Konten dari Pengguna

Mengulik Perjalanan Hidup Kakak-beradik dalam Novel Layar Terkembang

Nova Pebriyani

Nova Pebriyani

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nova Pebriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Shutterstock

Pada awal abad ke-20 sastrawan bernama Sutan Takdir Alisjahbana menghasilkan sebuah novel roman yang berjudul Layar Terkembang pada masa Pujangga Baru, novel ini mengangkat atau medorong semangat untuk orang yang bercita-cita tinggi dan juga kebebasan dalam berpendapat pada masa itu. Novel roman klasik yang menceitakan tentang perjuangan dan pergerakan seorang perempuan intelektual untuk kemerdekaan bangsa dan tanah airnya walau dikemas dalam jalinan cinta segitiga tentunya memiliki cerita yang unik dan seru di dalamnya. Novel ini diterbitkan tahun 1937 di Balai Pustaka dengan nomor ISBN 979-407-065-3.

Kisah Tuti dan Maria

Novel Layar Terkembang menceritkan kisah kakak beradik yang bernama Tuti dan Maria tentu mereka adalah tokoh utama dalam novel ini, mereka adalah putri dari Raden Wiria Atmaja, setelah sepeninggalan istrinya ia tinggal bersama dengan 2 orang putrinya yang belum menikah, yaitu Tuti dan Maria (Tuti adalah kakak dan Maria adalah adiknya). Keduanya memiliki sifat yang jauh berbeda Tuti digambarkan di dalam cerita adalah orang yang tidak mudah kagum, mandiri, dan jarang memuji. Jika diibaratkan dengan bahasa zaman sekarang adalah jutek. Sedangkan Maria digambarkan di dalam cerita adalah orang yang ceria dan mudah kagum. Jika diibaratkan dengan bahasa zaman sekarang adalah excited dengan suatu hal. Namun selepas dari itu semua Tuti dan Maria saling melengkapi dan hidup dengan rukun dan saling menghargai.

Tuti adalah seorang guru dan mengajar di H.I.S Arjuna di Petojo sedangkan Maria masih bersekolah di H.B.S Carpentair Alting Stichting. Tuti sangat aktif menyuarakan pendapat tentang kesetaraan wanita di masa isu yang katanya wanita hanya dituntut berada di dapur, sumur, dan kasur saja. Lalu, ia juga bergabung dalam organisasi dan ketika ada konferensi nasional Tuti selalu berorasi dengan semangat. Tidak sedikit lelaki yang ini meminangnya namun itu semua di tolak oleh Tuti karena tidak ingin kebebasannya hilang jika sudah menjadi istri.

Sedangkan Maria adalah wanita yang sering menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang seperti, menikmati alam, tanaman bunga, membaca cerita percintaan, dan mencari cinta yang ia harap bisa sampai ke pelaminan. Maria adalah wanita yang ceria, lincah, dan periang siapapun yang dekat dengannya pasti akan nyaman dengan sikap cerianya tersebut. Sehingga sampai pada apa yang diharapkan Maria, ia menaruh rasa cinta pada seorang lelaki bernama Yusuf. Yusuf adalah mahasiswa kedokteran di jakarta, pada saat pertama kali mereka bertemu di pasar ikan bersama sang kakak. Sejak saat itu Maria menjalin hubungan denga Yusuf dan mereka begitu saling mencintai, namun ternyata itu membuat Tuti lebih sering malamun karena dirinya pun ingin memiliki kekasih seperti sang adik. Sampai ada seorang lelaki bernama Supomo yang mengirimkan surat cinta utuk Tuti, tentu Tuti menolaknya sebab, Supomo bukan idamannya. Sejak itu Tuti sudah malas untuk memikirkan kekasih, ia lebih memilih menyibukan dirinya di organisasi, membaca buku, dan bekerja saja.

Ternyata hubungan Maria dan Yusuf benar-benar serius hingga mereka memutuskan untuk bertunangan dan menjalin rumah tangga yang bahagia, damai, dan penuh rasa cinta. Namun siapa yang dapat menduga hal menyedihkan terjadi diantara mereka. Saat ingin menjelang pernikahan Maria terkena penyakit TBC dan malaria, tentu hal itu membuat hati Yusuf sangat sedih. Maria dirawat di rumah sakit, hingga berangsur lama sakit yang di deritanya, Maria merasa ia tidak kuat untuk melawan TBC dan malaria tersebut karena semakin hari semakin memburuk. Sang kakak yaitu Tuti sangat baik dalam merawatnya dan tentu berharap sang adik bisa sembuh, ia dan Yusuf setiap hari datang untuk merawat orang yang sama-sama mereka cintai dan berharap Maria bisa sembuh, setiap Tuti dan Yusuf datang sangat terlihat pancaran cahaya hidup di mata Maria yang kian hari semakin kurus dan pucat. Menurut penuturan sang dokter sakit yang diderita sangatlah berbahaya terutama pada malarilah yang membua Maria menjadi lemas dan sering demam. Mendengar penuturan dokter Tuti dan Yusuf sadar bahwa kesembuhan dan pulih seperti sedia kala sangatlah berat.

Semakin hari semakin memburuk Yusuf lebih banyak memberikan waktu untuk sang kakak-beradik itu agar menikmati kebersamaan. Senja yang turun di tanah Pasundan indah penuh warna yang mencolok penglihatan, Tuti dan Yusuf berada disisi Maria sampai pada hari itu belum ada tanda-tanda perkembangan baik dari Maria tubuhnya semakin kering dan wajahnya semakin tirus. Tuti terlihat menahan emosinya agar tangis tidak tumpah di depan adik yang sangat ia cintai. Sore tadi dokter yang menangani Maria membisiskan kabar yang menggoncangkan hati Yusuf yaitu, penyakit Maria bertambah parah dan sepertinya ia tidak akan bertahan lama dan dokter sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk mengobati Maria.

Hingga hari di mana ditakuti Tuti dan Yusuf pun terjadi, Maria menghebuskan nafas terakhirnya dengan pesan terakhir yang menyuruh agar Tuti dan Yusuf bertunngan saja.

“Saya tidak rela jika kalian berpisah setelah aku meninggal. Sungguh itulah keinginanku di dunia ini, itulah yan bisa membuatku tenang meninggalkan kehidupan.” Setelah mengatakan itu Maria berusaha menyatukan tangan mereka.

“Maria apa yang kau katakan. Kau seolah orang yang putus harapan. Adikku tidak boleh cepat menyrah. Semangatlah, semua akan kembali normal, engkau pasti sembuh, percayalah! Tidak perlu kau berpikir terlalu jauh.” Tukas Tuti sembari menarik tangannya sedangkan Yusuf hanya terdiam mengelus kepala Maria dengan penuh rasa sayang. Dialog tersebut adalah pesan terakhir yang Maria katakan kepada Tuti dan Yusuf, hingga sampai hari pemakaman Tuti dan Yusuf masih terpukau di hadaan makam maria.

Lima hari lagi Tuti dan Yusuf aan menikah, Tuti yang dua kali menolak lamaran lelaki kini menerima lamaran Yusuf yang juga pernah bertunangan dengan sang adik, Maria. Mereka merasa keduanya ada kecocokan yang membuat mereka bersedia melangkah ke jenjang selanjunya sesuai permintaan Maria. Mungkin selama Maria dirawat Tuti serta Yusuf beberapa kali membesuk bersama-sama tanpa mereka sadari dari situ telah terjalin ikatan halus diantara keduanya. Hingga sampai mereka menikah dan hidup selamanya.

KESIMPULAN

Dari cerita tersebut banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil di dalamnya dari mulai keakuran antara kakak dan adik yang dibaluti cinta dan sayang dari keduanya, pasangan hidup, hingga takdir sang penguasa. Dari tokoh Maria dapat kita ambil bahwa ikhlas adalah jalan terbaik yang dapat di ambil meskipun ikhlas begitu sangat sulit untuk dilakukan, menerima takdir dengan lapang dada nantinya akan membawa kita pada kebahagiaan yang mungkin tidak terduga. Dari Tuti kita dapat mengambil pelajarannya bahwa sangatlah indah jika hidup saling menjaga, mencintai, dan saling menyayangi saudara, dan merelakan orang yang begitu sangat dicintai sangatlah berat, menjalin pernikahan dengan orang yang sangat dicinti sang adik bukanlah hal mudah. Namun selepas itu semua Tuti, Maria, dan Yusuf pasti akan sama-sama bahagia meskipun berbeda dunia.