Konten dari Pengguna

Mengapa Cara Kita Memaknai Kesulitan Bisa Mempengaruhi Kesehatan Mental?

Olvia Nursaadah

Olvia Nursaadah

Tasawuf & Psikoterapi UIN Bandung

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olvia Nursaadah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memaknai kesulitan dapat mempengaruhi kesehatan mental (Sumber: dibuat chatgp)
zoom-in-whitePerbesar
Memaknai kesulitan dapat mempengaruhi kesehatan mental (Sumber: dibuat chatgp)

Pernahkah Anda mengalami atau mungkin melihat ada dua orang menghadapi situasi yang hampir sama namun dampaknya terhadap kesehatan mental keduanya bisa sangat berbeda?

Orang pertama misalnya hancur dan terpukur, sementara yang lain bisa bangkit lebih kuat dan lebih sukses dari sebelumnya. Perbedaan ini bukan semata soal kepribadian atau keberuntungan, melainkan soal bagaimana masing-masing orang memaknai kesulitan yang mereka hadapi.

Mengapa bisa demikian?

Cara Otak Memaknai Kesulitan Mempengaruhi Kesehatan Mental

Ketika menghadapi situasi sulit, otak tidak langsung bereaksi secara emosional — ia terlebih dahulu melakukan proses penilaian yang disebut cognitive appraisal atau penilaian kognitif. Proses inilah yang menentukan apakah sebuah kesulitan akan dimaknai sebagai ancaman yang menghancurkan atau sebagai tantangan yang bisa dihadapi.

Penilaian stres bersifat transaksional karena dipengaruhi secara mendalam oleh faktor internal seperti kepribadian dan keyakinan seseorang, serta faktor eksternal berupa situasi yang dihadapi. Artinya, dua orang yang menghadapi situasi identik bisa menghasilkan respons emosional yang sangat berbeda, bukan karena situasinya berbeda, melainkan karena lensa kognitif yang mereka gunakan untuk memandang situasi tersebut berbeda.

Keyakinan akan efikasi diri dapat memengaruhi apakah seseorang menilai situasi sebagai tantangan atau ancaman, dan di sinilah letak kuncinya. Seseorang yang percaya dirinya mampu mengatasi masalah akan memproses kesulitan sebagai sesuatu yang bisa diatasi, sedangkan seseorang dengan efikasi diri rendah cenderung melihat kesulitan yang sama sebagai bukti bahwa hidupnya tidak bisa diperbaiki — dan perbedaan pemaknaan ini berdampak langsung pada kondisi kesehatan mental.

Dari Kesulitan Menjadi Pertumbuhan: Peran Memaknai dalam Kesehatan Mental

Tidak semua orang yang menghadapi peristiwa traumatis atau penuh tekanan berakhir dengan gangguan mental. Sebagian justru mengalami apa yang disebut Post-Traumatic Growth (PTG) — pertumbuhan psikologis positif yang lahir dari kesulitan berat. Hasil kajian sistematis terhadap penelitian empiris periode 2022–2024 menunjukkan bahwa makna hidup dan resiliensi memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap PTG, di mana makna hidup berfungsi sebagai landasan kognitif dalam memahami penderitaan dan memaknai kembali pengalaman traumatik.

Tekanan yang dihadapi dalam beragam bentuk ternyata tidak hanya menjadi beban psikologis, tetapi juga dapat berfungsi sebagai pendorong adaptasi untuk mempercepat proses refleksi diri dan perkembangan kekuatan pribadi. Ini berarti kesulitan yang sama bisa menjadi racun atau vitamin, tergantung pada makna yang dilekatkan seseorang. Mereka yang mampu menemukan makna memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk keluar dari kesulitan dalam kondisi psikologis yang lebih kuat.

Positive reappraisal — yaitu fokus pada pertumbuhan pribadi dan penemuan makna positif di balik kesulitan — adalah salah satu strategi koping yang paling efektif dalam model transaksional stres Lazarus dan Folkman. Strategi ini bukan berarti mengingkari rasa sakit atau berpura-pura bahagia, melainkan secara aktif mencari perspektif yang memungkinkan seseorang untuk tetap bergerak maju meski di tengah kondisi yang berat.

Mengubah Cara Memaknai Kesulitan: Langkah Praktis untuk Menjaga Kesehatan Mental

Kabar baiknya adalah cara kita memaknai kesulitan bukanlah sesuatu yang permanen, melainkan bisa dilatih dan diubah.

Cognitive reappraisal adalah salah satu teknik psikologis untuk mengatur emosi dengan mengubah cara pandang terhadap suatu situasi. Dalam praktiknya bisa berupa latihan sederhana seperti bertanya pada diri sendiri: "Apakah ada sudut pandang lain yang bisa saya gunakan untuk melihat situasi ini?" atau "Apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini?" — pertanyaan-pertanyaan kecil yang secara bertahap dapat melatih otak untuk tidak terjebak dalam kesulitan.

Bagi yang merasa kesulitan mengubah pola pemaknaan ini secara mandiri, mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan langkah tepat yang bisa diambil untuk melindungi kesehatan mental jangka panjang.

Kesulitan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun dampaknya terhadap kesehatan mental sangat ditentukan oleh cara kita memaknainya. Dengan memahami bahwa penilaian kognitif adalah proses yang bisa dilatih dan makna positif bisa ditemukan bahkan di balik pengalaman paling berat sekalipun, kita memiliki kekuatan yang lebih besar dari yang kita kira untuk menjaga kesehatan mental di tengah badai kehidupan yang tidak bisa kita hindari.