Kampus Berdampak: UNRIYO Bekali Gen Z Hadapi Iklim Ekstrem & Tantangan Kesehatan

Peneliti dan Dosen Universitas Respati Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nur Khasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANTUL – Siang itu, aula SMKN 01 Bantul riuh oleh tawa dan derit gunting. Di satu meja, tutup galon disusun rapi menjadi tas. Di meja lain, plastik bekas berubah wujud jadi dompet, bunga hias, dan tempat lilin. Bukan sekadar lomba kerajinan. Inilah wajah nyata Kampus Berdampak, program yang membuat dosen dan mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) turun langsung ke sekolah, membekali Generasi Z dengan pelatihan mitigasi perubahan iklim yang menyentuh tiga hal penting bagi remaja yaitu kesehatan reproduksi, literasi keuangan, dan keterampilan wirausaha.
“Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi pusat solusi” ujar Nur Khasanah.,S.ST.,M.Kes, koordinator tim pengabdi, di sela kegiatan. Ucapannya sejalan dengan prioritas Ditjen Dikti Ristek 2025, yang mendorong perguruan tinggi menciptakan dampak langsung bagi masyarakat melalui kolaborasi nyata lintas disiplin.
Menyentuh Realitas: Cuaca Ekstrem dan Tubuh Kita
Sesi pertama bertema “Cuaca Ekstrem dan Tubuh Kita”. Siswa diajak memahami hubungan perubahan iklim dengan kesehatan reproduksi. Materi ini bukan sekadar teori, ada fakta yang mencengangkan. Laporan The Lancet Countdown 2023 mencatat suhu global sudah naik 1,14°C sejak era pra-industri. Dampaknya terasa gelombang panas, banjir ekstrem, dan terganggunya layanan medis.
Penelitian Climate Change and Sexual and Reproductive Health menunjukkan remaja perempuan dan ibu hamil menjadi kelompok paling rentan. Krisis iklim bahkan dapat memperburuk kekerasan berbasis gender dari pelecehan seksual, eksploitasi, hingga pernikahan paksa akibat tekanan ekonomi, pengungsian, dan ketimpangan akses terhadap sumber daya (Climate change, health and gender).
“Kalau dulu saya pikir perubahan iklim itu cuma soal pohon dan hujan, sekarang saya tahu ternyata bisa memengaruhi kesehatan tubuh kita, apalagi perempuan,” kata Meylina, siswi kelas XI yang matanya berbinar mendengar penjelasan pemateri.
Setelah sesi teori, para siswa langsung mempraktikkan daur ulang sampah plastik. Hasilnya luar biasa dan Tiga karya terbaik mendapatkan hadiah dari tim pengabdi sebagai penyemangat agar kreativitas mereka terus berkembang. “Menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil yang punya nilai ekonomi,” ujar Nur Khasanah.,S.ST.,M.Kes.
Cerdas Finansial di Era Ketidakpastian
Sesi berikutnya dibawakan oleh Khaula Lutfiati Rohmah.,SE.,Akt.,M.Ak, CA, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi UNRIYO. Dengan gaya yang santai, ia memulai materi Cerdas Finansial dengan sebuah pertanyaan, “Siapa yang sudah pernah menabung dari uang jajan sendiri?” Beberapa tangan terangkat, sebagian tersenyum malu.
Khaula menjelaskan cara membedakan kebutuhan dan keinginan, pentingnya membuat rencana tabungan, hingga langkah sederhana mengelola keuangan pribadi. “Kemampuan mengatur keuangan adalah bekal penting menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.
Bagi Devita, siswa jurusan Akutansi, materi ini terasa sangat relevan. “Saya jadi tahu kalau beli barang itu harus mikir dulu, benar-benar butuh atau cuma pengen. Apalagi kalau nanti udah kerja,” katanya.
Hak-Hak Kesehatan Reproduksi: Pengetahuan adalah Perlindungan
Sesi terakhir, Anita Liliana.,S.Kep.,Ns.,M.Kep dan Melania Wahyuningsih.,S.Kp.,MSN dari Prodi Keperawatan mengupas Hak-Hak Kesehatan Reproduksi Remaja. Mitos Penyakit Menular Seksual dibongkar, cara pencegahan dijelaskan, dan hak atas informasi serta perlindungan ditekankan. Peserta juga diajak memahami bahwa kesadaran akan hak reproduksi penting untuk mencegah dan melawan kekerasan berbasis gender yang sering meningkat di situasi krisis.
Materi ini juga menyoroti bahwa di situasi krisis, termasuk bencana iklim. Angka kekerasan berbasis gender cenderung meningkat. Dengan pengetahuan yang benar, remaja dapat melindungi diri dan membantu orang di sekitarnya.
“Tubuh kita berharga. Kita berhak mendapatkan pengetahuan dan membuat keputusan yang aman,” tegas Melania, disambut anggukan serius dari para peserta.
Kombinasi edukasi iklim, finansial, dan kesehatan ini sejalan dengan rekomendasi ilmiah internasional dimana generasi muda perlu diposisikan sebagai garda depan adaptasi iklim berbasis kesehatan dan kesetaraan gender.
“Sekarang saya tahu kalau cuaca ekstrem itu bisa pengaruh ke tubuh kita, apalagi untuk perempuan. Dan ternyata kita juga bisa mulai dari hal kecil, kayak bikin tas dari sampah plastik,” ujar [Anggun Khofifah], salah satu peserta.
Bagi para siswa, hari itu bukan sekadar belajar di luar kelas. Mereka pulang dengan keterampilan baru, wawasan yang relevan, dan keyakinan bahwa mereka bukan sekadar penerima dampak perubahan iklim, tetapi mereka adalah bagian dari solusinya.
