Konten dari Pengguna

Dari Nobar di Ruang Tamu sampai Air Mata Threepeat: Persib Memberi Pelajaran

Olvia Nursaadah

Olvia Nursaadah

Tasawuf & Psikoterapi UIN Bandung

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olvia Nursaadah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Nobar Persib di Rumah (Sumber: Dibuat oleh chatgpt)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nobar Persib di Rumah (Sumber: Dibuat oleh chatgpt)

Ada yang bilang menjadi bobotoh itu bukan pilihan. Ia adalah warisan.

Saya lahir dan besar di Bandung. Sejak kecil, rumah kami adalah salah satu dari banyak rumah yang selalu ramai ketika Persib main. Tetangga berdatangan, layar televisi menyala, dan suara komentator bercampur dengan teriakan orang dewasa. Sebagai anak perempuan kecil, ketika itu saya lebih sering risih daripada antusias. Ruang tamu yang biasanya tenang berubah menjadi sesuatu yang asing - penuh keringat, kebisingan, dan emosi yang tidak saya mengerti.

Tapi anehnya, cinta itu tumbuh pelan-pelan tanpa izin.

Entah sejak kapan persisnya, saya mulai memperhatikan. Mulai mengikuti beritanya, hafal nama pemain, rumor trasnfer dan tahu apa artinya jika Persib kalah di laga krusial. Sampai akhirnya saya juga menangis setiap kali peluit panjang berbunyi dan skor tidak berpihak. Marah dan tidak terima ketika Persib seolah sulit sekali juara musim demi musim.

Lalu 2014 datang. Saat itu saya masih SMA, dan Persib akhirnya menjuarai liga. Momen yang sampai hari ini masih terasa nyata setiap kali saya mengingatnya.

Dua belas tahun berlalu. Dan pada 23 Mei 2026, saya kembali menangis — tapi kali ini tangisnya berbeda.

Persib mengunci gelar juara BRI Super League 2025/2026 setelah bermain imbang 0-0 melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Dengan hasil itu, Persib menjadi klub pertama di Indonesia yang mampu menjuarai kompetisi kasta tertinggi nasional tiga kali beruntun.

Threepeat. Hattrick gelar, atau apapun itu istilahnya. Sesuatu yang dulu bahkan sulit dibayangkan.

Air mata saya kali ini bukan karena sedih. Bukan juga sekadar haru biasa. Ini adalah tangis dari seseorang yang sudah menemani perjalanan panjang — dari ruang tamu yang penuh tetangga, dari kekalahan yang menyakitkan, dari puasa gelar yang terasa tak berujung — dan kini bisa menyaksikan Persib berdiri di puncak untuk ketiga kalinya berturut-turut. Ada rasa tidak percaya yang campur aduk dengan rasa syukur yang dalam.

Yang menarik bagi saya bukan hanya gelarnya, tapi cara Persib meraihnya.

Bojan Hodak meraih penghargaan pelatih terbaik musim ini setelah membawa Persib juara dengan hanya menelan tiga kekalahan sepanjang 34 pertandingan. Tapi dalam setiap sesi wawancara pasca pertandingan, terutama saat ditanya soal kemampuan Persib membalikkan keadaan dari tertinggal menjadi menang, jawabannya selalu rendah hati dan konsisten: kami hanya beruntung.

Saya sempat geli mendengarnya dan menganggap Bojan Hodak hanya sedang merendah saja dan berbasa-basi kepada wartawatan.

Tapi semakin saya pikirkan, semakin saya sadar bahwa Coach Bojan mungkin sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar basa-basi kepada wartawan.

Keberuntungan itu nyata. Dan ia tidak jatuh dari langit begitu saja.

Persib tidak threepeat karena nasib baik semata. Mereka meraih threepeat karena banyak aspek mulai dari konsistensi, membangun kultur tim yang solid, juga hadir penuh di setiap sesi latihan dan setiap pertandingan. Keberuntungan yang Coach Bojan bicarakan bukan sesuatu yang datang tanpa diundang — ia adalah hasil dari persiapan yang bertemu dengan momen yang tepat.

Begitu juga hidup. Kita sering melihat orang-orang yang "beruntung" dan berhenti di situ, seolah keberuntungan adalah undian yang tidak bisa dipengaruhi. Padahal keberuntungan punya pola: ia cenderung hadir pada orang yang sudah menyiapkan tempat untuknya.

Keberuntungan perlu dijemput. Perlu diciptakan. Perlu diupayakan setiap hari, dalam langkah-langkah kecil yang terasa biasa saja.

Selain soal keberuntungan, ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Coach Bojan: ia tidak pernah bicara mengenai pertandingan yang masih jauh saat masih ada pertandingan hari ini. Fokusnya selalu pada satu laga di depan, bukan pada trofi di akhir musim.

Kami hanya fokus pertandingan demi pertandingan.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi coba bayangkan tekanannya — memimpin tim yang dibebani ekspektasi juara, dilihat jutaan bobotoh, dengan setiap hasil dianalisis dan dikritisi. Dan di tengah semua itu, ia memilih untuk tidak hidup di masa depan yang belum terjadi. Ia memilih hadir sepenuhnya di hari ini.

Bukankah itu juga yang paling sulit kita lakukan dalam hidup sehari-hari?

Kita terlalu sering terjebak: menyesali yang sudah lewat atau cemas terhadap yang belum datang. Sementara hari ini — dengan segala kesempatan dan pekerjaannya — berlalu begitu saja tanpa pernah benar-benar kita sentuh.

Kalau Persib bisa threepeat — sesuatu yang bertahun-tahun terasa mustahil, bahkan bagi saya yang sudah menjadi bobotoh sejak kecil — maka kini saya percaya bahwa "mustahil" hanyalah kata yang belum bertemu dengan konsistensi dan keberanian untuk hadir penuh setiap hari.

Jika Persib bisa menulis sejarah dengan cara seperti itu, maka kamu, saya, dan kita semua juga berhak percaya bahwa kesuksesan yang kita dambakan bukan sesuatu yang harus menunggu momen ajaib.

Ia menunggu kita yang mau fokus hari ini. Dan membuka pintu untuk keberuntungan yang sudah lama mengetuk.

Selamat, Persib. Untuk threepeat-nya, untuk airmatanya, dan untuk pelajarannya.