Inspirasi Death Stranding: Berjalan & Membangun Perlahan atas Kerasnya Hidup

Penulis dan culture enthusiast. Dosen di Universitas Sunan Giri Surabaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Novritsar Pakpahan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa hidup ini rasanya berat sekali? Seperti berjalan sendirian di tengah badai, memikul beban puluhan kilogram di pundak, sementara jalan di depan tampak kabur dan penuh rintangan. Kalau kamu sedang berada di fase itu, mari duduk sejenak. Saya ingin mengajak kamu berselancar ke sebuah dunia pasca-kiamat lewat mahakarya Hideo Kojima: Death Stranding.
Bagi sebagian orang, game mungkin hanya sarana melarikan diri dari realitas. Tapi bagi saya, game ini adalah cermin retak dari dunia kita hari ini--sekaligus sebuah surat cinta tentang harapan.
Dunia yang Hancur dan Paralelisme Realitas Kita dengan Death Stranding
Bayangkan sebuah dunia di mana langit tidak lagi ramah. Hujan yang turun bukan membawa kesegaran, melainkan penuaan dini dan kehancuran. Dalam Death Stranding, hujan asam mematikan ini disebut Timefall. Manusia yang terkena akan menua dalam hitungan menit, dan benda-benda akan berkarat dalam sekejap. Lebih ngeri lagi, setiap makhluk hidup yang mati akan berubah menjadi limbah gelap bernama Beached Things (BT)--sosok tak kasat mata yang siap menelan apa saja. Amerika yang megah pun bubar.
Di tengah kekacauan ini, kita berkenalan dengan Sam Bridges, seorang porter atau kasarnya: kurir paket yang berjalan kaki menyusuri benua yang sepi demi mengantar logistik.
Kondisi distopia dalam game ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kenyataan kita sekarang. Kita tidak perlu menunggu Timefall untuk melihat kehancuran. Coba tengok sekitar kita. Berdasarkan penelitian terbaru dari Rini Aminarti dkk. (2025), penumpukan sampah akibat ulah manusia dan kebiasaan membuang limbah sembarangan telah merusak ekosistem sungai kita secara ekstrem, memicu berbagai penyakit, hingga berujung pada kematian. Ironisnya, lingkungan sering kali diremehkan. Masyarakat cenderung menutup mata, menolak untuk menyadari bahaya ini, sampai semuanya sudah terlambat.
Dari Langkah Kecil Menuju Perubahan Nyata
Tentu, ada manusia yang sadar. Di dunia nyata, kita melihat gerakan-gerakan kecil seperti plogging--aktivitas berlari santai sambil memungut sampah yang ditemui di jalan, seperti yang dibahas dalam jurnal Pasaribu (2024). Tindakan ini mulia, berfokus pada apa yang bisa dilakukan oleh diri sendiri.
Sama seperti Sam Bridges di awal cerita. Dia sinis, enggan peduli pada dunia, dan hanya ingin fokus bertahan hidup sendirian sebagai kurir. Namun, langkah kecil dan sikap apatis itu ternyata tidak cukup. Dunia sekitar tetap saja kacau jika kita bergerak sendiri-sendiri.
Kita dipaksa bukan hanya untuk menghadapi kerasnya hidup, tetapi harus aktif mengubahnya.
Sam akhirnya ditarik ke dalam misi yang jauh lebih kompleks oleh organisasi Bridges. Tugasnya bukan lagi sekadar mengantar paket kosmetik atau makanan, melainkan menyambung kembali jaringan komunikasi antar-kecamatan (simpul wilayah) guna menyatukan United Cities of America (UCA) yang terpecah belah.
Awalnya Sam menolak. Namun, takdir memaksanya melihat ironi yang menyakitkan. Ibunya meninggal akibat residu Timefall. Ia juga dihadapkan pada keberadaan Bridge Babies (BB)--bayi prematur dalam tabung inkubator portabel yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi keberadaan BT. Kemurnian BB yang berada di batas antara hidup dan mati memungkinkannya melihat hal gaib. Melihat kepolosan BB dan kepedihan dunia, Sam sadar: manusia tidak bisa selamat jika terus terisolasi. Kita harus terhubung satu sama lain untuk bersama-sama memutuskan rantai bencana ini.
Menikmati Perjalanan yang Lambat
Menariknya, game ini tidak instan. Kamu tidak akan dibekali senjata super canggih sejak awal untuk langsung membasmi monster. Kojima memaksa kita untuk berjalan kaki.
Di awal game, kamu harus mengatur keseimbangan muatan kargo seberat hingga 200 kg, melintasi jarak 30 sampai 50 kilometer demi satu alamat paket. Salah melangkah sedikit saja di atas batu, Sam akan jatuh terjerembap dan barang-barang akan rusak. Ini adalah metafora yang luar biasa tentang kehidupan. Kerasnya hidup harus diubah, tetapi perjalanannya--baik awal maupun akhir-memang harus dijalani secara perlahan. Langkah demi langkah.
Namun, keajaiban terjadi justru saat kita mulai terhubung dengan orang lain. Begitu jaringan UCA di suatu wilayah aktif, para pemain lain (secara asinkronus) mulai bergotong-royong. Tiba-tiba di jalur yang tadinya melelahkan, muncul jembatan, jalan raya, motor, hingga mobil yang dibangun bersama oleh komunitas pemain. Beban yang tadinya berat, perlahan menjadi lebih ringan karena adanya kolaborasi.
Sialnya Hidup Harus Berjalan, tapi Pegang Erat Harapan
Merujuk pada lirik lagu Bernadya yang sedang hangat, "Sialnya hidup harus berjalan", ya, begitulah kenyataannya. Kita tidak bisa menekan tombol pause dalam kehidupan nyata, kita juga tidak bisa mengubah tingkat kesulitan hidup kita menjadi very easy layaknya menu pengaturan di video game.
Namun, ada keindahan tersendiri di dalam proses yang lambat itu. Di dalam game Death Stranding, momen-momen terbaik justru hadir saat kita berjalan pelan, memandangi bukit yang masih hijau, menatap laut biru yang luas di kejauhan, sembari mendengarkan musik latar yang menenangkan. Ditambah lagi, ada kebahagiaan sederhana saat kita mengocok kontroler untuk menenangkan BB di dalam tabung agar dia kembali gembira. Menemukan hal kecil untuk disyukuri di tengah dunia yang hancur adalah sebuah kemewahan.
Seperti yang ditulis oleh kritikus Tom Parker (2023), nilai inti yang paling berharga dari game ini adalah Harapan (Hope).
Hidup ini mungkin keras, lingkungan kita mungkin sedang tidak baik-baik saja, dan tantangan di depan mata terlihat mustahil untuk dilewati. Namun, jangan pernah melepaskan harapan itu. Pegang erat-erat dari mana pun kamu mendapatkannya--baik dari keluarga, teman, gerakan sosial kecil, atau bahkan dari sebuah video game.
Mari melangkah lagi hari ini. Tidak perlu terburu-buru berlari jika kakimu lelah. Berjalanlah perlahan, bangun apa yang bisa kita bangun bersama orang-orang di sekitar kita, dan mari nikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Karena sekecil apa pun langkahmu, kamu sedang bergerak menuju perubahan.
Yuk, coba rasakan sendiri sensasinya dengan memainkan Death Stranding. Siapa tahu, perjalanan Sam Bridges bisa menjadi obat penenang bagi jiwamu yang sedang lelah. Gaskan step-tracking itu!
*Tulisan ini merupakan rangkaian dari seri Inspirasi Game Death Stranding
