Terkungkung sebagai Kanca Wingking, hingga Gaung Emansipasi R.A Kartini

Menulis tentang budaya, identitas, dan keresahan sehari-hari. Alumnus prodi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Antonia Nesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam peringatan Hari Kartini, banyak orang dari berbagai kalangan yang mulai awam dengan istilah feminisme. Feminisme sendiri merupakan gerakan yang berjibaku pada isu perempuan sejak pertengahan abad ke-19. Banyak isu kesetaraan diangkat dan disuarakan demi kehidupan perempuan yang lebih baik. Di Indonesia sendiri, tokoh seperti R.A Kartini, dengan lantang menggaungkan konsep feminisme ini dalam kumpulan suratnya yang dibukukan dengan tajuk Door Duisternis Tot Licht atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Habis Gelap Terbitlah Terang. Semangat dan cita-citanya untuk perempuan Indonesia itu pun menjadi tonggak awal berdirinya gerakan feminisme dan emansipasi bagi kaum perempuan Indonesia.
Semangat emansipasi ini tumbuh oleh karena keterbatasan peran perempuan. Terlebih lagi keterbatasan perempuan untuk mengakses pendidikan. Sebagaimana pepatah Jawa mengatakan perempuan sebagai kanca wingking atau yang dapat diartikan sebagai teman belakang. Perempuan, khususnya di masa penjajahan hingga awal kemerdekaan, dikatakan sebatas mempunyai peranan di sumur, dapur, dan kasur. Bahkan aktivitas perempuan acapkali dicap sebatas macak atau bersolek, masak, dan manak atau melahirkan. Diskursus mengenai fenomena keterbatasan peran perempuan pun mencuat dan banyak berkembang. Revitalisasi nilai filosofi jawa serta kebijakan untuk kesetaraan perempuan pun makin santer terdengar dan digencarkan.
Gerakan feminisme pun merebak sebagai seruan atas ketidakadilan yang dialami perempuan. Perempuan cenderung memiliki peran yang lebih terbatas dibandingkan yang dimiliki oleh laki-laki. Bahkan limitasi terhadap perempuan ini sudah mengakar sejak masa Yunani kuno. Pada masa itu, timbul paham bahwa laki-laki tidak seharusnya mengajarkan perempuan untuk membaca dan menulis. Dikutip dari buku A Brief History of Feminism oleh Antje Schrupp, limitasi pada perempuan rupanya juga berlanjut dengan dibungkamnya penulis perempuan dan penarikan peredaran buku-buku yang ditulis oleh perempuan. Fenomena lain yang sempat menjadi perbincangan bagi banyak penikmat sastra yaitu penulis laki-laki membangun karakter perempuan yang dianggap kurang sesuai. Kemudian pada abad ke-14 hingga ke-18, makin menyeruak perdebatan akan penggambaran perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki. Pada abad ke-18, tepatnya ketika Masa Pencerahan di Eropa dimulai, isu kesetaraan semakin gencar dikumandangkan. Para perempuan semakin ikut andil dan terlibat dalam banyak gerakan sosial seperti Pawai Wanita di Versailles hingga terbentuknya band Riot Grrrl.
Di Indonesia sendiri, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan perempuan muncul dalam masa penjajahan dengan munculnya gerakan perempuan untuk turut bertempur melawan penjajah. Tokoh-tokoh pahlawan seperti Christina Martha Tiahahu, hingga Cut Nyak Dien. Penjajahan dari bangsa Eropa, terlebih kedatangan Belanda, membawa pengaruh terhadap isu penurunan kualitas kehidupan perempuan. Salah satu ketidaksetaraan yang paling terasa bagi perempuan adalah pembatasan kesempatan perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Saat itu, hanya perempuan berdarah biru yang diperbolehkan mengenyam pendidikan. Naasnya, kebanyakan juga harus berhenti bersekolah untuk dinikahkan pada usia yang begitu muda. Oleh karena itu, emansipasi perempuan di Indonesia digaungkan melalui pengadaan pendidikan yang layak. Salah satu tokoh emansipasi yang paling banyak dikenal adalah R.A Kartini. Semangat emansipasi bergelora melalui surat-suratnya kepada Rosa Abendanon, seorang sahabat pena Kartini dari negeri Belanda. R.A Kartini menuliskan keinginannya untuk kemajuan perempuan Indonesia yang cenderung dipandang rendah. R.A Kartini yang merupakan salah seorang putri dari keluarga terpandang, mencoba mendobrak jerat kesesakan atas keterbatasan yang dimiliki perempuan dengan mencoba memberikan akses pendidikan. Cita-citanya itu, diseratkan dalam sejumlah surat. Setelah kepergiannya pada 1904, surat-surat yang ditulis oleh R.A Kartini pun dikumpulkan dan dibukukan.
Njonja soeka jang kami mestilah hendaknja pergi ke Betawi, ialah akan bertjakap-tjakap sendiri dengan orang-orang besar disitoe, oentoek membéla oentoeng nasib perempoean bangsa Boemipoetera.
Saja soeka beranak laki-laki dan perempoean jang akan dipelihara dan diberi pendidikan seperti kehendak hatikoe. Moela-moela saja hendak menghapoeskan 'adat-'adat koeno, jang memandang anak.laki-laki lebih tinggi daradjatnja dari pada anak perempoean. Saja ta' héran melihat kelobaan si laki2, bila saja ingat bagaimana si laki-laki itoe masa ketjilnja, dilebihi pemeliharaannja dari pada anak perempoean, saudaranja. Waktoe ketjil si laki-laki telah diadjar menghinakan anak perempoean.
– Raden Ajeng Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Keinginan Kartini ini sebagai suara ketidakpuasan perempuan terhadap tatanan sosial yang mengadopsi nilai-nilai patriarki. Gerakan emansipasi terhadap perempuan lantas hadir sebagai gerakan untuk membuat perempuan keluar dari kekang tatanan patriarki tersebut. Hal ini sebagai salah satu tanda kehadiran gerakan feminisme di Indonesia. Isu feminisme pun semakin banyak bergaung di Eropa hingga mendunia berkat seorang penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris, Mary Wollstonecraft serta Olympe de Gouges (Marie Gouze), penulis drama asal Prancis yang menulis Declaration of the Rights of Woman and the Female Citizen pada 1791.
Kata feminisme sendiri mulai digunakan sejak abad ke-19 pada lini masa gelombang pertama. Gelombang ini secara resmi dimulai sejak tahun 1840-an, tepatnya saat Konvensi Seneca Falls sebagai konvensi pertama untuk membahas hak-hak perempuan. Perempuan-perempuan Eropa mulai menyuarakan keinginan mereka untuk dipandang serupa dalam payung hukum, khususnya dalam pemilihan umum. Meski memiliki fokus yang berbeda, selama masa gelombang pertama feminisme ini pula, R.A Kartini berusaha memperjuangkan emansipasi perempuan dengan fokus agar perempuan Indonesia, tanpa batasan status sosial dan usia, dapat menempuh pendidikan hingga setinggi-tingginya. Namun, pada tahun 1904, beberapa hari setelah melahirkan putranya, R.A Kartini wafat, meninggalkan semangat emansipasi dalam surat-suratnya. Meskipun begitu, dengung emansipasi tidak sirna begitu saja sepeninggal R.A Kartini. Bahkan semangat emansipasi terus bergema dan berkumandang hingga saat ini.
Setelah meninggalnya R.A Kartini, perjuangannya menuju emansipasi, perlahan-lahan direalisasikan. Dalam beberapa tahun, Sekolah Kartini atau sekolah keputrian didirikan sebagai wujud nyata penerapan emansipasi. Sekolah ini didirikan oleh Yayasan Van Deventer yang hingga saat ini masih terus bergerak dalam bidang pendidikan. Melalui pendidikan bagi perempuan seperti yang dicita-citakan oleh R.A Kartini ini, perempuan Indonesia dapat mengenyam pendidikan. Bahkan kini bisa mencapai bangku sekolah tinggi. Melalui semangat emansipasi ini pula, arti dari filosofi Jawa pun kini dapat dipandang dari sisi yang positif saja bahwa perempuan bukan hanya sekadar kanca wingking (teman belakang) yang tugasnya macak, masak, dan manak. Namun juga sebagai rekan laki-laki untuk bertanggung jawab dan pengontrol dalam keluarga. Dalam peringatan Hari Kartini, harapan akan langgengnya nilai dan semangat R.A Kartini untuk kehidupan perempuan pun semakin bergelora.
