Konten dari Pengguna

Liburan Aman di Pantai Harus Jadi Budaya, Bukan Sekadar Imbauan

Nur Maziyya

Nur Maziyya

Pengajar di Sub-Departemen Keperawatan Komunitas, Fakultas Keperawatan - Universitas Padjadjaran

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Maziyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wisata Pantai Source: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Wisata Pantai Source: Dokumentasi Pribadi

Keselamatan Bukan Sekadar Peringatan Tetapi Tanggung Jawab Bersama

Setiap kali musim liburan tiba, pantai menjadi salah satu destinasi favorit bagi banyak orang. Hamparan pasir, suara ombak, dan panorama laut terbuka adalah "healing" yang indah. Namun, di balik keindahan itu, kita terlalu sering mendengar kabar duka: wisatawan terseret arus, anak-anak tenggelam, hingga kecelakaan saat naik wahana wisata.

Sebagai masyarakat yang hidup di negeri maritim, pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama adalah: mengapa kita masih begitu abai terhadap keselamatan saat berwisata, khususnya di pantai?

Keselamatan Bukan Sekadar Peringatan

Kita sering menganggap papan peringatan hanyalah hiasan. Rambu “Dilarang Berenang” ditempatkan di sana bukan tanpa alasan, namun banyak yang bersikap seolah itu hanyalah formalitas. Bahkan saat penjaga pantai memberi imbauan, masih ada wisatawan yang mengabaikannya, seolah-olah liburan akan kehilangan keseruannya jika tak menantang bahaya.

Padahal, keselamatan bukan tentang membatasi kebebasan, melainkan soal memastikan kita bisa menikmati liburan dengan tenang dan kembali ke rumah tanpa insiden.

Papan Peringata Source: Dokumentasi Pribadi

Tanggung Jawab yang Harus Dibagi

Keselamatan di tempat wisata adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya petugas pantai atau pengelola tempat wisata yang harus sigap, tapi juga para wisatawan, pemerintah, dan masyarakat lokal. Semua memiliki peran.

Wisatawan harus sadar diri, bahwa laut bukan kolam renang. Gelombang bisa berubah dalam hitungan menit, arus bisa menyeret siapa saja tanpa pandang usia atau kemampuan berenang.

Pengelola wisata harus lebih dari sekadar menyediakan fasilitas. Mereka harus aktif mengedukasi dan memastikan setiap sudut pantai memenuhi standar keamanan. Pemerintah daerah tak bisa hanya muncul saat ada korban namun harus hadir melalui regulasi yang tegas dan pengawasan yang berkelanjutan.

Dan masyarakat lokal? Mereka adalah garda terdepan. Mereka tahu ombak berubah, tahu kapan angin membawa bahaya. Suara mereka harus diangkat sebagai peringatan, bukan dianggap remeh.

Saatnya Membangun Budaya Sadar Keselamatan

Yang kita butuhkan bukan sekadar imbauan, tapi pembentukan budaya. Budaya sadar keselamatan harus ditanamkan sejak dini. Di sekolah, dalam kampanye publik, di media sosial, hingga pada papan-papan informasi di tempat wisata.

Bayangkan jika setiap wisatawan datang ke pantai sudah paham tentang rip current, tahu zona aman berenang, dan selalu waspada terhadap cuaca. Berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan?

Kita juga harus mulai mendorong teknologi sebagai alat bantu. Aplikasi peringatan dini, petunjuk zona rawan, atau peta digital kawasan pantai bisa menjadi alat edukasi praktis. Informasi keselamatan harus semudah mengakses cuaca hari ini.

Liburan yang Paling Indah Adalah yang Pulang dengan Selamat

Seringkali kita terlalu fokus pada destinasi, sampai lupa bahwa pulang dengan selamat adalah tujuan utama dari setiap perjalanan. Tak ada pemandangan yang sebanding dengan harga sebuah nyawa. Kita datang ke pantai untuk beristirahat dan menikmati keindahan, bukan untuk mengadu nasib dengan ombak.

Maka sudah saatnya kita ubah cara pandang. Keselamatan bukan urusan belakang, bukan pelengkap. Ia harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap langkah liburan kita. Karena hanya dengan itu, pantai bisa menjadi tempat yang bukan hanya indah, tapi juga aman bagi semua.