Konten dari Pengguna

Mengenal Psikologi Momentum dan Cara Kerjanya Dalam Kehidupan

Olvia Nursaadah

Olvia Nursaadah

Tasawuf & Psikoterapi UIN Bandung

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olvia Nursaadah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh membangun psikologi momentum (Sumber: Gambar animasi dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Contoh membangun psikologi momentum (Sumber: Gambar animasi dibuat oleh AI)

Apakah pernah mendengar tentang psikologi momentum?

Mari mulai dengan mempertanyakan ini:

Kamu pernah ngerasa gak sih kalau bisa menyelesaikan satu hal kecil, tiba-tiba jadi semangat buat ngelanjutin ke hal berikutnya yang lebih besar? Atau sebaliknya, setelah satu kegagalan, semuanya jadi terasa berat dan sulit untuk mulai kembali?

Ternyata ini bukan sekedar kebetulan — ia memiliki nama dan penjelasan ilmiah yang disebut psikologi momentum.

Di era banyak orang berjuang melawan prokrastinasi, kehilangan motivasi, dan kesulitan membangun kebiasaan yang bertahan lama, mengenal psikologi momentum dan bagaimana cara kerjanya dalam kehidupan kita rasanya menjadi semakin penting.

Apa Itu Psikologi Momentum?

Psikologi momentum adalah respon kognitif, emosi, fisiologis dan perilaku terhadap persepsi kemajuan menuju atau menjauh dari tujuan yang diharapkan. Singkatnya, psikologi monentum adalah kondisi di mana keberhasilan melahirkan keberhasilan berikutnya — atau sebaliknya, kegagalan memperbesar kemungkinan kegagalan selanjutnya

Konsep ini pada awalnya banyak diteliti dalam konteks olahraga kompetitif, tetapi relevansinya ternyata tidak hanya tentang atlet. Psikologi momentum memainkan peran penting dalam pengejaran tujuan dan pencapaian, orang-orang yang “sukses” jago dalam memanfaatkan tren positif yang sedang mereka alami. Begitu berhasil satu kali, mereka akan terus tancap gas agar keberhasilannya terus berlanjut. Artinya, momentum bukan hanya soal "keberuntungan beruntun" tetapi proses psikologis yang bisa dipelajari dan dikelola secara aktif.

Perbedaan psikologi momentum dari sekadar motivasi biasa adalah sifatnya yang dinamis dan kumulatif. Psikologi momentum mencakup respons kognitif, afektif, motivasional, fisiologis, dan perilaku terhadap persepsi kemajuan yang bergerak menuju atau menjauh dari tujuan. Ini berarti momentum tidak hanya mempengaruhi pikiran, tetapi juga menyentuh emosi, motivasi, kondisi fisik, dan tindakan nyata seseorang secara bersamaan.

Cara Kerja Psikologi Momentum

Psikologi momentum bekerja melalui sebuah siklus yang dipicu oleh pengalaman awal. Keberhasilan awal meningkatkan kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, sehingga menciptakan peningkatan probabilitas untuk berhasil. Dengan kata lain, ketika seseorang percaya bahwa mereka bisa berhasil, mereka cenderung berusaha lebih keras — dan usaha yang lebih keras menghasilkan keberhasilan berikutnya.

Proses ini kemudian terus berlangsung dan semakin menguat. Ketika seseorang merasakan bahwa mereka bisa berhasil, mereka terus meningkatkan usaha mereka seperti konsentrasi dan upaya fisik, yang mengarah pada umpan balik positif yang terus menanjak. Inilah mengapa seseorang yang sedang dalam mode “in the zone” terasa seperti tidak bisa dihentikan — otak dan tubuh mereka secara bersamaan bekerja pada kapasitas optimal yang saling menguatkan.

Namun, momentum juga dapat bekerja dalam arah sebaliknya. Dalam kehidupan momentum mencakup perubahan positif atau negatif dalam kognisi, fisiologi, emosi, dan perilaku yang disebabkan oleh peristiwa mendadak atau serangkaian peristiwa berkelanjutan. Satu kegagalan yang tidak dikelola dengan baik bisa memicu penurunan kepercayaan diri, yang kemudian memperbesar rasa takut gagal, menurunkan usaha, dan akhirnya menghasilkan kegagalan berikutnya.

Bagaimana Penerapan Psikologi Momentum Dalam Keseharian?

Menerapkan psikologi momentum bisa mulai dari hal yang paling sederhana. Mulai dari menyelesaikan satu tugas yang ringan— merapikan meja, merapikan tempat tidur, atau berolahraga selama 10 menit — karena keberhasilan kecil ini cukup untuk memicu pelepasan dopamin dan membangun rasa percaya diri. Setiap "keberhasilan kecil" dari kebiasaan yang dijalankan akan memperkuat motivasi dan membangun momentum, karena memberikan penguatan positif yang membuat proses terasa lebih menyenangkan.

Penerapan lainnya adalah membuat lingkungan yang meminimalkan hambatan untuk memulai. Kebiasaan yang baik mengurangi distraksi dalam memulai tugas, dapat menghemat energi yang seharusnya dialokasikan untuk pengambilan keputusan, dan menciptakan momentum yang berkelanjutan. Semakin mudah seseorang memulai suatu aktivitas — baik olahraga, belajar, atau menulis — semakin besar kemungkinan momentum terbentuk dan berlanjut hingga tujuan tercapai.

Hal yang tidak kalah penting adalah cara seseorang merespons kegagalan atau gangguan dalam rutinitas. Jika seseorang mengalami keberhasilan atau kegagalan pada tugas tertentu di masa lalu, hal itu diyakini mempengaruhi kemungkinan keberhasilan atau kegagalan pada tugas serupa di masa kini atau mendatang. Oleh karena itu, ketika momentum terganggu — misalnya karena sakit, liburan, atau masa sulit — langkah terpenting adalah coba kembali ke “keberhasilan kecil” sesegera mungkin, bukan menunggu kondisi sempurna untuk memulai kembali.

Psikologi momentum bukan sekadar konsep abstrak yang diperuntukan untuk dunia olahraga — ia adalah prinsip nyata yang bekerja setiap hari dalam kehidupan kita, mulai dari bagaimana kita memulai pagi hingga bagaimana kita bangkit dari kegagalan. Dengan memahami bahwa keberhasilan kecil dapat memicu keberhasilan yang lebih besar, bahwa kepercayaan diri dan tindakan saling menguatkan satu sama lain, dan bahwa momentum bisa dibangun secara sadar melalui langkah-langkah sederhana yang konsisten, setiap orang memiliki kekuatan untuk merancang hidupnya agar terus bergerak maju — satu langkah kecil yang bermakna pada satu waktu.