Bahasa di Tengah Perubahan Zaman: Dari Kekuasaan hingga Tantangan AI

Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari octavia wahyu nengsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa sering kali dianggap hanya sebagai alat untuk berbicara dan menyampaikan pesan. Padahal, jika melihat perjalanan sejarahnya, bahasa memiliki hubungan yang cukup erat dengan kehidupan sosial, budaya, bahkan kekuasaan. Bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat dapat berkembang, menyebar, bertahan, atau justru perlahan ditinggalkan karena adanya perubahan sosial dan politik.
Perjalanan bahasa juga tidak berhenti pada perkembangan masyarakat secara langsung. Saat ini, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ikut membawa perubahan baru dalam penggunaan bahasa. Kehadiran berbagai teknologi berbasis AI membuat bahasa semakin mudah diproses secara digital. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai nasib bahasa yang belum memiliki banyak data digital, terutama bahasa daerah.
Bahasa dan Perjalanan Sejarah Manusia
Sejak awal kehidupan manusia, komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarsesama. Komunikasi pada masa awal berkembang melalui berbagai bentuk, seperti isyarat dan vokalisasi, sebelum kemudian membentuk sistem bahasa yang semakin terstruktur.
Perkembangan masyarakat dan perpindahan manusia juga menyebabkan bahasa mengalami penyebaran serta perubahan. Dari proses tersebut muncul berbagai rumpun bahasa yang tersebar di berbagai wilayah dunia. Di kawasan Nusantara, salah satu rumpun yang memiliki sejarah panjang adalah Austronesia. Selain itu, terdapat pula rumpun Indo-Eropa, Sino-Tibet, dan Afro-Asiatik.
Perjumpaan antarmasyarakat melalui migrasi dan perdagangan kemudian membuat bahasa saling berhubungan. Satu bahasa dapat memengaruhi bahasa lain melalui interaksi yang berlangsung dalam waktu panjang. Dengan demikian, bahasa tidak dapat dilepaskan dari perjalanan masyarakat yang menggunakannya.
Ketika Bahasa Menjadi Bagian dari Kekuasaan
Sejarah juga menunjukkan bahwa bahasa dapat digunakan untuk memperkuat kekuasaan. Dalam suatu pemerintahan atau imperium, bahasa tertentu dapat ditempatkan sebagai bahasa yang digunakan dalam administrasi, hukum, pendidikan, dan perdagangan.
Materi perkuliahan mengenai sejarah perkembangan bahasa menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Latin pada Kekaisaran Romawi dan bahasa Inggris dalam perkembangan Kerajaan Inggris menjadi contoh bagaimana bahasa penguasa dapat digunakan untuk mengatur wilayah yang berada di bawah kekuasaannya. Bahasa akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pemerintahan.
Keadaan tersebut dapat membuat bahasa masyarakat lokal kehilangan ruang penggunaannya. Ketika bahasa tertentu diwajibkan dalam pendidikan atau administrasi, masyarakat yang menguasainya akan memiliki akses yang lebih besar terhadap berbagai fasilitas sosial dan ekonomi.
Hal inilah yang kemudian berkaitan dengan konsep linguistic imperialism atau imperialisme linguistik.
Imperialisme Linguistik dan Dominasi Bahasa
Robert Phillipson melalui konsep Linguistic Imperialism membahas bagaimana dominasi bahasa dapat dipertahankan melalui ketimpangan dalam berbagai bidang. Dominasi tersebut tidak hanya terjadi karena suatu bahasa banyak digunakan, tetapi juga dapat diperkuat melalui lembaga pendidikan, administrasi, ekonomi, dan kebijakan tertentu.
Salah satu bentuknya adalah ketika bahasa penguasa ditempatkan sebagai bahasa utama dalam pendidikan dan pemerintahan. Bahasa tersebut kemudian dapat dipandang sebagai bahasa yang lebih bergengsi, sedangkan bahasa lokal dianggap kurang memiliki nilai dalam ruang formal.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan menggunakan bahasa tertentu juga dapat berhubungan dengan kesempatan sosial dan ekonomi. Penguasaan bahasa yang digunakan dalam pendidikan atau perdagangan internasional, misalnya, dapat membuka akses terhadap pekerjaan dan lingkungan sosial tertentu.
Karena itu, perkembangan bahasa tidak selalu berlangsung secara netral. Di dalamnya terdapat hubungan antara bahasa, masyarakat, dan kekuasaan.
Bahasa Inggris dan Perubahan Dunia
Salah satu contoh yang dapat dilihat saat ini adalah posisi bahasa Inggris sebagai bahasa yang banyak digunakan dalam komunikasi internasional. Bahasa Inggris digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, bisnis, teknologi, hingga komunikasi antarnegara.
Namun, dominasi tersebut tidak berarti bahwa bahasa Inggris memiliki struktur bahasa yang secara otomatis lebih unggul dibandingkan bahasa lainnya. Perkembangannya berkaitan dengan sejarah kekuatan politik, ekonomi, dan pengaruh negara-negara berbahasa Inggris.
Kondisi tersebut membuat bahasa Inggris memiliki posisi penting dalam kehidupan global. Di satu sisi, penguasaan bahasa Inggris dapat membantu seseorang mengakses ilmu pengetahuan dan berkomunikasi dengan masyarakat dari berbagai negara. Di sisi lain, dominasi satu bahasa secara berlebihan dapat menjadi persoalan apabila menyebabkan bahasa lain semakin jarang digunakan.
Karena itu, menguasai bahasa asing tidak harus berarti meninggalkan bahasa sendiri.
Bahasa Indonesia dan Pilihan Para Pemuda
Jika melihat sejarah Indonesia, persoalan bahasa juga memiliki perjalanan yang menarik. Bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai bahasa perantara di berbagai wilayah Nusantara.
Pada Sumpah Pemuda 1928, para pemuda memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pilihan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas kebangsaan. Bahasa Indonesia tidak ditempatkan sebagai milik satu kelompok etnis saja, tetapi digunakan sebagai alat pemersatu masyarakat yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang beragam.
Setelah Indonesia merdeka, pembinaan bahasa Indonesia terus dilakukan. Perkembangan ejaan dan penyusunan tata bahasa baku menjadi bagian dari usaha untuk menjaga fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Di sinilah posisi bahasa Indonesia menjadi penting. Bahasa Indonesia dapat menjadi penghubung masyarakat dari berbagai daerah tanpa harus menghilangkan keberadaan bahasa daerah masing-masing.
Bahasa Daerah di Tengah Perubahan Sosial
Indonesia dikenal memiliki keragaman bahasa daerah. Namun, keberadaan bahasa yang banyak tidak selalu berarti seluruhnya berada dalam kondisi aman.
Perubahan pola kehidupan masyarakat dapat memengaruhi keberlangsungan bahasa daerah. Perkawinan antardaerah, perpindahan masyarakat ke kota, kurangnya penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan pendidikan, serta semakin kuatnya penggunaan bahasa gaul dapat menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa.
Salah satu persoalan yang cukup penting adalah ketika orang tua tidak lagi menggunakan bahasa daerah kepada anak-anaknya. Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan generasi berikutnya dalam menggunakan bahasa ibu dapat semakin berkurang.
Padahal, bahasa daerah tidak hanya berisi kosakata. Di dalamnya terdapat cerita rakyat, ungkapan, nilai budaya, pengetahuan mengenai lingkungan, serta cara masyarakat memahami kehidupan.
Ketika sebuah bahasa berhenti digunakan oleh penuturnya, yang berisiko hilang bukan hanya sistem komunikasinya, tetapi juga sebagian pengetahuan budaya yang tersimpan di dalam bahasa tersebut.
Dari Bahasa Daerah ke Dunia Digital
Perubahan teknologi menghadirkan persoalan baru. Saat ini, banyak aktivitas manusia berlangsung melalui ruang digital. Mesin pencari, media sosial, aplikasi penerjemah, teknologi pengenalan suara, hingga AI bekerja menggunakan data bahasa dalam jumlah besar.
Persoalannya, tidak semua bahasa memiliki jumlah data digital yang sama. Bahasa yang banyak digunakan di internet tentu memiliki lebih banyak teks dan data yang dapat dipelajari oleh sistem komputer dibandingkan bahasa yang hanya digunakan dalam komunitas kecil.
Materi perkuliahan menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu tantangan menuju digital language death, yaitu keadaan ketika bahasa yang minim jejak dalam korpus digital semakin tersisih dari perkembangan teknologi. Pada saat yang sama, teknologi AI sebenarnya juga dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan dan mengembangkan bahasa yang terancam melalui teknologi seperti speech-to-text dan penerjemahan mesin.
Artinya, teknologi bukan hanya membawa ancaman. Teknologi juga dapat menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan bahasa.
AI: Ancaman atau Kesempatan bagi Bahasa?
Kemunculan AI membuat persoalan bahasa menjadi semakin menarik. Model bahasa seperti ChatGPT dan berbagai teknologi serupa membutuhkan data dalam jumlah besar untuk dapat bekerja. Bahasa yang memiliki banyak data digital akan lebih mudah dikembangkan dalam teknologi tersebut.
Sebaliknya, bahasa daerah yang hanya memiliki sedikit dokumen digital menghadapi tantangan yang berbeda. Jika bahasa tersebut tidak segera didokumentasikan dalam bentuk digital, generasi mendatang mungkin akan semakin jarang menemukannya dalam teknologi yang mereka gunakan sehari-hari.
Karena itu, digitalisasi bahasa daerah menjadi salah satu pekerjaan yang penting. Kamus digital, arsip cerita rakyat, rekaman percakapan, dokumentasi sastra lisan, hingga korpus bahasa dapat menjadi sumber data untuk menjaga keberadaan bahasa di ruang digital.
Peran generasi muda juga tidak kalah penting. Pelestarian bahasa tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk kegiatan formal. Bahasa daerah dapat diperkenalkan melalui video pendek, podcast, musik, konten edukasi, cerita, atau media sosial. Dengan cara tersebut, bahasa daerah dapat tetap hadir dalam kehidupan generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Menjaga Tiga Pilar Bahasa
Di tengah perkembangan global dan teknologi, menjaga bahasa tidak berarti menutup diri dari bahasa asing. Justru ketiganya dapat ditempatkan sesuai dengan kebutuhan.
Bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai bahasa nasional, bahasa negara, dan sarana komunikasi antarmasyarakat Indonesia. Bahasa daerah menjadi bagian dari identitas budaya dan menyimpan berbagai pengetahuan lokal. Sementara itu, bahasa asing diperlukan untuk komunikasi internasional, pendidikan, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Konsep tersebut sejalan dengan gagasan Trigatra Bangun Bahasa, yaitu mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiga unsur tersebut bukan untuk dipertentangkan, melainkan digunakan secara seimbang sesuai dengan kebutuhan dan konteks penggunaannya.
Kemampuan berbahasa asing tidak perlu membuat seseorang meninggalkan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Begitu juga dengan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak berarti bahasa daerah harus kehilangan tempatnya.
Menjaga Bahasa di Tengah Perkembangan AI
Perubahan bahasa merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Bahasa akan terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat, teknologi, dan kebutuhan penggunanya. Namun, perkembangan tersebut tetap perlu disertai kesadaran untuk menjaga keberagaman bahasa.
Di era AI, upaya menjaga bahasa tidak cukup hanya dengan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Bahasa juga perlu memiliki ruang dalam dunia digital. Dokumentasi, pembuatan korpus, digitalisasi naskah, penyusunan kamus, serta pengembangan teknologi bahasa dapat menjadi bagian dari usaha tersebut. Materi perkuliahan juga menempatkan mahasiswa sastra sebagai salah satu pihak yang dapat berkontribusi melalui anotasi data linguistik, transliterasi naskah, dan penyusunan kamus komputasi.
Pada akhirnya, persoalan bahasa bukan sekadar persoalan kata dan tata bahasa. Bahasa berkaitan dengan identitas, kebudayaan, pengetahuan, dan sejarah masyarakat yang menggunakannya.
Teknologi boleh terus berkembang. Bahasa pun akan terus berubah. Yang perlu dijaga adalah agar perkembangan tersebut tidak membuat bahasa-bahasa yang lebih kecil semakin kehilangan ruang.
Sebab, ketika sebuah bahasa tidak lagi digunakan, yang berkurang bukan hanya jumlah bahasa di dunia, tetapi juga salah satu cara manusia memahami dan menceritakan kehidupannya.
