Konten dari Pengguna

Parasomnia: Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui

Nisrina Salsabila Putri

Nisrina Salsabila Putri

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisrina Salsabila Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock

Halo kawan kumparan! Kalian tahu nggak, sih, tidur bisa menjadi cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, loh! Tidur sebagai kebutuhan paling mendasar memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup manusia. Tapi, pernah terbayang nggak, sih, kalau seseorang tidak bisa mendapatkan kualitas tiduk yang baik? Hal ini bisa terjadi jika seseorang mengalami gangguan pada tidur. Salah satunya adalah gangguan tidur parasomnia.

Lantas, apa itu gangguan tidur parasomnia? Apakah sama halnya dengan insomnia? Untuk mengatahui lebih lanjut, yuk, simak penjelasan di bawah ini.

Apa Sih Parasomnia Itu?

Parasomnia adalah sebuah istilah umum atas suatu perilaku yang tidak biasa yang dialami seseorang baik pada saat sebelum, ketika, ataupun selama waktu antara tidur dan bangun. Gangguan tidur ini biasanya ditandai beberapa perilaku loh! Contohnya adanya peristiwa motorik, verbal, atau perilaku abnormal. Perilaku-perilaku yang muncul dapat bervariasi dalam segi karakteristik, tingkat keparahan, dan frekuensi. Umumnya gangguan tidur ini lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa, tetapi keadaan ini telah dicatat di berbagai kelompok usia.

Kalian tau nggak, sih, parasomnia dapat terjadi pada dua tahapan utama dalam tidur, yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Dari hal tersebut, parasomnia diklasifikasikan secara terpisah menurut International Classification of Sleep Disorders-3 (ICSD-3).

Jenis-Jenis Parasomnia

Nah, sebagaimana telah disebutkan tadi, parasomnia diklasifikasikan berdasarkan dua tahapan utama dalam tidur. Akan tetapi, adapula loh parasomnia yang diklasifikasikan ke dalam kelompok “lainnya”.

1. Parasomnia terkait NREM

NREM adalah tiga tahap pertama dalam tidur. Secara kolektif, tahap-tahap ini biasanya berlangsung sekitar 90 menit. Parasomnia terkait NREM paling umum dikenal sebagai gangguan gairah yang terjadi karena adanya transisi yang tidak legkap antara keadaan terjaga dengan tahap-tahap dalam tidur. Parasomnia NREM paling sering terlihat atau dijumpai selama tahap ketiga. Pada tahapan ini biasanya Anda hanya akan mengingat sebagian atau tidak sama sekali mengingat peristiwa yang terjadi ketika bangun. Gangguan-gangguan yang terjadi dapat meliputi:

  • Confusional arousals

  • Sleepwalking (somnambulisme)

  • Sleep terrors

  • Sleep-related eating disorder

2. Parasomnia terkait REM

Apa sih REM itu? REM adalah tahapan tidur yang terjadi setelah tiga tahapan NREM dari siklus tidur. Sebagaimana sebutannya, selama tahap REM mata akan bergerak dengan cepat di bawah kelopak mata dan adanya peningkatan pada detak jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Setelah siklus tidur pertama telah lengkap, tahapan NREM dan REM akan terus berulang setiap 90 menit atau lebih selama sisa malam. Gangguan-gangguan yang terjadi dapat meliputi:

  • REM sleep behavior disorder

  • Recurrent isolated sleep paralysis

  • Nightmare disorder

3. Parasomnia lainnya

Klasifikasi “lainnya” untuk parasomnia didasari atas perilaku yang terjadi selama masa transisi antara terjaga dan tidur, serta dapat terjadi selama tahapan NREM atau REM. Gangguan-gangguan yang terjadi dapat meliputi:

  • Exploding head syndrome

  • Sleep-related hallucinations

  • Sleep enuresis

  • Parasomnia due to a medical disorder

  • Parsomnia due to medical or substance abuse

  • Parasomnia, unspecified

Apa Penyebab Parasomnia?

Ada beberapa pemicu yang menyebabkan parasomnia dapat terjadi, diantaranya:

  • Adanya masalah medis yang mengganggu tidur, seperti restless legs syndrome, narkolepsi, circadian rhythm disorder, periodic limb movement disorder, dan lain sebagainya.

  • Mengonsumsi obat-obatan yang memberikan efek mengantuk

  • Memiliki penyakit neurologis, seperti parkinson, multiple sclerosis, rhombencephalitis, tumor otak, dan lain sebagainya.

  • Adanya gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, PTSD

  • Mengonsumsi atau menggunakan zat-zat terlarang

  • Kurangnya durasi tidur

  • Meningkatnya stres

Lalu, Apa Sih Gejala Dari Parasomnia?

Ternyata selain perilaku abnormal ketika tidur, parasomnia juga memiliki gejala lain nih! Beberapa gejala yang ada, seperti sulitnya tidur di malam hari, lupa dengan aktivitas tertentu, munculnya perasaan bingung ketika terbangun dari tidur, merasa lelah dan mengantuk di siang hari, serta menemukan adanya luka dan memar pada tubuh, tetapi tidak tahu penyebabnya.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Parasomnia?

Kira-kira, langkah apa yang dapat dilakukan? Kalian tau nggak, sih, mengetahui akan riwayat tidur dapat menjadi langkah awal dalam mendiagnonsis parasomnia, loh! Tidak cuma itu, dokter juga dapat menanyakan terkait, riwayat medis, riwayat penggunaan obat dan zat terlalang tertentu yang sedang atau pernah dikonsumsi untuk menentukan pemicu terjadinya parasomsia. Adapula tes yang dapat dijalani untuk membantu mendiagnosis parasomnia, yaitu Polisomnografi.

Apa itu Polisomnografi? Polisomnografi adalah sebuah alat tes yang digunakan untuk mendiagnosis gangguan tidur. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi beberapa tes, yaitu elektroensefalogram (EEG), elektromyogram (EMG), elektrookulogram (EOG), parameter respirasi, elektrokardiogram (ECG), dan saturasi oksigen.

Lalu, Gimana Sih Cara Mengobati Parasomnia?

Pengobatan parasomnia dilakukan tergantung dengan tingkat keparahan gejala dan jenis gangguan yang dialami. Yuk, simak penanganann yang dapat dilakukan!

  • Mengonsumsi obat-obatan, seperti antidepresan, melatonin, dan agonis dopamin. Dengan mengonsumsi obat-obatan dapat membantu dalam mengelola gejala parasomnia yang dialami

  • Menjalani terapi kognitif perilaku (CBT) untuk membantu dalam mengatasi stres, kecemasan, dan meredakan gejala parasomnia

  • Mengatur kondisi tidur, seperti lingkungan tidur dan jadwal tidur dan bangun yang konsisten.

Referensi

Bollu, P. C., Goyal, M. K., Thakkar, M. M., & Sahota, P. (2018). Sleep Medicine: Parasomnias. Missouri medicine, 115(2), 169-175.

Meurling, I. J., Leschziner, G., & Drakatos, P. (2022). What respiratory physicians should know about parasomnias. Breathe, 18, 220067. https://doi.org/10.1183/20734735.0067-2022

Singh, S., Kaur, H., Singh, S., & Khawaja, I. (2018, December 31). Parasomnias: A Comprehensive Review. Cureus, 10(12). https://doi.org/10.7759/cureus.3807

Scarpelli, S., Alfonsi, V., & Gorgoni, M. (2022). Parasomnias and Disruptive Sleep-Related Disorders: Insights from Local Sleep Findings. Journal of Clinical Medicine, 11, 4435. https://doi.org/10.3390/jcm11154435