Pendidikan

Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. ASN Kementerian Agama. Penulis buku Tafakkur Akademik (2022), Buku Melihat Indonesia dari Mata Pemuda (2023) dan Buku Konsep Agama Hijau (Greendeen) atas Kerusakan Lingkungan Hidup (2023).
Tulisan dari Nur Khafi Udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) menyebutkan jumlah penduduk Indonesia mencapai 272,23 juta jiwa pada 2021. Penduduk yang berpendidikan hingga S1 berjumlah 11,58 juta atau hanya 4,25 persen dari total penduduk yang ada. Lain dengan Korea Selatan, OECD mencatat pada 2019 sebanyak 69,8 persen penduduk berusia 25-34 tahun sudah menyelesaikan pendidikan Sarjana.
Data ini hadir sebagai peringatan untuk masyarakat Indonesia, karena masih ada sebagian masyarakat yang menganggap pendidikan tinggi bukan prioritas, jadi masih banyak masyarakat yang kurang minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Budi Djatmiko selaku Ketua Umum APTISI mengungkapkan, penyebab faktor tersebut yaitu Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi masih rendah. Karena daya saing yang ketat ini, terkadang banyak lulusan sarjana yang tidak bekerja atau sekedar jadi ibu rumah tangga.
Dalam konteks ini, saya sepakat dengan M. Natsir dalam sebuah pidato tanggal 17 Juni 1934 yaitu 11 tahun sebelum Indonesia merdeka “Maju atau mundur suatu kaum bergantung sebagian besar pada pelajar dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka”. M. Natsir hendak mengatakan pendidikan merupakan hal penting, baik untuk diri sendiri, sesama manusia, bahkan untuk negara.
Belajar dari sejarah Yunani kuno
Dalam buku-buku filsafat karya Bertrand Russell selalu ditemukan kisah-kisah peradaban Yunani kuno. Kisah tentang peradaban Yunani adalah kisah tentang lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola para cendekiawan. Sebut saja yang paling terkenal, yaitu lembaga pendidikan Akademi milik Plato yang berdiri tahun 387 SM. Lembaga ini berdiri dengan tujuan menumbuhkan semangat riset, yaitu mencari kebenaran dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia.
Contoh lain ada Aristoteles, murid Plato yang kuliah di Akademi selama 22 tahun. Ia berhasil mendirikan lembaga pendidikan bernama Lyceum dan meneruskan semangat riset seperti Plato. Seperti Aristoteles, zaman dulu kuliah lama bukan aib, berbeda dengan sekarang, orang berbondong-bondong mengejar cum laude, hal ini terkadang melahirkan sarjana yang hambar, harusnya anugerah cum laude bukan menjadi tujuan, tetapi bonus karena kita mampu menguasai mata pelajaran dengan matang.
Dampak dari peradaban Yunani tersebut mampu menjadi pemantik bagi peradaban lain, seperti peradaban Islam di abad pertengahan kemudian peradaban Barat di abad ini. Misalnya, orang Islam pertama kali mengenal filsafat Yunani dari orang-orang Syria, pemahaman ini berkembang di kalangan masyarakat Islam setelah Al-Kindi (801-873 M) menulis buku filsafat dalam bahasa arab.
Meski karya Al-Kindi dianggap rancu, tetapi hal itu justru menumbuhkan semangat sarjana muslim untuk mengkritik dan memperbaiki. Dari sana semangat riset dan sekolah mulai merebak di kalangan masyarakat.
Merawat semangat pendidikan
Tidak jauh beda dengan tokoh-tokoh Yunani, tokoh pendiri bangsa Indonesia juga memiliki perhatian dengan pendidikan. Saya selalu ingat, Sukarno pernah berkata “Pendidikan yang baik akan melahirkan generasi yang percaya diri dan beradab”.
Melalui pendidikan, seseorang dapat mencapai daya kritis, daya inovasi, daya eksplorasi, dan kemampuan untuk menemukan arah baru sejarah peradaban manusia. Pendidikan juga membangun semangat riset dan berpikir ilmiah. Tidak heran jika negara maju selalu memiliki perguruan tinggi terbaik di dunia, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan masih banyak lagi.
Dari kesadaran ini, Sukarno membangun proyek pembangunan sumber daya manusia pada tahun 1960-an. Proyek itu sering disebut MAHID (Mahasiswa Ikatan Dinas Indonesia). Sukarno mengirim ribuan putra-putri terbaik Indonesia belajar ke luar negeri, ada yang dikirim ke negara Eropa Barat, namun ada juga yang dikirim ke Eropa Timur atau negara yang menganut sosialis komunis, misalnya Uni Soviet, Kuba, dan Cekoslowakia.
Mereka bukan belajar ilmu sosial dan politik, tapi ilmu eksakta, teknik, dan ilmu terapan yang lain. Namun ketika menjelang selesai pendidikan dan ingin pulang ke Indonesia. Di Indonesia sedang terjadi peristiwa G30S atau pemberontakan PKI. Ketika itu, mereka yang belajar di negara-negara komunis banyak yang tidak bisa pulang.
Sabron Aidit dalam buku yang berjudul “Buku yang dipenjarakan” memberi kesaksian, banyak pelajar Indonesia yang harus memberi pernyataan dan sikap, Sukarno harus mundur dari jabatan presiden, jika ingin kembali ke Indonesia. Namun banyak yang menolak karena mereka memiliki ikatan dan rasa terima kasih kepada Sukarno. Alhasil banyak pelajar Indonesia yang ahli di berbagai bidang malah mengabdi di negara orang, karena tidak bisa pulang.
Namun masih ada pelajar dari Eropa Barat yang diperbolehkan pulang, misalnya BJ Habibie. Habibie seorang teknokrat yang belajar aeronautika, di Indonesia ia berhasil membangun industri pesawat terbang dengan teknologi canggih, bahkan mampu membuat pesawat N250 Gatot Kaca.
Habibie adalah satu contoh dari banyak pelajar Indonesia yang berhasil menerapkan ilmu untuk membangun Indonesia. Bayangkan jika semua pelajar yang ahli bisa berkarier di Indonesia, boleh jadi hari ini Indonesia sudah menjadi negara maju. Jadi selama ini Indonesia kehilangan satu generasi emas yang menghambat pertumbuhan pendidikan Indonesia.
G20 sebagai awal yang baik
Pada tahun 2012 lalu, lembaga riset internasional, McKinsey Global Institut memprediksi Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 di dunia. Saat ini Indonesia menempati urutan ke-16. Hal itu terbukti dengan Indonesia masuk sebagai anggota G20 sejak forum ini dibentuk yaitu tahun 1999, dan tahun 2022 ini Indonesia mendapat kepercayaan menjadi presidensi G20. Namun kita jangan gegabah menepuk dada. Di tengah persaingan global, Indonesia harus fokus menyiapkan SDM dengan kemampuan yang baik.
Sebagai masyarakat saya menaruh harapan besar dengan Kemendikbud yang membawa empat isu penting dalam forum G20. Pertama pendidikan berkualitas, kedua teknologi digital dalam pembelajaran, ketiga solidaritas dan kemitraan, keempat masa depan dunia kerja setelah pandemi COVID-19. Semoga melalui G20 ini Indonesia benar-benar mampu bangkit dan pulih terutama di bidang pendidikan melalui gotong-royong dengan negara-negara maju yang memiliki perangkat pendidikan yang baik seperti ungkapan mas menteri Nadiem Anwar Makarim.
Sebagai penutup, untuk tetangga saya dan seluruh masyarakat Indonesia. Tulisan panjang lebar ini adalah gambaran jika pendidikan memiliki peran penting untuk kehidupan manusia jangka panjang. Kepedulian terhadap pendidikan bukan sekedar memperoleh gelar kesarjanaan tertinggi, namun lebih dari itu, yaitu memberi manfaat kepada sesama manusia, agama, dan negara.
