Dilema Anak Kos: Saat Harga Nasi Padang, Sewa Kamar, dan HP Baru Kompakan Naik

saya bekerja di perusahaan swasta sebagai team survey san aktif sebagai mahasiswa
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nurul Afiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah nggak sih kalian ngerasa uang jajan atau alokasi bulanan yang biasanya aman-aman aja, tiba-tiba di pertengahan bulan udah tipis banget? Jujur, belakangan ini aku lagi ngerasain banget hal itu. Di kelas Ekonomi Makro, dosenku nyebut kondisi ini sebagai inflasi—yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) secara umum terus mengalami dinamika pergerakan harga komoditas. Tapi jujur aja, buat kita yang berstatus sebagai mahasiswa, kata 'inflasi' itu kepanjangannya cuma satu: krisis dompet.
Dampak kenaikan harga-harga ini bener-bener berasa banget di kehidupan harian anak kosan. Nggak cuma satu atau dua sektor, tapi hampir di semua ini!

Dampak Inflasi dalam Kehidupan Sehari-hari Mahasiswa
1. Drama Ibu Kos dan Tagihan Bulanan Naik
Kejadiannya baru minggu lalu. Lagi asik-asiknya rebahan di kamar setelah seharian kuliah, tiba-tiba ada notifikasi pesan WhatsApp dari ibu kos. Pas dibuka, jleng! Pesannya berisi pemberitahuan kalau uang sewa kamar bakal naik Rp150.000 mulai bulan depan. Alasannya klasik tapi masuk akal: harga listrik, air, dan biaya perawatan bangunan semuanya udah pada naik.
Buat orang yang udah kerja, mungkin Rp150.000 itu angka yang kecil. Tapi buat mahasiswa kos-kosan, nominal segitu bernilai banget! Itu setara sama biaya makan buat 4 sampai 5 hari, atau setara dua kali pengisian kuota internet bulanan. Mau protes atau pindah kosan pun bingung, karena pas dicek, kos-kosan di sekitaran kampus harganya emang udah pada ikut meroket semua.
2. Porsi Makan Siang yang Makin "Irit Lauk"
Efek dominonya langsung berlanjut ke urusan perut. Biasanya, dengan uang Rp15.000 aku udah bisa dapet nasi warteg komplit pakai ayam, tempe, dan sayur. Tapi sekarang? Uang Rp15.000 cuma dapet nasi, telur dadar, sama kuah sayur doang. Ibu wartegnya bahkan cerita kalau harga minyak goreng, cabai, sampai beras di pasar emang lagi mahal-mahalnya—sejalan dengan data tren kenaikan komponen harga pangan dan utilitas bulanan menurut Trading Economics Indonesia
Ujung-ujungnya, jurus penyelamat anak kos mulai dikeluarkan: stok mi instan di lemari dan masak nasi sendiri di kamar pakai rice cooker. Kalau malam mulai berasa lapar, opsi paling realistis ya cuma seduh mi instan sambil ngerjain tugas.
3. HP Lemot dan Dilema Harga Gadget yang Makin Mahal
Kebutuhan kuliah zaman sekarang kan serba digital. Kumpul tugas di portal kampus, diskusi kelompok di WhatsApp, sampai bikin konten presentasi, semuanya butuh HP yang mumpuni. Masalahnya, HP yang aku pakai sekarang udah mulai ngos-ngosan. Layarnya kadang freeze dan baterainya drop parah.
Niat hati mau nabung buat beli HP baru kelas entry-level. Eh, pas jalan-jalan ke toko elektronik dan cek e-commerce, harganya bikin ngelus dada. Ponsel dengan spesifikasi standar yang tahun lalu harganya masih di kisaran Rp1,8 juta hingga Rp2 juta, sekarang pasang harga di angka Rp2,5 juta ke atas! Padahal fiturnya ya relatif sama aja. Komponen impor dan biaya distribusi yang naik bikin harga gadget ikut terseret naik.
4. Biaya Print, Fotokopi, dan "Nongkrong Wajib" Kuliah
Nggak berhenti di situ, biaya perintilan kuliah juga ikutan mencekik. Harga cetak tugas per lembar yang dulunya Rp500 sekarang udah jadi Rp1.000. Belum lagi kalau ada tugas kelompok yang mengharuskan ketemu di coffee shop karena butuh Wi-Fi kenceng dan colokan listrik. Bayar es kopi susu seharga Rp25.000–Rp30.000 per datang bikin kantong makin menjerit.
Tips dan Cara Hemat Mengatasi Inflasi ala Anak Kos
Daripada cuma bisa meratapi keadaan, akhirnya aku dan beberapa temen kos mulai putar otak buat cari strategi survival:
Bikin Catatan Keuangan Strict: Setiap pengeluaran sekecil apa pun wajib dicatat, selaras dengan panduan perencanaan finansial dasar dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar kondisi finansial tetap sehat di tengah kenaikan harga.
Masak Bareng Temen Kos: Biar lebih hemat, kadang kami iuran beli bahan makanan di pasar tradisional terus masak bareng-bareng di dapur bersama kosan.
Mulai Cari Sampingan (Freelance): Waktu luang di sela-sela jadwal kuliah mulai dipakai buat cari freelance kecil-kecilan, mulai dari jualan jasa desain sampai bantu-bantu event organizer.
Kesimpulan
Jujur, kondisi inflasi ini emang bikin pusing. Tapi di sisi lain, ini jadi latihan nyata buat kita belajar mengelola keuangan pribadi secara realistis sebelum nanti bener-bener terjun ke dunia kerja.
Kalau kalian sendiri gimana? Berasa juga nggak sih efek kenaikan harga-harga ini? Coba dong ceritain di kolom komentar gimana cara kalian bertahan hidup di tanggal tua!
