Tim PkM UI Berikan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dan Pembuatan Teh Batang Naga

Karyawan swasta, suka baca buku dan nonton pertandingan olahraga Pendidikan sastra Inggris di UIN Jakarta
Konten dari Pengguna
30 Juli 2022 21:27
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Noval Kurniadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran UI di SMPN 1 Cluring (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
zoom-in-whitePerbesar
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran UI di SMPN 1 Cluring (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
ADVERTISEMENT
Hidup sehat dan berusia panjang tentu menjadi harapan setiap insan. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, tubuh kita akan mengalami penurunan fungsi dan akhirnya berkembang menjadi penyakit degeneratif, seperti hipertensi, asam urat dan diabetes. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengetahui status kesehatan tubuh, minimal melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
ADVERTISEMENT
Pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Indonesia. Tim PkM ini terdiri dari gabungan dosen dan mahasiswa dari Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran UI yang melakukan pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan dan pembuatan teh batang naga di Desa Kradenan Kecamatan Purwohardjo, Kelurahan Penganjuran dan SMPN 1 Cluring, Banyuwangi selama 3 hari (20-22 Juli 2022).
Lokasi pengabdian masyarakat di Desa Kradenan Kecamatan Purwohardjo (kiri), Kelurahan Penganjuran (kanan), dan SMPN 1 Cluring Kabupaten Banyuwangi (bawah) (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi pengabdian masyarakat di Desa Kradenan Kecamatan Purwohardjo (kiri), Kelurahan Penganjuran (kanan), dan SMPN 1 Cluring Kabupaten Banyuwangi (bawah) (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
Banyuwangi saat ini memiliki program khusus yaitu "Banyuwangi Rebound". Kepala Kelurahan Penganjuran Yuda Teguh Siswanto, S.STP, M.M, Kepala Desa Kradenan Supriyono dan Kepala Sekolah SMPN 1 Cluring Sri Wahju Prihatin, S.Pd., M.Pd. menginformasikan bahwa program “Banyuwangi Rebound” ini memiliki tiga pilar utama yaitu tanggap Covid-19 melalui vaksinasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara umum.
ADVERTISEMENT
Kegiatan PkM ini diketuai oleh Dr. apt. Anton Bachtiar, M.Biomed dari Fakultas Farmasi UI. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pemeriksaan kesehatan seharusnya secara rutin dilakukan, karena kita terkadang tidak menyadari ada beberapa parameter yang nilainya sudah di atas batas normal, terutama tekanan darah, asam urat, kolesterol total dan glukosa darah.
Dr. apt. Anton Bachtiar, M.Biomed dan tim Pengabdian Kepada Masyarakat UI sedang melakukan pemeriksaan kesehatan (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
zoom-in-whitePerbesar
Dr. apt. Anton Bachtiar, M.Biomed dan tim Pengabdian Kepada Masyarakat UI sedang melakukan pemeriksaan kesehatan (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
Dari total sekitar 200 masyarakat yang ikut dalam kegiatan ini, ternyata hasilnya ada sebagian yang memiliki tekanan darah, asam urat, kolesterol total dan glukosa sewaktu yang tinggi. Sebagai tambahan informasi nilai normal glukosa darah sewaktu yang normal maksimal 140mg/dL, tekanan darah 120/80 mgHg, kadar kolesterol total maksimal 200mg/dL dan asam urat 6-7 mg/dL. Dari hasil wawancara dengan beberapa masyarakat, pemicunya adalah pola hidup dan pola makan yang mengandung lemak tinggi, glukosa tinggi, dan purin tinggi.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini tentulah dapat memicu terjadinya penyakit sindrom metabolik atau yang dikenal sebagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, hiperkolesterolemia, hiperurisemia dan diabetes melitus yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit kardiovaskular atau kita kenal sebagai penyakit jantung. Sarannya, masyarakat harus menjaga pola hidup dan mengonsumsi makanan yang bergizi.
Dr. Ade Arsianti, S.Si., M.Si dan Linda Erlina, M.Farm sedang memberikan materi pengenalan obat herbal (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
zoom-in-whitePerbesar
Dr. Ade Arsianti, S.Si., M.Si dan Linda Erlina, M.Farm sedang memberikan materi pengenalan obat herbal (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
Salah satu cara menjaga kesehatan bisa dengan memanfaatkan tanaman atau herbal yang ada di sekitar kita. Kebetulan disampaikan materi mengenai pengenalan obat herbal oleh Dr. Ade Arsianti, S.Si., M.Si dan Linda Erlina, M.Farm. Sebagai pengenalan awal, obat herbal terbagi menjadi 3 jenis yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Secara umum, obat herbal memiliki efek samping yang lebih minim daripada obat sintetik, oleh karenanya mengonsumsi obat herbal cenderung lebih aman. Namun penggunaan obat herbal tidak boleh sembarangan juga, tetap harus berkonsultasi ke dokter.
ADVERTISEMENT
Salah satu herbal yang banyak sekali ditemui di daerah Banyuwangi adalah tanaman naga. Di sepanjang jalan bisa ditemui tanaman naga yang ditanam oleh warga sekitar baik di samping rumah atau di sawah. Biasanya oleh masyarakat sekitar hanya memanfaatkan buahnya untuk dimakan secara langsung.
apt. Tri Wahyuni, M.Biomed., Ph.D memberikan pelatihan pembuatan teh kesehatan dari batang tanaman naga di Kelurahan Penganjuran (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
zoom-in-whitePerbesar
apt. Tri Wahyuni, M.Biomed., Ph.D memberikan pelatihan pembuatan teh kesehatan dari batang tanaman naga di Kelurahan Penganjuran (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
Salah satu dari Tim Pengabdi Masyarakat ini, apt. Tri Wahyuni, M.Biomed., Ph.D telah melakukan penelitian untuk mengkaji khasiat batang naga untuk kesehatan. Berdasarkan hasil penelitiannya, batang naga memiliki manfaat sebagai antiperadangan dan antioksidan.
Produk teh kesehatan dari batang tanaman naga (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
zoom-in-whitePerbesar
Produk teh kesehatan dari batang tanaman naga (Sumber Foto: Dokumentasi Tim PkM UI)
Pada kegiatan pengabdian masyarakat ini, kami diajak untuk langsung melihat proses pembuatan teh dari batang naga. Batang naga yang telah dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan, lalu dihaluskan menjadi serbuk dan dikemas dalam kemasan teh. Tentunya kita semua berharap ke depannya akan teh batang naga ini dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas dan juga menjadi salah satu sumber kearifan lokal untuk menjaga kesehatan tubuh.
ADVERTISEMENT
Sumber foto:
Semua foto dalam tulisan ini merupakan dokumentasi yang diperoleh dari Tim PkM UI.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020