Melati Suci Hadiah Guruh Soekarnoputra untuk Sang Ibu

Suci
Suci melati
Suntingan Ibu Pertiwi
Lambang nan luhur budi pekerti
Tajuk bang permata
Siratan bintang kejora
Kan kupersembahhkan
Bagimu pahlawan bangsa
Mei 1980, Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra menulis lirik sembari menggubah nada di pianonya. Pagelaran Karya Guruh Sukarno Putra I bersama Swara Maharddhika di tahun sebelumnya sukses besar. Guruh Soekarnoputra lalu menyiapkan pagelaran lanjutan bertajuk "Untukmu Indonesiaku!" yang tayang empat hari di September.
Pagelaran lanjutan itu bukan sekadar ajang memamerkan kemampuannya sebagai maestro dan kecintaannya terhadap Nusantara. Ada satu karya spesial yang ia siapkan untuk sang ibu, Fatmawati: "Melati Suci".
Tiba-tiba telepon rumahnya berdering. Sambungan jarak jauh dari Tanah Suci. Kepada Fatmawati yang sedang menunaikan ibadah umrah, Guruh bercerita tentang proyek dan kado spesialnya ini.
Dalam sebuah wawancara, Guruh bercerita, saat itu ibunya mengaku menjalani ibadah dengan perasaan gembira. Rencananya, dua hari kemudian, sang ibu akan kembali ke Jakarta.
Namun Tuhan berkehendak lain. 14 Mei 1980, Fatmawati mendadak terkena serangan jantung dalam penerbangannya menuju Jakarta. Pesawat harus mendarat darurat di Malaysia, dan Fatmawati langsung dibawa ke rumah sakit di Kuala Lumpur.
Sore harinya, Fatmawati dinyatakan wafat tanpa sempat mendengar dan melihat langsung mahakarya persembahan Guruh untuknya.
Melati Suci Fatmawati
Lagu "Melati Suci" dibuat Guruh karena terinspirasi dari sosok ibunya. Melati dianggap sebagai simbol kemuliaan, budi luhur, dan kesucian. Dalam budaya Indonesia pun, melati digunakan di banyak tradisi dan upacara sakral.
Fatmawati bukan perempuan biasa. Ia adalah putri pengusaha dan tokoh Muhammadiyah dari Bengkulu, Haji Hasan Din, bersama Siti Chadijah. Di tahun 1938, ia bertemu Sukarno yang tinggal di rumah Haji Hasan Din setelah diasingkan oleh Belanda.
Selama Sukarno tinggal di Bengkulu, keduanya kerap berdiskusi. Sukarno yang saat itu sudah menikah dengan Inggit Garnasih terpesona dengan kecerdasan, keberanian berpendapat, dan semangat keislaman Fatmawati.
Setelah bercerai dengan Inggit, Sukarno meminang Fatmawati di tahun 1943. Dua tahun kemudian, saat Sukarno-Moh Hatta bersiap memproklamasikan kemerdekaan, Fatmawati-lah yang menjahit benderanya.
Ia bergegas mencari kain merah dan putih, lalu menjahitnya jadi satu dengan mesin jahit sederhana. Kain merah melambangkan keberanian, dan putih mewakili kesucian. Paginya bendera itu dikibarkan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud di halaman rumah untuk pertama kalinya.
Dari pernikahannya dengan Sukarno, Fatmawati memiliki lima orang anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan yang terakhir, Guruh Soekarnoputra.
Ada cerita tersendiri di balik kelahiran Guruh. Fatmawati memang ingin punya anak laki-laki lagi untuk menemani anak sulungnya, Guntur. Dua tahun setelah kelahiran Sukmawati, Fatmawati hamil lagi. Saat itu ia sudah tinggal di Istana Merdeka dan jadi Ibu Negara Indonesia yang pertama.
Suatu siang, Fatmawati sedang berbaring santai, sedangkan Bung Karno baru berencana jalan-jalan ke kebun. Tiba-tiba ia kontraksi. Bung Karno yang baru beranjak beberapa langkah di kebun istana langsung dipanggil kembali. Jelang jam 12 siang, Guruh lahir berkalung usus di Istana Negara, lebih cepat dari yang diperkirakan.
Setelah melahirkan Guruh, Fatmawati sempat kritis karena pendarahan hebat. Oleh dokter ia kemudian diingatkan untuk tidak hamil lagi karena akan sangat berisiko.
Sebagai istri dan ibu negara, Fatmawati tak cuma melahirkan keturunan sang proklamator. Ia selalu hadir mendampingi suaminya pergi ke penjuru negeri. Tapi ujian itu datang bukan dari pilihan politik Sukarno. Ujian itu datang dari keinginan Sukarno meminang perempuan-perempuan lain.
Fatmawati memilih keluar dari istana saat Sukarno menikahi Siti Hartinah. Awalnya ia dilarang, tapi Fatmawati tetap memilih keluar membawa kelima anaknya, kembali ke rumahnya di Jalan Sriwijaya, yang kelak ditempati oleh Guruh.
Ia banyak menghabiskan waktu berkegiatan sosial, termasuk mendirikan RS Fatmawati. Saat Sukarno sakit keras, Fatmawati tengah tinggal berdua dengan Guruh. Rachmawati dan Sukmawati tinggal di Jalan Wijaya, Guntur di Bandung, dan Megawati ikut suaminya ke Madiun.
Bisa dibilang, Guruh adalah anak yang paling lama tinggal bersama Fatmawati. Setelah Sukarno meninggal, ekonomi keluarganya makin sulit. Rumah yang mereka tinggali harus disewakan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah Guruh. Tumbuh melihat perjuangan dan keteguhan sang Ibu, membuat Guruh terkesan dan hendak mengabadikan sosoknya ke dalam sebuah karya: "Melati Suci".
Lagu ini memang tak sempat diperdengarkan langsung ke Fatmawati. Tapi Guruh tetap menampilkannya bersama Swara Maharddhika dalam pagelaran "Untukmu Indonesiaku!" selama empat hari berturut-turut di bulan September 1980.
Kini Guruh telah berpulang. Ia dimakamkan tepat di sebelah pusara sang ibu di TPU Karet Bivak. Seperti mimpi Guruh, "Melati Suci", lambang cinta dan kekaguman seorang anak kepada ibunya, tetap abadi.
