Konten dari Pengguna

Mosaik Budaya Nusantara sebagai Paras Indonesia

Nurul Firmansyah

Nurul Firmansyah

Lawyer and Environment Enthusiast

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

com-Ilustrasi anak Indonesia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi anak Indonesia. Foto: Shutterstock

Kebudayaan Indonesia bukanlah sesuatu yang terberi (given). Kebudayaan Indonesia ibarat bangunan yang terbentuk atas jalinan antar budaya dari beragam suku bangsa di nusantara, mulai dari Melayu, Jawa, Bugis dan lainnya. Bangunan kebudayaan itu hadir secara historis dan politis.

Kebudayaan Indonesia seperti mosaik sosial, ekonomi, dan politik bangsa-bangsa kepulauan Nusantara.

Interaksi antar budaya ini menampilkan rona kebudayaan Nusantara yang plural. Sejarah menunjukkan bahwa, interaksi antar budaya di Nusantara bekerja melalui media laut, dengan pelayaran dan perdagangan sebagai wahananya, yang menghubungkan lebih kurang 17.000 pulau-pulau. Hal ini menunjukkan bahwa Maritim adalah nadi kebudayaan nusantara.

Pelayaran dan perdagangan ini beriringan dengan pertukaran antar budaya suku bangsa yang ada. Pertukaran antar budaya itu juga melibatkan bangsa-bangsa maritim besar dunia lainnya, seperti Arab, Persia, India, Cina dan Eropa.

Sejarah telah menunjukkan bahwa usaha merajut kebudayaan nusantara itu telah dimulai sejak lama. Bisa kita telusuri sejak zaman peradaban kuno, yang diwakili oleh Sriwijaya dan Majapahit. Dua entitas peradaban itu nyatanya menggunakan maritim sebagai media politik sekaligus kebudayaan.

Dalam konteks ini, kebudayaan maritim adalah kebudayaan yang terbuka dan dinamis. Kebudayaan maritim ini menyediakan diri untuk berinteraksi dengan yang global, tanpa menghilangkan yang primodial. Sehingga, generalisasi tentang kebudayaan Indonesia adalah umum dan statis nampaknya perlu dikaji ulang.

Arus Balik

Melalui penanya, Pramoedya Ananta Toer telah mengungkap rahasia kemunduran kebudayaan nusantara dalam novelnya berjudul arus balik. Arus balik telah mengupas makna sejarah tentang kemunduran kebudayaan nusantara kita, yaitu bergesernya kebudayaan maritim seiring dengan runtuhnya kejayaan Majapahit.

Senjakala Majapahit seiring dengan terbitnya Mataram yang mewakili corak baru kebudayaan pedalaman. Mataram mengubah pilar-pilar maritim dengan membatasi kota-kota dagang pesisir dan memindahkan pusat lebih ke dalam. Dampak Arus balik ini kita saksikan sendiri, yaitu munculnya bangsa Eropa sebagai penguasa maritim baru di Nusantara yang membentuk Indonesia tiga abad setelahnya.

Kebudayaan pedalaman sendiri menuntut kesatuan total, feudal, dan statis, mirip seperti penafsiran tunggal atas teks. Dalam konteks ini, semua segi kehidupan mesti dipersembahkan untuk sesuatu yang tunggal itu. Harmoni yang bernafas otoritarian ini memaksa keberagaman dalam ketunggalan, serta berusaha menyingkirkan yang Lyan dengan stigma.

Cara pandang berbudaya itu bukan hanya semata-mata milik peradaban kuno Nusantara saja, namun juga hadir dalam era modern ini. Cara pandang ketunggalan budaya sebagai ciri kebudayaan pedalaman kemudian bereinkarnasi dalam legitimasi arus pemikiran modernisme sempit.

Modernisme sempit adalah cara pandang linear tentang keterbelakangan dan kemajuan kebudayaan. Modernisme membuat batas antara masyarakat modern yang beradab dengan masyarakat purba dengan memberikan mitos-mitos tentang keterlambatan evolusi sosial. Evolusi sosial ini melegitimasi yang purba itu untuk dibimbing, dan kalau perlu dikuasai. Modernisme sempit telah meligitimasi kolonialisme dan totalitarianisme pasca kolonial.

Lihat saja, bagaimana rezim orde baru dengan pemaknaan totalitarian terhadap Pancasila telah menyingkirkan demokrasi dan mempersempit makna pluralisme kebudayaan nusantara sebatas ancaman separatisme. Kebudayaan Indonesia oleh orde baru dimaknai sebagai kebudayaan yang tunggal dan statis itu.

Menemukan Kembali Nusantara

Sungguh tepat, mantra bhineka tunggal ika dalam genggaman erat Garuda itu. Bhineka tunggal ika adalah perenungan tentang makna sejarah kebudayaan kita, sekaligus visi Indonesia ke depan. Bhineka Tunggal Ika bersama dengan Pancasila adalah karya kebudayaan adiluhung pendiri bangsa.

Makna ketunggalan kebudayaan orde baru dengan menggunakan Pancasila secara sempit adalah ahistoris. Sejatinya, visi Pancasila adalah historis, yang bertumpu pada keberagaman budaya nusantara. Dalam konteks ini, Pancasila jelas mengembalikan kembali kebudayaan bercorak maritim kita sebagai kebudayaan Indonesia yang terbuka dan dinamis.

Bangsa Indonesia dengan pantai terpanjang kedua setelah Kanada ini tentunya bangsa yang mau belajar dari sejarah. Bangsa ini tentunya enggan kembali terperosok pada palung yang sama, yaitu kuasa otoritarian dalam politik dan kebudayaan.

Saatnya kini, kita melihat kembali secara seksama Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Timor dengan optik yang tepat dan pikiran terbuka. Melihat Indonesia dengan cara itu adalah usaha untuk meninggalkan ilusi ketunggalan budaya yang muncul kembali akhir-akhir ini dalam narasi etnisitas, agama maupun identitas-identitas lainnya.