Hubungan Feminisme dan Antropologi

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nusuma Tifani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kritik feminisme dalam antropologi sosial serupa dengan ilmu sosial lainnya, yakni berkembang dari kekhawatiran terhadap pengabaian wanita dalam disiplin. Bagaimanapun juga, mengungkapkan sejarah tentang pengabaian tersebut bukanlah hal yang mudah, ini di karenakan antropologi sosial menuliskan peran wanita dengan cara yang tidak jelas.
Dalam etnografi, wanita selalu muncul sebagai pokok perhatian antropologi tradisional. Kemunculan wanita sebagai pokok perhatian tersebut karena antropologi tradisional memiliki ketertarikan terhadap hubungan kekerabatan dan pernikahan. Dari penjelasan tersebut, yang menjadi permasalahan di sini bukanlah studi empirisnya, melainkan kesalahan dalam representasi.
Dalam risetnya, Moore melakukan pengamatan terhadap permasalahan dalam representasi. Ia melakukan analisis perbedaan penafsiran di antara etnografer pria dan wanita terhadap peranan wanita dari suku Aborigin di Australia.
Dan hasil dari penelitian tersebut, etnografer pria berpendapat tentang peranan wanita yang profan, tidak penting secara ekonomi, dan tidak di ikut sertakan dalam ritual. Sedangkan, etnografer wanita mendeskripsikan peranan wanita sebagai pusat dalam pola kehidupan, pentingnya peranan wanita dalam ritual dan tentang bagaimana pria menghormati wanita. Dari gambaran tersebut di ketahui wanita sama-sama hadir dalam etnografi, tetapi dengan sudut pandang terhadap perannya yang cukup berbeda.
Pada tahun 1970-an antropologi perempuan mulai berkembang dengan mengkonfrontasi permasalahan tentang bagaimana peranan wanita dikisahkan dalam tulisan-tulisan antropologi. Inti permasalahan dengan cepat di identifikasi sebagai salah satu bias pria. Bias pria sendiri merupakan tindakan yang memandang peranan pria lebih penting dari wanita. Dan 3 tingkatan bias tersebut antara lain:
Pada lapisan pertama, merupakan hasil dari gagasan para antropolog. Yang membawa penelitian ke dalam berbagai macam asumsi dan ekspektasi tentang hubungan antara wanita dan pria, dan juga perihal pentingnya hubungan tersebut dalam melakukan pemahaman terhadap masyarakat yang lebih luas.
Pada lapisan kedua, merupakan bias yang melekat terhadap masyarakat yang diteliti. Seperti adanya anggapan yang berkembang dalam masyarakat, bahwa wanita dianggap lebih rendah dari pria.
Dan pada lapisan ketiga, merupakan bias yang melekat pada budaya barat. Adapun maksudnya adalah, ketika peneliti melihat hubungan asimetris (tidak seimbang) antara wanita dan pria yang berbeda kebudayaan, para peneliti tersebut beranggapan ketidakseimbangan tersebut merupakan analog (penyesuaian) terhadap pengalaman budaya mereka sendiri, mengenai ketidaksetaraan sifat hubungan gender pada masyarakat barat. Berikutnya, sejumlah antropolog feminis menyatakan bahwa, hubungan antara pria dan wanita yang bahkan egaliter (bersifat sama) sulit untuk dipahami potensial kesetaraannya, hal ini karena para antropolog bersikeras menafsirkan perbedaan dan asimetris sebagai ketidaksetaraan dan hierarki.
Bagaimanapun juga, melakukan koreksi terhadap bias yang muncul di kalangan laki-laki dalam penulisan laporan, hanya akan berdampak kecil terhadap perubahan, karena permasalahan yang sebenarnya adalah tentang penempatan wanita pada penelitian teoritis dan analitis, dan bukan pada penelitian empiris.
Sumber bacaan: Moore, Henrietta.L. 1998. Feminism and Anthropology. South Minneapolis. University of Minnesota Press.
