuti prosedur lelang hasil tangkapan di TPI sehingga hasil tangkapannya tercatat.

Hal ini kemungkinan besar juga banyak terjadi mengingat luasnya pesisir Indonesia.