Konten dari Pengguna

Evolusi Humor Pandji

Nurrohman Efendi

Nurrohman Efendi

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi di STIKOM Interstudi, Mantan Jurnalis TV, saya percaya: setiap narasi, suara, dan gambar punya pesan yang layak disampaikan dengan bijak.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurrohman Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komika, Pandji Pragiwaksono (kiri), dan Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief (kanan), dalam jumpa pers, Senin (25/8/2025). Foto: KPK
zoom-in-whitePerbesar
Komika, Pandji Pragiwaksono (kiri), dan Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief (kanan), dalam jumpa pers, Senin (25/8/2025). Foto: KPK

Menurut keyakinan saya, kalau ada satu hal yang konsisten dari perjalanan Pandji Pragiwaksono, itu bukan kelucuannya, tapi keberaniannya mengubah cara ia berdiri di hadapan penonton. Dari satu special ke special berikutnya, humornya tidak makin ringan, justru makin serius. Dan itu terasa makin jelas kalau kita tarik garis dari Bhinneka Tunggal Tawa, Pragiwaksono World Tour, sampai Mens Rea.

Di Bhinneka Tunggal Tawa, Pandji masih seperti teman ngobrol. Ia bercerita soal perbedaan, identitas, dan kebiasaan orang Indonesia dengan nada yang hangat. Kita diajak tertawa sambil mengangguk, merasa, “oh iya, kita memang begini.” Kritiknya ada, tapi lembut. Tidak menusuk. Humor di sini berfungsi sebagai pengikat: menyatukan, bukan memisahkan.

Di fase ini, Pandji terlihat ingin dekat. Ia tidak memosisikan diri lebih tahu atau lebih benar. Ia berdiri di tengah-tengah, satu barisan dengan penonton. Tawa menjadi tujuan utama, sekaligus jalan masuk ke obrolan yang lebih luas. Aman, nyaman, dan terasa inklusif.

Lalu masuk ke Pragiwaksono World Tour. Di sini mulai terasa perubahan. Panggungnya lebih besar, kepercayaan dirinya meningkat, dan materinya lebih tegas. Pandji mulai berani menunjuk arah. Ia tidak hanya bercerita, tapi juga menyimpulkan. Ada pola yang ia bongkar, ada kemunafikan yang ia sentil.

Namun, relasinya dengan penonton masih dijaga. Humor tetap jadi pegangan. Kita masih bisa tertawa tanpa merasa sedang “diadili”. Kalau tidak setuju, ya tinggal tertawa lalu lupa. Pandji masih ingin diterima, meski sikapnya sudah lebih jelas.

Menurut keyakinan saya, titik belok paling nyata justru ada di Mens Rea. Di sini Pandji seperti berhenti peduli apakah penonton akan merasa nyaman atau tidak. Bahkan sejak judulnya, ia sudah memberi sinyal: ini bukan sekadar soal lucu. Mens rea bicara tentang niat. Dan yang ia bongkar bukan niat orang lain, tapi cara kita (penonton) bereaksi, marah, dan menghakimi.

Di Mens Rea, banyak bagian yang terasa lebih seperti ajakan berpikir daripada ajakan tertawa. Setup-nya panjang, nadanya serius, dan tawanya sering datang belakangan. Bukan tawa karena kaget, tapi tawa karena sadar. Kadang malah tertawa sambil mikir, “iya juga, ya.”

Pandji tidak lagi berdiri sejajar. Ia berhadapan langsung. Seolah berkata: selama ini kita gampang marah, gampang menunjuk, tapi jarang mau duduk sebentar dan bertanya, kenapa kita marah. Dan itu tidak selalu enak didengar.

Sebelum meledak di platform Netflix, Mens Rea sejatinya sudah hadir di Indonesia Arena pada 30 Agustus 2025. Kehadiran yang pertama, Jokes Pandji mungkin sudah tidak banyak diingat publik, kehadiran kedua di Netflix semakin menguatkan kesan keberanian Pandji untuk mengajak publik berpikir dan bukan sekadar tertawa. Panggung besar nan megah, ribuan penonton, tapi isinya justru refleksi yang tidak ringan. Seolah Pandji sengaja menaruh gagasan yang tidak nyaman di ruang yang paling terbuka. Tidak disembunyikan. Tidak diperkecil.

Di titik ini, humor Pandji berubah fungsi. Ia bukan lagi alat untuk merangkul, tapi alat untuk menguji. Tidak semua orang akan tertawa. Tidak semua orang akan suka. Dan sepertinya, itu tidak masalah baginya.

Buat sebagian penonton, Mens Rea terasa “kurang lucu”. Buat sebagian lain, terasa seperti ceramah. Tapi justru reaksi-reaksi itu yang menunjukkan bahwa Pandji tahu persis apa yang ia lakukan. Ia tidak sedang gagal melucu. Ia sedang memilih untuk tidak selalu melucu.

Dalam dunia hiburan yang makin sibuk mengejar potongan viral dan tawa cepat, pilihan ini jelas berisiko. Mens Rea tidak ramah klip pendek. Banyak bagian hanya bekerja kalau ditonton utuh. Tapi di situlah konsistensinya: Pandji tampak lebih peduli pada apa yang tertinggal di kepala penonton, bukan seberapa keras tawanya di ruangan.

Pada akhirnya, menurut keyakinan saya, evolusi humor Pandji adalah cerita tentang keberanian berhenti menyenangkan semua orang. Dari mengajak tertawa bersama, menjadi berani berdiri dan berkata, “coba pikirkan lagi.” Mens Rea mungkin tidak membuat semua orang nyaman. Tapi justru di situlah ia jujur—bahwa komedi, kadang, memang tidak harus selalu membuat kita santai.