Konten dari Pengguna

Aku Ingin Mencintai Kopi

Nurul Hidayati

Nurul Hidayativerified-green

editor di kumparan ^menulislah, karena setiap orang punya cerita untuk dibagikan^ 😍 *komentar di story adl pendapat pribadi

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Hidayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku Ingin Mencintai Kopi
zoom-in-whitePerbesar

Sejak kecil ibuku menanamkan petuah bahwa kopi identik dengan orang tua. Karena itu, dalam satu rumah hanya bapakku saja yang dibuatkan kopi tiap pagi dan sore. Satu gelas blirik besar berupa kopi hitam — dibuat dari biji kopi dicampur beras hasil menyangrai sendiri — ditambahi jahe yang digeprek.

Tentu saja anak-anak ibuku - termasuk aku - sesekali turut menyeruput kopi itu dengan sembunyi-sembunyi. Rasanya enak: manis dan segar jahe.

Ketika kuliah, temanku selalu membuat segelas kopi hitam (dulu belum ada kopi gaul seperti sekarang) untuk menemaninya belajar, utamanya menyongsong ujian. Dan aku merasa heran mengapa anak muda seperti dia minum kopi. Seingatku, sepanjang aku kuliah, aku tidak pernah minum kopi.

Kemudian aku bekerja dan sering kali menginap di kantor. Di pagi hari, setelah subuhan, aku mencoba mengusir kantuk dengan menyeduh Coffee Mix dari Indocafe. (Cmiiw, seingatku Coffee Mix adalah kopi 3 in 1 saset pertama di Indonesia dan sangat populer. Sejak awal kerja hingga kini tempatku kerja setia dengan merek ini).

Namun, minum di pagi hari saat perut kosong bukanlah hal yang bagus. Aku sakit perut dan dada berdebar-debar. Setelah itu, aku tak pernah minum kopi lagi. Bila ada pertemuan di coffee shop, aku selalu memesan minuman selain kopi, lazimnya sih teh.

Suatu ketika aku ke luar negeri dan seperti di film Hollywood, orang-orang berjalan kaki dengan menenteng gelas sekali pakai berisi kopi di tangan. Penasaran, aku kemudian membeli kopi tanpa kafein saat kepalaku terasa pusing. Aku pernah membaca, kopi bisa me-release sakit kepala.

Setelah kucicipi, waks, betapa pahitnya kopi ini. Aku hanya meneguk 2-3 kali kopi encer yang disajikan di gelas plastik berukuran jumbo itu.

Aku kemudian berpikir, mengapa orang bule suka kopi tidak enak seperti ini?

Aku Ingin Mencintai Kopi (1)
zoom-in-whitePerbesar

Dalam rangkaian perjalanan kami, temanku mengajak mampir ke Starbucks. Aku hanya menemani saja, tidak membeli apa-apa. Namun, aku mengelilingi kedai itu dan melihat beberapa bungkus kopi berasal dari Indonesia, antara lain Kopi Toraja. Ada rasa bangga menyelinap di hatiku.

Tahun terus berganti dan aku selalu berusaha mencintai kopi. Apalagi bila mendengar bunyi saat temanku menyeruput kopi: slurrpppp dengan nada yang sangat nikmat. Belum lagi status di messenger-nya yang selalu menyiratkan harum kopi yang menggoda.

Alhasil, aku mencoba mencicipi kopi Kapal Api. Baunya memang harum seperti yang diiklankan di televisi.

Aku membuat kopi hitam itu seencer mungkin dengan gula melimpah. Tentu saja perut harus terisi makanan dulu agar tidak memicu maag dan jantung berdebar.

Kopi ringan yang kukonsumsi termasuk Torabika Cappucino. Menurutku ini adalah terobosan kopi saset, karena menampilkan sensasi kopi ala kafe: ada semacam buih di hasil adukannya (Mungkin aku korban iklan).

Cukup lama aku mengagumi merek ini (bahkan saat ini ada satu saset di dalam tasku). Aku begitu bangga pada seleraku yang tidak rumit soal kopi: murah meriah. (Starling adalah saingan terberat Starbucks :D)

Hingga kemudian terjadi booming kopi kekinian, yang konon turut dipicu film Filosofi Kopi. Karena aku masih sulit memahami bagaimana rasa kopi yang enak, aku tidak “berpartisipasi” dalam ledakan itu.

Namun setelah sekian lama, aku mencoba mencicipi kopi jaman now dengan sengaja. Aku memesan es kopi susu di Kopi Kecil lewat Go-Jek. Juga mencicipi creme brulee di Yellow Truck Margonda Depok. Juga Machiato (?) di Kedai Bang Ali.

Aku memang belum cinta-cinta amat pada kopi, tapi aku berusaha "memahaminya". Setidaknya lewat ungkapan ini: “dari kopi, kita bisa belajar bahwa rasa pahit (kehidupan) pun bisa dinikmati”.