Mendikdasmen: Panggil Teman dengan Julukan Bisa Jadi Bibit Bullying
·waktu baca 2 menit

Moms, bullying, terutama di lingkungan sekolah dan instansi pendidikan, bisa bermula dari berbagai hal, termasuk candaan soal nama atau julukan. Panggilan dengan nama julukan mungkin terlihat sepele bagi orang lain, padahal bisa menyakiti hati korban.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengingatkan pemanggilan individu dengan julukan fisik dapat dikategorikan sebagai bentuk perundungan (bullying). Karena itu ia mendorong sekolah untuk terus mengupayakan budaya belajar yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.
“Ya, kadang-kadang sebagian dari melucu itu justru melakukan harassment. Misalnya, Eh si kuntet! Itu kan maunya melucu, tetapi itu harassment, itu bullying sebenarnya,” kata Mu'ti dalam acara "Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman" di Jakarta Pusat, Selasa (2/6), dilansir Antara.
Mu'ti mengingatkan sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. Di sekolah seharusnya tidak boleh ada diskriminasi yang memandang rendah peserta didik, baik dari aspek tampilan fisik maupun capaian akademik mereka.
Ia mengatakan setiap warga sekolah harus memiliki kesadaran penuh bahwa setiap murid memiliki bakat, kemampuan, dan potensi yang berbeda-beda. Karena itu, pihaknya mendorong setiap sekolah agar membangun budaya yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.
Budaya itu sejalan dengan prinsip dasar pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), yakni proses belajar yang memuliakan ilmu pengetahuan dan setiap warga sekolah, baik itu murid, guru maupun tenaga kependidikan.
Melalui pendekatan tersebut, ia berharap para murid dapat belajar dalam suasana yang menggembirakan tanpa harus merendahkan teman sebaya.
"Kami ingin semua anak itu belajar bergembira. Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar kenapa kemudian kami tekankan aspek yang lebih humanis, yang inklusif menerima semuanya, dan partisipatif,” kata Mu'ti.
