Kumparan Logo

Memahami Chairil Anwar dan Menyelami Ilusi Keabadian

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Monolog metafiksi "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Monolog metafiksi "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

"Kalau abadi berarti kehilangan arti, lebih baik aku lenyap bersama kata-kataku.”

Chairil Anwar tak pernah berniat menjadi penyair yang namanya melambung, lalu hilang ditelan zaman. Si Binatang Jalang ini punya satu obsesi besar: "mengalahkan" kematian.

Larik "Aku mau hidup seribu tahun lagi" bukan sekadar jerit kesombongan semata. Ini adalah bentuk pertaruhan eksistensial, setelah menyadari betapa fana dan ringkihnya manusia. Ia mencoba meretas batas fisik, dan meniupkan roh ke dalam kata-kata yang menolak tunduk pada gilasan waktu.

Sialnya, takdir Chairil tak sejalan dengan impian keabadiannya. Ia wafat di usia 27 tahun. Gaya hidup bohemian yang liar di tanah rantau, membuat tubuhnya rapuh digerogoti penyakit.

Dibayangi hantu kematian sejak usia muda, membuat Chairil justru terus berupaya "menantang maut" itu sendiri. Bukan lewat eksistensi fisik, melainkan karya sastra yang merombak total struktur bahasa puisi Indonesia modern.

"Sekali berarti, sudah itu mati."

Monolog "Chairil Anwar: Umbra et Anima" yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Minggu, 16 Agustus 2026. Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

Ambisi keabadian itulah yang ditangkap oleh Iswadi Pratama, seorang penyair, penulis, aktor, dan sutradara teater di balik "Chairil Anwar: Umbra et Anima". Chairil Anwar, bayangan, dan jiwa.

"Aku mencoba melihat Chairil Anwar dari perspektif yang bukan biografis ya, tetapi dari pergulatan eksistensial dia, yang aku mencatat bahwa ada satu tema yang cukup penting dan besar dalam puisi-puisinya, yaitu kehendak untuk abadi," kata Iswadi.

Kehendak ini, lanjutnya, salah satunya tertuang dalam puisi Chairil yang paling terkenal: "Aku". Bagi Iswadi, larik "aku ingin hidup seribu tahun lagi" bukan sekadar pernyataan puitis saja tetapi pernyataan eksistensial.

Pada dasarnya manusia punya obsesi ingin abadi. Itulah mengapa manusia suka menyimpan kenangan, ingin berpasangan, punya anak, berkarya. Sejatinya, menurut Iswadi, itulah upaya manusia untuk melawan keterbatasan dan kefanaannya; untuk mengekalkan dirinya.

Obsesi ini mengingatkan Iswadi pada naskah "Dr. Faust" yang ditulis oleh Johann Wolfgang von Goethe dari Jerman. Dalam naskah ini dikisahkan bagaimana Dr. Faust menggadaikan jiwanya kepada iblis, Mephistopheles, demi mendapatkan pengetahuan tanpa batas dan kesenangan duniawi.

Iswadi Pratama, penulis naskah dan sutradara "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

"Dua narasi besar ini kemudian aku coba pertemukan antara Mephistopheles yang sudah menjebak Dr. Faust sehingga dia menderita dan kehilangan semuanya dengan Chairil yang punya obsesi untuk abadi," tutur Iswadi.

Tetapi dalam naskah ini, Chairil digambarkan tidak begitu saja percaya dan bisa diperdaya. Ia mempertanyakan, untuk apa menjadi abadi jika kehilangan makna? Inilah yang Iswadi coba tuangkan dalam naskah monolognya.

Naskah ini, kemudian dibawakan dengan begitu apik oleh Haikal Mubarok, salah satu aktor utama di kelompok Teater Satu Lampung yang didirikan Iswadi. Dalam gelaran ini, Haikal tak cuma harus berperan sebagai Chairil yang tengah bergelut dengan ajal, tetapi juga Mephistopheles dan Dr. Faust.

"Yang paling menantang adalah bagaimana menyelami sisi batin seorang Chairil Anwar," ungkap Haikal.

Memerankan Chairil secara biografis jelas akan lebih mudah ketimbang mencoba menghadirkannya dalam naskah metafiksi. Yang harus dipahami bukan cuma kisah hidupnya, tetapi juga apa yang terjadi saat puisi-puisi itu lahir di ambang kematian Chairil dan bagaimana pergolakan batinnya kala itu.

Haikal Mubarok, monolog di "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

Tak cukup di situ, Haikal harus membawakan tokoh-tokoh berbeda dalam satu monolog. Mephistopheles, digambarkan bukan sebagai iblis dengan wujud tunggal. Ia adalah iblis yang punya beragam bentuk dengan satu tujuan.

"Entah itu dalam suara, bentuk-bentuk yang saya hadirkan di panggung entah itu binatang, anak-anak, atau ya apa pun segala kemungkinan bentuk entitas yang bisa hadir oleh mephistopheles itu," jelasnya.

Karya ini dihadirkan dalam waktu sekitar 60 menit saja—yang benar-benar tak terasa karena pergantian antar-babak begitu rapat, cepat, terstruktur. Tetapi persiapannya sungguh panjang, sekitar dua tahun lamanya.

Haikal mengungkapkan, penampilannya ini hanya sekitar 70 persen dari isi naskah yang ada. Saat ini mereka tengah mempersiapkan penampilan penuh naskah tersebut. Waktunya, belum diumumkan.

instagram embed

Pada akhirnya, naskah "Chairil Anwar: Umbra et Anima" tak cuma menampilkan penggalan-penggalan karya ikonik Sang Pujangga. Naskah ini mengajak kita untuk menyelami pergulatan batin Chairil Anwar dan ilusi dari sebuah keabadian.

Sama seperti konsep sein zum tode—ada, menuju, kematian—yang digagas filsuf Jerman, Martin Heidegger. Kematian bukan akhir hidup, itu adalah kodrat manusia yang hidupnya memang terus berjalan menuju kematian, tak bisa diwakilkan, tak bisa digantikan.

Kematian bukanlah musuh. Ia adalah alat yang membuat manusia lepas dari hidup yang dangkal tanpa makna. Heidegger percaya, kesadaran akan waktu yang terbatas akan mendorong manusia untuk memakai sisa hidupnya dengan jujur, nyata, dan penuh arti.

Dan Chairil Anwar adalah buktinya.