Kumparan Logo

Netflix dan Rivalnya Kuasai Hak Siar Olahraga di Asia, Nilainya Nyaris USD 6 M

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Netflix. Foto: REUTERS/Dado Ruvic
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Netflix. Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Layanan streaming seperti Netflix dan Tencent kini menguasai separuh biaya hak siar olahraga di Asia. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran industri media tradisional ke layanan digital yang semakin bersaing mendapatkan hak siar kompetisi olahraga populer.

Dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (10/10), Media Partners Asia (MPA), perusahaan konsultan industri media, memperkirakan platform streaming seperti JioHotstar dari India akan menyumbang 50 persen dari total biaya hak siar olahraga di kawasan Asia pada 2026. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar USD 5,7 miliar.

Angka tersebut meningkat dibandingkan pada 2021, ketika platform digital hanya menyumbang sekitar 36 persen dari total biaya hak siar olahraga di Asia, menurut laporan terbaru MPA.

Aplikasi streaming kini semakin banyak menjadi pilihan penonton olahraga di berbagai negara. Mereka juga berlomba-lomba menjalin kesepakatan hak siar dengan liga profesional terkemuka untuk menarik pelanggan.

Perubahan ini turut mempengaruhi kebiasaan penonton. Jika sebelumnya penonton dapat mengandalkan beberapa saluran televisi kabel untuk menyaksikan berbagai kompetisi, kini mereka perlu berlangganan sejumlah layanan streaming berbeda untuk mengakses pertandingan yang diinginkan. Kondisi ini terutama dirasakan penonton yang ingin menyaksikan kompetisi dari negara lain.

Perubahan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan bisnis olahraga komersial di Asia. MPA memperkirakan biaya hak siar olahraga di kawasan ini hanya akan tumbuh sekitar 1-2 persen per tahun hingga 2030. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kumulatif sebesar 58 persen selama lima tahun terakhir.

Ilustrasi JioHotstar. Foto: Sunil prajapati/Shutterstock

Meski demikian, industri olahraga komersial Asia secara keseluruhan diproyeksikan tetap berkembang. MPA memperkirakan nilai ekonomi olahraga di Asia, termasuk penjualan merchandise dan kesepakatan sponsor, mencapai USD 16,2 miliar. Nilainya diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen per tahun menjadi USD 19,5 miliar pada periode yang sama.

Namun, pendapatan komersial olahraga yang dihasilkan dari setiap penonton di Asia masih relatif rendah. Rata-rata pendapatan tersebut hanya sekitar USD 4 per orang, jauh di bawah Amerika Utara yang mencapai USD 200 per orang.

India disebut telah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri olahraga di kawasan ini. Sejak 2021, negara tersebut menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi olahraga Asia.

Indian Premier League (IPL), kompetisi kriket profesional di India, menjadi liga profesional dengan nilai hak siar tertinggi di Asia. Pendapatan hak siarnya mencapai sekitar USD 12,4 juta per pertandingan, setara dengan liga sepak bola Inggris, Premier League.

Sementara itu, sejumlah platform streaming besar mulai menguasai segmen olahraga masing-masing di Asia. JioHotstar, platform streaming terbesar di India yang dioperasikan oleh Walt Disney dan Reliance Industries, memperoleh hak siar kriket. Tencent menyediakan akses untuk pertandingan National Basketball Association (NBA) dan National Football League (NFL) di China.

Di Indonesia, MNC Digital Entertainment Tbk menayangkan kompetisi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) serta pertandingan UEFA European Championship atau Piala Eropa.