Konten dari Pengguna

Kota Kita Tidak Pernah Tidur, Tapi Apakah Ekonominya Benar-Benar Tumbuh?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novia Dhita Rahmayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Ada sesuatu yang menarik ketika melihat kota pada malam hari.

Lampu toko masih menyala. Warung makan dipenuhi orang. Pengemudi ojek online masih mondar-mandir mengantar pesanan. Minimarket tidak pernah benar-benar sepi. Di jalan, kendaraan masih bergerak seperti siang belum selesai.

Kalau melihat pemandangan seperti itu, kita mungkin akan berpikir bahwa ekonomi sedang baik-baik saja.

Kota terlihat hidup. Uang berpindah tangan. Orang bekerja, membeli makanan, mengirim barang, berjualan, dan menggunakan berbagai jasa.

Tetapi kemudian muncul satu pertanyaan yang agak mengganggu:

Apakah kota yang semakin ramai otomatis berarti ekonominya semakin tumbuh?

Saya rasa, jawabannya tidak sesederhana itu.

Selama ini, kita sering membayangkan pertumbuhan ekonomi seperti sebuah kota yang semakin sibuk. Semakin banyak toko, semakin banyak orang berbelanja, semakin banyak kendaraan di jalan, lalu kita menyimpulkan bahwa ekonomi pasti berkembang.

Padahal, dalam teori ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berbicara tentang seberapa ramai aktivitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi lebih berkaitan dengan peningkatan kemampuan suatu perekonomian menghasilkan barang dan jasa dari waktu ke waktu.

Artinya, ramai belum tentu tumbuh.

Bayangkan sebuah warung yang setiap hari penuh pembeli. Pemiliknya bekerja dari pagi sampai malam. Ia dibantu beberapa orang. Uang terus berputar.

Namun selama bertahun-tahun, jumlah produksi, pendapatan, dan kemampuan usahanya tidak banyak berubah. Pemilik warung hanya bekerja lebih lama untuk mempertahankan kondisi yang sama.

Apakah warung itu berkembang?

Belum tentu.

Di sinilah kita sering keliru membedakan antara aktivitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.

Aktivitas ekonomi adalah sesuatu yang mudah kita lihat. Ada transaksi, ada orang bekerja, ada barang yang dibeli, ada jasa yang digunakan.

Sementara pertumbuhan ekonomi memiliki pertanyaan yang lebih dalam: apakah kemampuan menghasilkan barang dan jasa meningkat?

Misalnya, seorang pekerja menghabiskan sepuluh jam untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya bisa selesai dalam enam jam. Dari luar, ia terlihat semakin sibuk.

Tetapi sibuk tidak selalu berarti produktif.

Justru, kalau pekerjaan yang sama membutuhkan waktu lebih panjang tanpa menghasilkan output yang lebih besar, ada sesuatu yang perlu dipertanyakan.

Menurut saya, ini adalah bagian yang sering luput ketika kita membicarakan ekonomi.

Kita terlalu mudah menganggap kesibukan sebagai tanda keberhasilan.

Padahal seseorang bisa bekerja keras tanpa mengalami peningkatan kesejahteraan. Sebuah usaha bisa ramai tanpa mengalami perkembangan yang berarti. Bahkan sebuah kota bisa penuh aktivitas ekonomi tetapi tetap menghadapi persoalan produktivitas, pekerjaan berkualitas rendah, dan pendapatan yang tidak banyak berubah.

Kota yang tidak pernah tidur belum tentu kota yang ekonominya sedang berlari. Bisa saja kota itu hanya sedang bekerja keras untuk tetap berdiri.

Hal ini menjadi semakin menarik ketika melihat perubahan ekonomi akibat teknologi.

Sekarang, hampir semua hal bisa dilakukan dengan lebih cepat. Pesan makanan tinggal beberapa sentuhan. Barang bisa datang ke rumah tanpa kita pergi ke toko. Pembayaran dilakukan secara digital. Penjual dapat memasarkan produk melalui media sosial tanpa harus memiliki toko besar.

Kita memang menjadi lebih cepat.

Tetapi pertanyaannya: apakah kita juga menjadi lebih produktif?

Teknologi seharusnya membantu menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama, atau menghasilkan sesuatu yang lebih baik dengan waktu dan biaya yang lebih efisien. Jika teknologi hanya membuat kita lebih cepat melakukan transaksi konsumsi, manfaatnya terhadap produktivitas ekonomi tentu berbeda.

Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam melihat promosi, membeli barang, menjual kembali barang, atau mengantarkan pesanan. Semua itu merupakan aktivitas ekonomi.

Namun pertumbuhan ekonomi yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar transaksi yang semakin banyak. Dibutuhkan peningkatan produktivitas, investasi, keterampilan tenaga kerja, inovasi, dan kemampuan menghasilkan nilai tambah.

Karena itu, saya merasa ada sesuatu yang perlu diubah dalam cara kita melihat perkembangan sebuah kota.

Jangan hanya bertanya, “Seberapa ramai kotanya?”

Tetapi tanyakan juga, “Apa yang sebenarnya dihasilkan dari keramaian itu?”

Apakah pekerjanya mendapatkan pekerjaan yang lebih berkualitas?

Apakah usaha kecil mampu naik kelas?

Apakah produktivitas tenaga kerja meningkat?

Apakah pendapatan masyarakat tumbuh secara berkelanjutan?

Apakah teknologi membuat pekerjaan lebih efisien?

Dan yang tidak kalah penting, apakah pertumbuhan tersebut dirasakan oleh masyarakat biasa?

Sebab angka pertumbuhan ekonomi bisa terlihat indah di layar, tetapi kehidupan ekonomi masyarakat justru terlihat dari hal-hal sederhana.

Dari seorang pedagang yang mampu memperbesar usahanya.

Dari pekerja yang memperoleh keterampilan baru dan pekerjaan yang lebih produktif.

Dari usaha kecil yang tidak hanya bertahan, tetapi mampu meningkatkan kapasitas produksinya.

Dari anak muda yang bukan hanya menjadi konsumen ekonomi digital, tetapi juga mampu menciptakan sesuatu di dalamnya.

Bagi saya, di situlah makna pertumbuhan ekonomi menjadi lebih nyata.

Kota memang membutuhkan aktivitas. Kita membutuhkan perdagangan, jasa, transportasi, restoran, pasar, dan berbagai jenis pekerjaan. Semua itu membuat ekonomi bergerak.

Tetapi ekonomi tidak seharusnya hanya bergerak.

Ekonomi juga harus berkembang.

Sebab ada perbedaan besar antara bergerak dan maju.

Sebuah roda bisa terus berputar tanpa membawa kendaraan ke mana-mana. Begitu juga ekonomi. Transaksi bisa terus terjadi, orang bisa terus bekerja, dan kota bisa terus ramai, tetapi tanpa peningkatan produktivitas dan kapasitas produksi, kita mungkin hanya sedang memutar roda yang sama.

Mungkin karena itu, ketika melihat kota yang masih ramai pada tengah malam, saya tidak lagi langsung berpikir bahwa ekonominya sedang tumbuh.

Saya justru bertanya:

Berapa banyak dari keramaian ini yang benar-benar menciptakan nilai baru?

Dan mungkin, pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar melihat apakah kota kita semakin sibuk.

Karena pada akhirnya, tujuan ekonomi bukan membuat manusia terus bekerja tanpa henti.

Tujuannya adalah membuat manusia mampu menghasilkan lebih banyak nilai, memperoleh kehidupan yang lebih baik, dan menikmati hasil dari pertumbuhan tersebut.

Jadi, biarkan kota tetap hidup.

Biarkan toko tetap menyala dan jalanan tetap bergerak.

Tetapi jangan sampai kita salah mengartikan kota yang tidak pernah tidur sebagai ekonomi yang pasti tumbuh.

Sebab ekonomi yang benar-benar tumbuh bukan hanya ekonomi yang semakin ramai.

Ia adalah ekonomi yang membuat kemampuan masyarakat untuk menghasilkan, memperoleh pendapatan, dan hidup lebih baik ikut meningkat.