Gen Alpha dan Asbun: Benarkah Parenting Milenial Membentuk Karakter Gen Alpha?

Marketing Lecturer, Widya Mandala Surabaya Catholic University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Yuliasti Ika Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Gen Alpha memang beda, asbunnya itu loh". Kalimat semacam itu semakin sering muncul di media sosial Indonesia. Tidak hanya sisi lucu, tetapi kecepatan beradaptasi dengan teknologi serta kepercayaan diri yang patut diapresiasi. Anak-anak yang lahir di era digital ini kerap digambarkan spontan, berani berkomentar, akrab dengan gawai sejak kecil, bahkan kini tumbuh ketika kecerdasan artifisial sudah menjadi bagian dari keseharian. Istilah seperti “asbun pro max” pun menjadi cara populer netizen untuk menggambarkan tingkah mereka yang dianggap unik dibandingkan generasi sebelumnya. Di tengah maraknya konten unik Gen Alpha di sekolah, di acara kumpul keluarga, bahkan di kuburan, celetukan Gen Alpha sering kali mengejutkan orang dewasa.
Namun, apakah Gen Alpha memang satu kelompok yang seragam?
Sebuah riset terbaru memberikan jawaban yang menarik. Artikel “Millennial parents and Alpha children: parental values and ambitions of millennials for raising their children” karya Joeri Van den Bergh, Cristian Buzeta, dan Patrick De Pelsmacker, diterbitkan pada 2 September 2026 dalam Young Consumers: Insight and Ideas for Responsible Marketers, Emerald Publishing.
Penelitian ini melibatkan 1.440 pasangan orang tua Milenial dan anak Gen Alpha berusia 8-14 tahun di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Peneliti ingin melihat dua hal: seberapa beragam nilai dan ambisi orang tua Milenial dalam membesarkan anak, serta seberapa jauh nilai tersebut selaras dengan nilai dan ambisi anak-anak mereka.
Hasilnya menunjukkan lima profil orang tua Milenial.
Pertama, High-Intensity Generalists, yakni orang tua yang sangat serius mendorong berbagai aspek perkembangan anak.
Kedua, High-Intensity Strivers, yang juga berintensitas tinggi tetapi lebih kuat menekankan pencapaian, ambisi, dan keberhasilan.
Ketiga, Moderate-Intensity Generalists, yang memiliki perhatian cukup luas terhadap perkembangan anak, tetapi dengan intensitas sedang.
Keempat, Selective Stability-Oriented Parents, yang lebih menekankan integritas, stabilitas, dan nilai prososial.
Kelima, Low-Intensity Generalists, yang tetap memiliki perhatian terhadap berbagai aspek perkembangan anak, tetapi tidak terlalu preskriptif atau ambisius.
Menariknya, peneliti menemukan bahwa perbedaan tersebut bukan terutama soal nilai apa yang dianggap penting, melainkan seberapa intens orang tua mengejar nilai dan ambisi tersebut.
Lalu, apakah anak-anak mengikuti orang tuanya? Sebagian, tetapi tidak sepenuhnya.
Penelitian menemukan adanya keselarasan antara nilai orang tua dan anak. Anak dari orang tua yang memiliki intensitas nilai dan ambisi tinggi cenderung lebih banyak berada dalam kelompok yang berorientasi pada pencapaian dan tren. Sebaliknya, anak dengan profil lebih santai atau Laid-Back Fun-Seekers lebih banyak ditemukan pada kelompok orang tua dengan intensitas nilai dan ambisi yang lebih rendah.
Tetapi ada satu catatan penting yakni Gen Alpha bukan sekadar hasil cetakan orang tuanya.
Anak-anak tetap memiliki pilihan, preferensi, dan otonomi. Karena itu, hubungan orang tua dan anak dalam penelitian ini lebih tepat dilihat sebagai proses pengaruh dua arah. Bahkan, peneliti menyebut respons dalam rumah tangga sebagai semacam negosiasi dimana orang tua memengaruhi anak, tetapi anak juga dapat memengaruhi keputusan keluarga.
Temuan ini sekaligus menjadi pengingat agar kita berhati-hati menggunakan label generasi. Menyebut Gen Alpha sebagai “anak-anak yang kecanduan gawai”, “asbun”, atau “tidak seperti generasi dulu” mungkin menarik sebagai bahan percakapan media sosial, tetapi belum cukup untuk memahami mereka.
Bagi keluarga, sekolah, dan kelak perguruan tinggi, tantangannya bukan mencari satu formula untuk menghadapi “Gen Alpha”. Justru yang perlu disiapkan adalah ruang yang cukup luas untuk menghadapi keberagaman di dalam generasi tersebut.
Sebab, anak yang tumbuh bersama AI tidak otomatis memiliki ambisi yang sama. Anak yang mengenal gawai sejak kecil tidak otomatis memiliki cara berpikir yang sama. Dan anak yang disebut Gen Alpha tetaplah individu dengan keluarga, pengalaman, nilai, dan pilihan yang berbeda.
