Konten dari Pengguna

Mengapa Mendaki Gunung Bisa Bermanfaat Untuk Kesehatan Mental?

Olvia Nursaadah

Olvia Nursaadah

Tasawuf & Psikoterapi UIN Bandung

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olvia Nursaadah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mendaki gunung (Sumber: Dibuat oleh chatgpt)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mendaki gunung (Sumber: Dibuat oleh chatgpt)

Mendaki gunung, atau hiking mulai banyak dilirik bukan sekedar hobi petualangan semata, melainkan sebagai cara untuk memulihkan ataupun untuk menjaga kesehatan mental.

Bukankah aktivitas mendaki gunung melalahkan dan penuh tantangan, mengapa bisa bermanfaat untuk kesehatan mental?

Alam Terbuka Dapat Menurunkan Gangguan Kesehatan Mental Seperti Stres dan Cemas

Salah satu manfaat dari mendaki gunung menurut para pendaki adalah dapat menurunkan tingkat stres. Berbeda dengan olahraga di ruangan tertutup, mendaki gunung memadukan aktivitas fisik dengan paparan alam yang bisa menenangkan sistem saraf. Berada di alam terbuka dengan udara segar dan pemandangan yang indah dapat membantu mengurangi stres, sekaligus memberikan waktu untuk refleksi diri dan melupakan sejenak tekanan hidup sehari-hari.

Efek ini bukan sekadar anggapan subjektif para pendaki. Berdasarkan penelitian Yasuhiro Kotera dan koleganya pada tahun 2021, menemukan bahwa berjalan di alam terbuka dapat mengurangi risiko depresi dan kecemasan. Konteks alam disini lebih cocok pada pegunungan dengan keterbukaan alam dan banyaknya pepohonan serta tumbuhan hijau, memberikan suasana kedamaian dan kesejukan yang jauh dari kebisingan perkotaan.

Sensasi menyatu dengan alam selama pendakian memberikan jeda psikologis yang jarang didapatkan dari aktivitas perkotaan. Suara alam, udara segar, dan pemandangan yang berubah seiring ketinggian menciptakan pengalaman yang secara aktif mengalihkan pikiran dari sumber kecemasan, memberi ruang bagi otak untuk benar-benar beristirahat.

Aktivitas Fisik Memicu Hormon Bahagia dan Memperbaiki Suasana Hati

Mendaki gunung adalah bentuk olahraga yang memicu respons biokimia positif dalam tubuh. Saat tubuh bekerja keras melewati medan, otak melepaskan hormon-hormon yang secara langsung memengaruhi suasana hati. Saat mendaki, tubuh melepaskan endorfin, yaitu hormon kebahagiaan, dan pencapaian saat berhasil mencapai puncak memberikan perasaan puas serta bangga yang dapat meningkatkan suasana hati secara signifikan.

Manfaat ini bukan hanya soal hormon, tetapi juga soal pencapaian psikologis. Rasa berhasil setelah melewati medan sulit dan mencapai puncak memberikan dorongan kepercayaan diri yang sulit didapatkan dari aktivitas rutin lainnya. Aktivitas fisik selama pendakian membantu tubuh melepaskan ketegangan, dan perasaan puas saat mencapai puncak memberikan rasa pencapaian yang dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang

Lebih dari itu, dampak positif mendaki gunung bahkan terbawa hingga setelah pendakian berakhir. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mendaki gunung dan aktivitas luar ruangan lainnya bermanfaat dalam mendukung kesehatan secara menyeluruh, termasuk meningkatkan kualitas tidur pemulihan setelah pendakian. Tidur yang lebih berkualitas pada gilirannya turut memperbaiki regulasi emosi dan ketahanan mental sehari-hari.

Melatih Fokus, Ketahanan Mental, dan Koneksi Sosial

Mendaki gunung menuntut kehadiran penuh di setiap langkah. Medan yang tidak rata, jalur yang berliku, dan kebutuhan untuk terus memperhitungkan keseimbangan memaksa pikiran untuk fokus sepenuhnya pada momen saat ini.

Efek kognitif ini bahkan didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruth Ann Atchley dan koleganya pada tahun 2021. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam terbuka tanpa gawai dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Berjarak dari layar digital selama berjam-jam memberi otak kesempatan untuk "reset" — sesuatu yang jarang terjadi dalam kehidupan modern yang serba terhubung.

Selain manfaat individual, mendaki juga memperkuat sisi sosial seseorang yang sama pentingnya bagi kesehatan mental. Mendaki bersama teman atau kelompok dapat memperkuat hubungan sosial, mendorong kerja sama, saling mendukung, dan mempererat hubungan melalui pengalaman bersama di alam bebas. Dukungan sosial yang terbangun selama pendakian sering kali menjadi salah satu faktor pelindung terbesar terhadap risiko gangguan kesehatan mental jangka panjang

Mendaki gunung bukan sekadar aktivitas fisik untuk membakar kalori atau menguji stamina, melainkan sebuah “terapi” kesehatan mental. Bagi siapa pun yang merasa pikirannya penuh sesak oleh tekanan hidup, melangkah ke jalur pendakian bisa menjadi cara yang sederhana untuk memulihkan keseimbangan jiwa — asalkan dilakukan dengan persiapan yang tepat dan memperhatikan keselamatan selama perjalanan.