Konten dari Pengguna

Kenal Nama, Tak Kenal Orangnya: Potret Masyarakat Modern

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novia Dhita Rahmayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Beberapa waktu lalu, listrik di lingkungan tempat tinggal saya sempat padam selama beberapa jam. Karena suasana cukup gelap, beberapa warga akhirnya keluar rumah. Anak-anak bermain di halaman, orang tua duduk di teras sambil mengobrol, dan sesekali terdengar tawa dari berbagai sudut gang. Anehnya, momen seperti itu justru terasa langka. Ketika listrik kembali menyala, semua orang kembali masuk ke rumah masing-masing. Gang yang tadi ramai mendadak sepi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Peristiwa sederhana itu membuat saya berpikir. Mengapa kita bisa tinggal bertahun-tahun di lingkungan yang sama, tetapi tidak benar-benar mengenal orang yang tinggal beberapa rumah dari tempat kita? Padahal, setiap hari kita saling melihat nama di grup WhatsApp RT, memberi tanda jempol pada pengumuman, atau sekadar membaca pesan tanpa pernah berbincang secara langsung.

Fenomena "tetangga tapi tidak saling kenal" mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya cukup besar bagi kehidupan sosial. Teknologi memang membuat komunikasi menjadi lebih cepat, namun tidak selalu membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih dekat. Interaksi yang dahulu terjadi secara spontan di depan rumah, pos ronda, atau warung kini perlahan digantikan oleh percakapan singkat di layar ponsel.

Ironisnya, kita sering merasa sudah mengenal lingkungan hanya karena aktif di grup pesan. Padahal, mengenal nama seseorang berbeda dengan mengenal kehidupannya. Saat ada warga yang sakit, mengalami musibah, atau membutuhkan bantuan mendadak, tidak sedikit orang yang baru menyadari bahwa mereka bahkan belum pernah berbicara langsung dengan tetangganya sendiri.

Perubahan ini juga memengaruhi rasa memiliki terhadap lingkungan. Ketika hubungan sosial semakin tipis, kepedulian terhadap ruang bersama ikut berkurang. Orang menjadi lebih mudah bersikap acuh terhadap kebersihan lingkungan, keamanan, atau kegiatan warga karena merasa tidak memiliki ikatan emosional dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, kehidupan bermasyarakat tidak hanya dibangun oleh aturan, tetapi juga oleh kedekatan yang tumbuh melalui interaksi sehari-hari.

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada teknologi. Grup WhatsApp, media sosial, atau aplikasi komunikasi memang mempermudah koordinasi. Yang menjadi persoalan adalah ketika komunikasi digital sepenuhnya menggantikan pertemuan nyata. Hubungan sosial akhirnya berubah menjadi hubungan administratif: saling mengetahui informasi, tetapi tidak saling mengenal sebagai sesama manusia.

Karena itu, membangun kembali interaksi langsung tidak selalu membutuhkan program besar. Hal-hal sederhana seperti menyapa tetangga saat berpapasan, menghadiri kerja bakti, berbincang beberapa menit di depan rumah, atau melibatkan anak-anak dalam permainan bersama sudah cukup untuk menghidupkan kembali ruang sosial yang mulai menghilang. Kedekatan sosial lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan dari banyaknya pesan yang terkirim di grup.

Pada akhirnya, masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang memiliki grup percakapan paling aktif, melainkan masyarakat yang masih memiliki keberanian untuk saling menyapa, mengenal, dan peduli satu sama lain. Sebab, ketika hubungan antartetangga hanya hidup di layar ponsel, kita mungkin semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin dekat sebagai manusia.