CPNS 2026 dan Brain Exponential: Negara Butuh Lebih dari Orang Pintar

Sarjana Pendidikan dan Analis sosiokultural yang menulis tentang pendidikan, literasi, budaya, parenting, dan isu-isu sosial.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Nuril Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali kabar CPNS muncul, perhatian publik hampir selalu tertuju pada hal yang sama: kapan pendaftaran dibuka, berapa formasi tersedia, apa persyaratannya, dan seberapa besar peluang untuk lolos.
Wajar. Menjadi aparatur negara masih menjadi pilihan karier banyak orang Indonesia.
Namun, rencana seleksi CPNS 2026 sebenarnya membawa pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar jumlah formasi: manusia seperti apa yang sedang dibutuhkan negara?
Pertanyaan itu menjadi relevan ketika pemerintah mulai memetakan kebutuhan aparatur untuk seleksi CPNS 2026. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tengah melihat kebutuhan kompetensi jabatan sekaligus mempertimbangkan kemampuan fiskal sebelum formasi ditetapkan.
Artinya, persoalannya bukan semata berapa banyak orang yang akan direkrut. Yang jauh lebih penting adalah kompetensi apa yang harus dimiliki orang-orang yang nantinya mengisi birokrasi Indonesia.
Sebab mereka tidak hanya akan bekerja untuk kebutuhan hari ini. Sebagian dari CPNS yang direkrut pada 2026 kemungkinan masih berada di dalam birokrasi ketika Indonesia memasuki 2045.
Dan dunia pada saat itu hampir pasti berbeda dengan dunia yang kita kenal sekarang.
Ketika Menjadi Pintar Tidak Lagi Cukup
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa menghubungkan kepintaran dengan kemampuan menguasai pengetahuan. Orang yang hafal banyak informasi, memperoleh nilai tinggi, atau cepat menjawab pertanyaan sering dianggap memiliki keunggulan.
Kemampuan tersebut tentu tetap penting.
Tetapi kecerdasan buatan perlahan mengubah permainan.
AI dapat merangkum dokumen dalam hitungan detik. Data dalam jumlah besar dapat diproses jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia. Berbagai pekerjaan administratif yang dahulu membutuhkan banyak waktu kini dapat disederhanakan dengan teknologi.
Perubahan itu bahkan sudah masuk ke lingkungan pemerintahan. Badan Kepegawaian Negara mendorong penguatan kemampuan ASN menghadapi era AI. Pada Juni 2026, BKN menyebut program pelatihan dan penguatan kapasitas kepemimpinan digital ditargetkan menjangkau 145 ribu ASN.
Ini memberi satu pesan penting: transformasi birokrasi bukan hanya persoalan mengganti kertas dengan aplikasi.
Yang sedang berubah adalah **cara manusia bekerja.**
Jika teknologi semakin mampu mengerjakan pekerjaan rutin, manusia harus bergerak ke wilayah yang memberikan nilai lebih tinggi: memahami persoalan, membaca konteks, mengambil keputusan, beradaptasi, berkomunikasi, menciptakan solusi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Karena itu, tantangan CPNS masa depan mungkin bukan lagi sekadar mencari siapa yang paling pintar.
Negara perlu menemukan siapa yang paling mampu terus belajar.
Dari Kepintaran Menuju Brain Exponential
Di sinilah saya melihat sebuah gagasan yang dapat disebut sebagai
Brain Exponential
Istilah ini dalam tulisan ini bukan konsep medis ataupun ukuran baru kecerdasan manusia. Brain Exponential saya gunakan untuk menggambarkan kemampuan seseorang memperbesar kapasitas berpikirnya secara terus-menerus melalui pembelajaran, pengalaman, teknologi, kolaborasi, dan rasa ingin tahu.
Bayangkan dua orang memasuki dunia kerja dengan kemampuan yang relatif sama.
Orang pertama merasa pengetahuan yang dimilikinya sudah cukup. Ia bekerja menggunakan pola yang sama selama bertahun-tahun.
Orang kedua memilih terus belajar. Ia membaca perkembangan baru, mencoba teknologi, berdiskusi dengan orang dari bidang berbeda, belajar dari kesalahan, dan menggunakan AI untuk membantu memahami sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan.
Dalam satu tahun, perbedaannya mungkin kecil.
Tetapi setelah sepuluh tahun, jarak kemampuan keduanya bisa sangat jauh.
Bukan karena otak salah satunya secara biologis berkembang eksponensial. Perbedaannya muncul karena proses belajar terus menghasilkan pengetahuan, pengalaman, dan cara berpikir baru yang kemudian menjadi fondasi pembelajaran berikutnya.
Mungkin inilah salah satu bentuk kecerdasan yang semakin penting pada masa depan: bukan mengetahui semuanya, melainkan memiliki kemampuan untuk terus menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Neurosains dan Otak yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai Belajar
Gagasan tersebut menjadi semakin menarik jika dilihat dari perspektif neurosains.
Dalam ilmu saraf dikenal konsep neuroplasticity, yaitu kemampuan sistem saraf untuk mengalami perubahan sebagai respons terhadap pengalaman dan pembelajaran. Penelitian tentang plastisitas otak menunjukkan bahwa proses belajar berkaitan dengan perubahan fungsi dan struktur jaringan saraf, termasuk perubahan pada koneksi sinaptik.
Dengan kata lain, otak bukan sesuatu yang sepenuhnya statis setelah seseorang memasuki usia dewasa.
Ini penting karena kita sering memperlakukan pendidikan seolah-olah memiliki garis akhir: sekolah, kuliah, lulus, bekerja, kemudian menggunakan pengetahuan yang sudah diperoleh selama bertahun-tahun.
Padahal dunia berubah terlalu cepat untuk pola seperti itu.
Neuroplasticity tentu bukan berarti kecerdasan manusia tumbuh tanpa batas. Ia juga tidak berarti otak secara biologis berkembang mengikuti kurva eksponensial. Karena itu, Brain Exponential tidak boleh dipahami sebagai klaim bahwa kemampuan biologis otak meningkat secara eksponensial.
Yang dapat berkembang secara kumulatif adalah pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan kemampuan menggunakan semuanya untuk menghadapi persoalan baru.
Apa yang dipelajari hari ini dapat menjadi fondasi untuk memahami persoalan yang lebih kompleks esok hari. Pengalaman memperkaya referensi ketika seseorang harus mengambil keputusan. Keterampilan yang telah dikuasai dapat mempermudah proses mempelajari keterampilan berikutnya.
Karena itu, keunggulan manusia masa depan mungkin bukan terletak pada seberapa banyak informasi yang tersimpan di kepala.
Keunggulannya justru terletak pada kemampuan untuk terus mengubah informasi menjadi pemahaman.
Di tengah AI, perbedaan ini menjadi sangat penting.
Mesin dapat menyediakan jawaban.
Tetapi manusia tetap harus menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan.
CPNS Bukan Sekadar Kompetisi Menjawab Soal
Karena itu, rencana CPNS 2026 menarik untuk dilihat dari perspektif yang lebih luas.
Seleksi CPNS tentu membutuhkan ukuran yang objektif. Kemampuan dasar, kompetensi teknis, integritas, dan berbagai standar lainnya tetap penting untuk memastikan negara mendapatkan aparatur yang berkualitas.
Namun, birokrasi masa depan akan menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Seorang ASN mungkin harus membaca data sekaligus memahami kondisi sosial masyarakat. Ia harus mampu menggunakan AI tanpa menyerahkan seluruh keputusan kepada mesin. Ia perlu memahami regulasi sekaligus mampu berkomunikasi dengan masyarakat digital yang menginginkan pelayanan semakin cepat.
Belum lagi perubahan ekonomi, geopolitik, demografi, hingga teknologi yang dapat mengubah kebutuhan pemerintah dalam waktu relatif singkat.
Artinya, pengetahuan yang membuat seseorang unggul pada 2026 belum tentu cukup pada 2036.
Karena itu, ada satu kemampuan yang akan semakin penting: kemampuan belajar kembali.
Kadang seseorang harus meninggalkan cara lama yang pernah berhasil, mempelajari sesuatu yang baru, kemudian menyesuaikannya dengan situasi yang berbeda.
Dalam dunia yang berubah cepat, kalimat “saya sudah tahu” mungkin tidak selalu menjadi keunggulan.
Sebaliknya, kemampuan mengatakan “saya belum tahu, tetapi saya bisa mempelajarinya” justru menjadi modal besar.
Ketika AI Duduk di Meja Kerja ASN
Ada alasan lain mengapa persoalan ini penting.
AI tidak hanya akan menjadi urusan perusahaan teknologi.
Ia perlahan akan menjadi bagian dari meja kerja pemerintahan.
Bahkan proses tersebut sebenarnya telah dimulai. BKN telah memanfaatkan teknologi berbasis AI untuk sejumlah fungsi, mulai dari chatbot, AI proctoring dalam sistem CAT, klasifikasi dokumen kepegawaian, hingga otomasi verifikasi dan validasi dokumen.
Bayangkan perkembangannya beberapa tahun ke depan.
Sistem AI dapat membantu menganalisis ribuan dokumen, membaca pola data, menyusun ringkasan, memberikan alternatif kebijakan, atau mempercepat pelayanan informasi kepada masyarakat.
Apakah itu berarti manusia menjadi kurang penting?
Justru sebaliknya.
Ketika mesin semakin mampu mengolah informasi, manusia harus semakin baik dalam menentukan untuk apa informasi tersebut digunakan.
AI dapat menemukan pola dalam ribuan data kemiskinan. Tetapi manusia harus memahami kehidupan masyarakat di balik angka tersebut.
AI dapat menawarkan beberapa pilihan kebijakan. Tetapi manusia harus mempertimbangkan dampak sosial, keadilan, etika, serta konsekuensi yang mungkin tidak terbaca oleh algoritma.
AI dapat membantu menjawab pertanyaan masyarakat. Tetapi kepercayaan publik tetap dibangun melalui keputusan dan tindakan manusia.
Teknologi memperbesar kemampuan.
Tetapi manusia menentukan arah.
Karena itu, ASN masa depan tidak seharusnya melihat AI sebagai lawan yang harus dikalahkan. AI seharusnya menjadi alat yang memperbesar kapasitas manusia.
Di titik itulah Brain Exponential menjadi relevan.
Negara Membutuhkan Manusia yang Tidak Berhenti Belajar
Ada tantangan yang lebih besar daripada seleksi CPNS itu sendiri.
Apa yang terjadi setelah seseorang berhasil menjadi ASN?
Kita sering memberikan perhatian besar pada proses masuk, tetapi masa depan birokrasi justru ditentukan oleh apa yang terjadi selama puluhan tahun setelah seseorang diterima.
Seseorang bisa masuk sebagai talenta terbaik pada 2026. Tetapi tanpa budaya belajar, kemampuan tersebut bisa kehilangan relevansi sepuluh atau dua puluh tahun kemudian.
Teknologi berubah.
Ekonomi berubah.
Masyarakat berubah.
Cara masyarakat berhubungan dengan pemerintah juga berubah.
Karena itu, reformasi birokrasi tidak cukup hanya memperbaiki proses rekrutmen. Negara juga perlu membangun lingkungan yang membuat aparatur terus berkembang.
Pelatihan AI merupakan salah satu langkah. Tetapi yang dibutuhkan lebih besar daripada sekadar kemampuan menggunakan aplikasi tertentu.
ASN membutuhkan budaya membaca, berdiskusi, bereksperimen, mengevaluasi kebijakan, memahami teknologi baru, dan berani memperbaiki cara kerja yang sudah tidak relevan.
Sebab teknologi yang dipelajari hari ini mungkin akan tergantikan beberapa tahun lagi.
Yang harus bertahan adalah kemampuan untuk belajar.
CPNS 2026 dan Pertaruhan Menuju 2045
Di sinilah CPNS 2026 memiliki makna yang lebih besar.
Orang-orang yang direkrut dalam seleksi mendatang bukan hanya mengisi kursi kosong dalam birokrasi. Mereka adalah sebagian manusia yang akan menjalankan negara menuju 2045.
Pada saat Indonesia berusia satu abad, sebagian dari mereka mungkin telah menjadi kepala bidang, direktur, kepala daerah, pejabat kementerian, analis kebijakan, tenaga teknis, atau pemimpin lembaga.
Keputusan yang mereka ambil akan memengaruhi masyarakat yang mungkin sangat berbeda dari masyarakat hari ini.
Maka pertanyaan mengenai kualitas CPNS sebenarnya adalah pertanyaan mengenai kualitas birokrasi Indonesia pada masa depan.
Negara tentu membutuhkan orang pintar.
Tetapi kepintaran saja tidak cukup.
Kita membutuhkan aparatur yang memiliki integritas ketika tidak diawasi, mampu beradaptasi ketika keadaan berubah, berani belajar ketika tidak mengetahui sesuatu, mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan, dan memahami bahwa pelayanan publik bukan sekadar pekerjaan administratif.
Jika CPNS 2026 dapat menjadi pintu masuk untuk melihat aparatur sebagai investasi manusia jangka panjang, maka pembicaraan mengenai seleksi tidak lagi berhenti pada berapa formasi yang tersedia.
Pertanyaannya berubah menjadi: manusia seperti apa yang ingin kita tempatkan di dalam birokrasi Indonesia untuk dua puluh tahun ke depan?
Di era AI, negara tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar.
Negara membutuhkan manusia yang mampu menemukan pertanyaan baru ketika keadaan berubah.
Manusia yang tidak merasa selesai setelah memperoleh jabatan.
Manusia yang terus membaca, belajar, beradaptasi, dan memperbesar kemampuannya sepanjang perjalanan.
Itulah Brain Exponential yang sesungguhnya.
Bukan tentang menjadi manusia paling pintar di ruangan.
Tetapi tentang tidak pernah berhenti bertumbuh ketika dunia terus berubah.
