Resensi Buku: Orang Gagal yang Telanjangi Manusia

Selalu bermimpi setinggi langit, meski seringnya jatuh ke lautan.
Tulisan dari Okky Ardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selalu ada puluhan hingga ribuan kegagalan untuk menjejak satu keberhasilan. Pernyataan tersebut mungkin terdengar klise, tapi miliaran manusia di dunia meyakininya. Bahwa manusia memang berteman karib dengan banyak penderitaan dan kata sifat muram lainnya: kesedihan, kemalangan, keterpurukan, ambyar tenan.
Arthur Schopenhauer, filsuf tersohor berpredikat bapak pesimisme modern, pernah berkata, setiap penderitaan manusia yang berbeda sejatinya adalah keadaan paling umum dalam kehidupan ini.
Namun, pengakuan manusia atas deretan penderitaan merupakan cerita yang pantang disebar secara telanjang. Dalam kondisi terpuruk, kebanyakan manusia akan memodifikasi (re-framing) penderitaannya untuk beberapa tujuan: mendapat simpati atau biar terlihat tangguh hati.
Sastra, hadir sebaliknya. Sifatnya yang lekat dengan cerita-cerita manusia dan semestanya, tak sungkan untuk menelanjangi penderitaan secara intim. Setidaknya hal itu yang saya temukan dalam karya Osamu Dazai melalui kerja sastra dalam novel Orang Gagal (BasaBasi, 2020).
Dalam novel yang pertama kali terbit dalam bahasa Jepang dengan judul Ningen Shikkaku ini, Dazai memilih topik bagaimana manusia bernama Oba Yozo menjalani hidup dengan rasa takut. Rasa takut yang tak bisa hilang. Terus melekat. Rasa takut yang membuatnya gagal menjadi manusia, atau konstruksi manusia itu sendiri soal kehidupan.
Novel yang terdiri dari tiga buku catatan pribadi Yozo ini dibuka dengan pernyataan tegas tentang bagaimana ia menjalani kehidupan:
Hidupku adalah hidup yang amat memalukan. Aku sendiri bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana mestinya menjalani hidup seperti manusia. (hal.1).
Yozo lahir di keluarga yang berkecukupan. Ayahnya pengusaha dan politisi. Tentu semua kebutuhan dan keinginan Yozo terpenuhi. Jika saya bandingkan dengan masa kecil saya yang serba keterbatasan, tak ada alasan bagi Yozo kecil untuk bersedih.
Namun ternyata hidup yang mengalir lancar juga cukup membosankan bagi Yozo. Seperti air sungai, sesekali ingin membenturkan diri ke keras batu sungai. Barangkali juga Yozo punya banyak waktu untuk mempertanyakan berbagai hal, deretan pertanyaan soal kehidupan. Kenapa orang tua memaksa anak makan? Kenapa kita harus makan tiga kali sehari? Kenapa kita harus mengikuti perintah orang tua? Kenapa kita harus menghormati kakak? Kenapa kita harus berbual-bual dengan orang demi kehormatan?
Yozo jelas tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Meski begitu terus berkelindan di benaknya, Yozo yakin bahwa satu-satunya tugas di dunia adalah tidak membuat orang lain kecewa. Tak peduli setakut apa, sesedih apa, dan sekeras apa ia berusaha.
Yozo pun harus berpura-pura menjalani hidup. Ia memaksakan semua kehendak orang, dan melupakan yang apa yang ia inginkan, yakni menjalani hidup sesuai keinginannya: tidak hidup bersosial. Sepanjang hidup, Yozo konsisten melemparkan kebohongan kepada siapapun, meski itu membuatnya sulit.
Untuk menutupi kepribadiannya, Yozo menjadi manusia yang humoris. Ia menciptakan lelucon untuk menarik perhatian orang lain, atau lebih untuk menutupi kepribadiannya yang dipenuhi rasa takut.
Sejak dulu, aku selalu bergidik ketakutan di hadapan manusia. Tidak mampu merasa sedikit pun percaya diri atas kemampuan bicaraku dan bertindak layaknya manusia. Aku mengunci kesengsaraan yang kurasakan ini dalam dada. Aku menyembunyikan melankolia dan gejolakku, berhati-hati agar jejaknya tidak sedikit pun terpampang. Aku berpura-pura sebagai seorang yang optimis sekaligus lugu. Perlahan aku memantapkan peranku sebagai orang yang eksentrik dan konyol (hal 6-7).
Yozo adalah manusia biasa yang merasa gagal karena tidak dapat memenuhi ekspektasi manusia dalam menjalani hidup. Ia menderita karena itu, tapi berusaha menahan beban kehidupan seberat apapun. Namun, jika itu berlangsung lama, Yozo tentu tak kuasa menahannya. Ia pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, meski usahanya gagal.
Yozo memilih mati muda, tapi gagal. Berbeda dengan Danzai, orang yang menghadirkan Yozo. Pada 13 Juni 1948, ia tewas bunuh diri bersama Tomie Yamazaki, kekasihnya.
Insiden tersebut mengingatkan saya pada penulis besar dunia, yakni Albert Camus. Camus, dalam bukunya yang berjudul Mati Bahagia menyebut, keberanian seseorang untuk mati terkadang lebih besar ketimbang keberanian untuk melanjutkan hidup. Kadar keberanian tersebut ditentukan oleh seberapa jauh kita menunaikan satu-satunya tugas manusia di dunia, yakni berbahagia.
Saya pun teringat pernyataan orang-orang tua Kolonus dalam lakon Sofokles Oedipus at Colonus soal urutan-urutan nasib manusia dari yang terbaik sampai paling mengenaskan adalah tidak pernah dilahirkan, mati muda, dan hidup sampai tua.
Judul : Orang Gagal (Diterjemahkan dari No Longer Human)
Penulis : Osamu Danzai
Penerjemah : Muhammad Ali Mukhlishiddin
Penerbit : BASABASI
Tebal : x+116 halaman, 14 x 20 cm
Cetakan : Januari, 2020 (Pertama)
