Konten dari Pengguna

Komunikasi Politik Gen Z: Kenapa Mereka Susah Dibohongi Lagi Soal Politik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Octaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi generasi muda dalam mencari sebuah informas. Foto: Thang Cao/Pexels, 10 Juni 2024.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generasi muda dalam mencari sebuah informas. Foto: Thang Cao/Pexels, 10 Juni 2024.

Generasi Z tumbuh di tengah banjir informasi, algoritma yang mengenal mereka lebih baik daripada partai politik mana pun, dan skeptisisme yang terbentuk dari melihat janji-janji politik yang berulang kali tidak terealisasi. Dari situ lahir cara berkomunikasi politik yang berbeda dari generasi sebelumnya, bukan sekadar soal platform yang dipakai, melainkan soal nilai yang mereka pegang saat berbicara tentang kekuasaan, kebijakan, dan keadilan. Fenomena ini menjadi salah satu ciri utama komunikasi politik Gen Z yang kini mulai banyak dibahas para pengamat media.

Politik Bukan Lagi Monolog, tetapi Percakapan

Generasi Z dibesarkan oleh media sosial yang sifatnya interaktif, bukan searah seperti televisi atau koran yang dikonsumsi generasi sebelumnya. Akibatnya, mereka menolak pola komunikasi politik yang hanya menyampaikan pesan dari atas ke bawah tanpa ruang untuk bertanya atau menyanggah. Bagi Gen Z, pejabat publik atau calon pemimpin yang hanya muncul saat kampanye lalu menghilang setelah terpilih dianggap tidak kredibel. Mereka menuntut dialog yang berkelanjutan, di mana masukan warga benar-benar direspons, bukan sekadar formalitas seremonial.

Pola ini terlihat jelas dari bagaimana isu-isu publik kini lebih sering bergulir dari unggahan warganet di media sosial dibanding dari konferensi pers resmi. Tagar, utas panjang di platform X, hingga video pendek berisi kritik kebijakan menjadi corong aspirasi yang lebih cepat menjangkau publik dibanding rilis pers pemerintah maupun partai politik.

Kejujuran Mengalahkan Kesempurnaan Citra dalam Komunikasi Politik Gen Z

Salah satu ciri khas cara Gen Z menilai komunikasi politik adalah keengganan mereka terhadap pencitraan yang terlalu rapi dan seragam. Konten yang terasa dipoles berlebihan justru dicurigai menyembunyikan sesuatu. Sebaliknya, gaya komunikasi yang jujur, apa adanya, bahkan menunjukkan kekurangan atau proses belajar seorang tokoh publik, justru dianggap lebih dapat dipercaya.

Fenomena ini menjelaskan mengapa video mentah tanpa banyak sunting, siaran langsung tanpa naskah, atau jawaban blak-blakan atas pertanyaan sulit, lebih efektif menyentuh generasi ini dibanding iklan politik yang diproduksi secara mahal dan sempurna. Bagi Gen Z, autentisitas menjadi mata uang kepercayaan yang jauh lebih berharga dibanding kesan formal dan berwibawa yang selama ini menjadi standar komunikasi politik konvensional.

Isu di Atas Identitas

Generasi Z cenderung menilai aktor politik dari sikap mereka terhadap isu-isu konkret, seperti perubahan iklim, kesehatan mental, kesetaraan gender, hingga lapangan kerja bagi anak muda, dibanding dari afiliasi partai atau identitas kelompok semata. Ini membuat loyalitas politik generasi ini terasa lebih cair dan tidak terikat secara kaku pada satu kubu ideologis, sehingga sebuah kampanye komunikasi politik yang hanya mengandalkan simbol partai tanpa substansi kebijakan yang jelas berisiko diabaikan begitu saja.

Kondisi ini menuntut para komunikator politik untuk lebih siap menjelaskan argumen berbasis data dan solusi nyata, karena generasi ini terbiasa memverifikasi klaim secara mandiri melalui pencarian daring sebelum memutuskan untuk memercayai sebuah narasi politik.

Humor dan Kreativitas sebagai Senjata Baru

Satire, meme, dan konten kreatif menjadi bahasa politik yang jauh lebih efektif menembus perhatian Gen Z dibanding pidato formal yang panjang dan kaku. Kritik terhadap kebijakan publik kini kerap dibungkus dalam bentuk video pendek yang lucu namun tajam, atau ilustrasi visual yang mudah dibagikan ulang. Cara ini terbukti mampu menyebarkan pesan politik lebih cepat dan lebih luas dibanding pernyataan resmi yang disampaikan melalui saluran konvensional.

Namun, kecenderungan ini juga membawa risiko tersendiri, karena kompleksitas sebuah kebijakan publik terkadang tereduksi menjadi lelucon semata tanpa pembahasan substansi yang memadai, sehingga dibutuhkan keseimbangan antara daya tarik hiburan dan kedalaman informasi.

Partisipasi Tanpa Menunggu Undangan

Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung menunggu ruang formal seperti pemilu atau forum resmi untuk bersuara, Gen Z lebih memilih menciptakan ruang partisipasinya sendiri. Petisi daring, gerakan tagar, hingga kampanye penggalangan dana untuk advokasi sosial menjadi bentuk keterlibatan politik yang mereka anggap setara pentingnya dengan hak pilih di bilik suara. Bagi mereka, politik tidak berhenti pada momen pemilihan, melainkan berlangsung setiap hari melalui pengawasan aktif terhadap kebijakan dan kinerja para pemimpin yang telah dipilih.

Menutup Manifesto: Apa yang Dituntut Gen Z dari Komunikasi Politik

Jika dirangkum, manifesto komunikasi politik Gen Z sesungguhnya menuntut lima hal utama: dialog dua arah yang berkelanjutan, kejujuran yang mengalahkan kesan sempurna, argumen berbasis isu dan data, kreativitas dalam penyampaian pesan, serta ruang partisipasi yang tidak dibatasi oleh momentum politik formal semata. Bagi para pembuat kebijakan, partai politik, maupun tokoh publik yang ingin merangkul generasi ini, memahami pola komunikasi tersebut bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak untuk tetap relevan di tengah lanskap politik yang terus berubah seiring pergantian generasi pemilih.