Konten dari Pengguna

Kartini Masih dan Akan Terus Bersama Perempuan Masa Kini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Hidayani Aulia Wati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto sekelompok perempuan yang melangkah bersama sambil bergandengan tangan, merepresentasikan persatuan dan kesetaraan. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto sekelompok perempuan yang melangkah bersama sambil bergandengan tangan, merepresentasikan persatuan dan kesetaraan. Sumber: Pixabay

Jika Kartini hidup pada masa sekarang, mungkin istilah woke menjadi salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan keberanian berpikirnya. Jauh sebelum istilah tersebut populer, Kartini telah mempertanyakan berbagai ketimpangan yang dialami perempuan pada zamannya. Ia tidak hanya mempersoalkan keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan, tetapi juga mempertanyakan adat dan konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat terhadap laki-laki.

Kartini hidup dalam lingkungan sosial yang menjadikan banyak ketidakadilan terhadap perempuan sebagai sesuatu yang dianggap wajar. Dalam persoalan perkawinan, misalnya, terdapat berbagai tradisi yang menempatkan perempuan pada posisi yang sangat tunduk kepada laki-laki. Sikap kritis Kartini terhadap praktik-praktik semacam itu menunjukkan bahwa perjuangannya tidak semata-mata berkaitan dengan kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan, tetapi juga menyangkut martabat dan kedudukan perempuan sebagai manusia yang memiliki kehendak serta pilihan atas hidupnya sendiri.

Dengan demikian, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah yang dikenang setiap 21 April. Ia merupakan representasi dari keberanian seorang perempuan untuk mempertanyakan sistem sosial yang telah berlangsung dan dianggap sebagai sesuatu yang normal. Justru keberanian untuk bertanya itulah yang membuat pemikirannya tetap relevan hingga hari ini.

Lebih dari Satu Abad, Perjuangan Itu Belum Selesai

Lebih dari satu abad kemudian, perempuan telah memperoleh ruang yang jauh lebih luas dalam bidang pendidikan, pekerjaan, politik, dan kehidupan sosial. Namun, kemajuan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa seluruh bentuk ketidakadilan terhadap perempuan telah berakhir.

Perempuan masih berhadapan dengan berbagai tuntutan sosial, stereotip, diskriminasi, kekerasan, serta standar ganda yang sering kali membatasi kebebasan mereka. Perempuan yang memilih berkarier dapat dipertanyakan mengenai perannya dalam keluarga, sementara perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga juga tidak jarang dianggap kurang produktif. Dalam banyak situasi, perempuan seolah selalu ditempatkan pada posisi harus membuktikan bahwa pilihannya benar.

Kemajuan perempuan juga tidak dapat hanya diukur dari jumlah perempuan yang memperoleh pendidikan tinggi atau menduduki posisi strategis. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah perempuan benar-benar memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya tanpa tekanan dari norma sosial yang diskriminatif.

Apakah seorang perempuan dapat menentukan pendidikan, pekerjaan, perkawinan, maupun kehidupannya tanpa terus-menerus dinilai berdasarkan standar yang berbeda dari laki-laki? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan yang diperjuangkan Kartini belum sepenuhnya selesai.

Afghanistan sebagai Wajah Dunia yang Belum Sepenuhnya Berpihak kepada Perempuan

Persoalan tersebut menjadi semakin jelas ketika melihat kondisi perempuan di berbagai belahan dunia. Afghanistan merupakan salah satu contoh bagaimana kebebasan perempuan masih dapat mengalami kemunduran yang sangat serius. Pembatasan terhadap pendidikan, pekerjaan, mobilitas, dan partisipasi perempuan dalam ruang publik memperlihatkan bahwa hak-hak yang selama ini dianggap mendasar masih belum dapat dinikmati secara merata oleh seluruh perempuan.

Kondisi perempuan di Afghanistan seharusnya menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan gender bukan persoalan yang hanya berkaitan dengan satu negara atau satu kelompok masyarakat. Ketika masih terdapat perempuan yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, bekerja, menentukan masa depan, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik, perjuangan tersebut belum dapat dikatakan selesai.

Dalam konteks ini, feminisme tidak seharusnya dipahami sebagai upaya untuk menempatkan perempuan di atas laki-laki. Feminisme berkaitan dengan perjuangan untuk menciptakan relasi sosial yang adil, ketika seseorang tidak kehilangan kesempatan dan haknya hanya karena ia dilahirkan sebagai perempuan. Karena itu, keberhasilan perjuangan perempuan tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan kemajuan sebagian perempuan, tetapi juga berdasarkan sejauh mana perempuan secara keseluruhan memperoleh kesempatan yang setara.

Perempuan Bukan Bunga yang Dapat Dipetik

Perempuan juga perlu dibebaskan dari cara pandang yang menjadikan nilai dirinya bergantung pada penampilan, usia, atau sejauh mana ia memenuhi ekspektasi masyarakat. Perempuan bukan bunga yang dapat dipetik sesuka hati, diambil madunya ketika dibutuhkan, kemudian ditinggalkan ketika dianggap tidak lagi menarik. Perempuan bukan objek yang nilainya ditentukan oleh bagaimana orang lain memandangnya.

Perempuan lebih tepat diibaratkan sebagai kayu jati. Semakin bertambah usia, kayu jati justru semakin kuat, kokoh, dan memiliki nilai yang semakin tinggi. Demikian pula seorang perempuan. Pertambahan usia seharusnya tidak dipandang sebagai berkurangnya nilai, melainkan sebagai proses bertambahnya pengalaman, pengetahuan, keteguhan, dan kebijaksanaan.

Nilai seorang perempuan tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa muda wajahnya, seberapa sesuai tubuhnya dengan standar kecantikan, atau seberapa cepat ia memenuhi ekspektasi sosial mengenai pernikahan dan keluarga. Seorang perempuan memiliki nilai karena ia adalah manusia yang memiliki pikiran, kehendak, pengalaman, dan kemampuan untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Kartini: Perempuan yang Melampaui Zamannya

Kartini telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk berpikir, mempertanyakan, dan menentukan sikap terhadap realitas yang ada di sekitarnya. Ia tidak menerima begitu saja segala sesuatu hanya karena hal tersebut telah menjadi adat atau kebiasaan.

Oleh karena itu, memperingati Kartini seharusnya tidak berhenti pada penggunaan kebaya, berbagai seremoni, atau sekadar mengulang kisah hidupnya setiap tahun. Penghormatan terhadap Kartini seharusnya diwujudkan melalui keberanian untuk melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang dahulu telah ia ajukan.

Apakah perempuan telah benar-benar memperoleh kebebasan? Apakah perempuan telah memiliki kesempatan yang sama? Dan yang paling penting, apakah kebebasan tersebut telah dirasakan oleh semua perempuan?

Kartini masih bersama perempuan masa kini karena persoalan yang ia perjuangkan belum sepenuhnya menjadi sejarah. Perempuan memang telah bergerak jauh dari masa Kartini, tetapi perjalanan tersebut belum mencapai titik akhir. Selama masih ada perempuan yang harus memperjuangkan hak untuk belajar, bekerja, berbicara, menentukan pilihan hidup, dan dihargai sebagai manusia yang utuh, perjuangan itu masih berlangsung.

Perjuangan perempuan pada akhirnya bukan hanya tentang perempuan yang telah berhasil memperoleh kebebasan, tetapi juga tentang mereka yang hingga hari ini masih belum memilikinya. Kebebasan tidak seharusnya menjadi hak istimewa bagi perempuan yang lahir di tempat atau keadaan tertentu. Kebebasan perempuan harus menjadi perjuangan bersama.

“No woman is free until all women are free.”