Konten dari Pengguna

Menjawab "Ya" pada Hidup: Refleksi tentang Makna, Cinta, dan Penderitaan

Olvia Nursaadah

Olvia Nursaadah

Tasawuf & Psikoterapi UIN Bandung

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olvia Nursaadah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi self healing. Foto: U__Photo/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi self healing. Foto: U__Photo/Shutterstock

Di tengah dunia yang sering kali dipenuhi keriuhan dan skeptisisme, pertanyaan mendasar tentang keberadaan manusia kembali bergema: Apakah hidup ini benar-benar memiliki makna?

Dalam karyanya, Yes to Life, Viktor Emil Frankl menawarkan jawaban yang lugas. Bagi Frankl, makna hidup bukanlah sesuatu yang abstrak untuk dicari di awan-awan, melainkan sebuah panggilan konkret yang harus kita jawab setiap hari.

Keyakinan akan makna dan nilai eksistensi manusia harus berdiri kokoh—cukup tangguh untuk menahan gempuran pesimisme dan keraguan. Sebab, pada akhirnya, hidup tidak pernah berhenti menuntut jawaban dari kita.

Tiga Pintu Menuju Hidup Bermakna

Frankl menegaskan bahwa manusia tidak pernah kehabisan alasan untuk hidup. Ada tiga cara utama bagaimana seseorang dapat memenuhi makna dalam keberadaannya:

  1. Melalui aksi dan karya: Menciptakan sesuatu, menyelesaikan tugas, atau memberikan sumbangsih nyata kepada dunia melalui tindakan langsung.

  2. Melalui pengalaman dan cinta: Meresapi keindahan alam, menikmati karya seni, atau mengasihi seseorang secara tulus. Kebahagiaan sejati selalu membuka diri ke arah luar—ia hadir saat kita melupakan diri sendiri demi sesuatu atau seseorang yang kita cintai.

  3. Melalui sikap di hadapan batas hidup: Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi makna ditemukan dari cara kita beradaptasi, merespons, dan menanggung batas-batas tersebut dengan martabat.

Bukan Tentang Posisi, Melainkan Bagaimana Cara Mengisinya

Sering kali kita terjebak pada penilian orang lain mengenai apa profesi kita, berapa gelar akademik yang melekat, atau seberapa besar pengaruh sosial yang kita miliki. Pemikiran Frankl mengajak kita melakukan pergeseran sudut pandang yang membebaskan.

Persoalan utama kehidupan bukanlah pada di mana posisi seseorang berada, melainkan bagaimana ia mengisi posisi tersebut. Kebermakaan hidup tidak diukur dari seberapa luas jangkauan pengaruh kita, melainkan dari apakah kita telah mengisi lingkaran di sekeliling kita dengan sebaik-baiknya.

Dalam siklus kehidupan, setiap manusia bersifat unik, tidak dapat tergantikan, dan tidak dapat diduplikasi. Tugas yang dibebankan kepada seseorang adalah spesifik bagi orang tersebut—dan hanya orang tersebut yang diberi kepercayaan untuk memenuhinya.

Eksistensi yang Berbicara Lebih Nyaring dari Kata-Kata

Tindakan nyata selalu lebih bermanfaat ketimbang rentetan pepatah, tulisan, atau semboyan indah. Eksistensi diri manusia yang dihidupi secara nyata jauh lebih vital daripada sekadar kata-kata. Pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri setiap hari adalah:

Apakah kita sungguh menyadari dan menghidupkan eksistensi ini dalam keseharian?

Begitu pula dengan penderitaan. Penderitaan dan nasib buruk adalah bagian yang tak terpisahkan dari jalinan kehidupan. Kita tidak selalu bisa memilih takdir, namun kita selalu memiliki kebebasan untuk memilih sikap dalam menghadapinya. Cara kita merespons kesulitan adalah cermin sejati dari siapa diri kita.

Ketahanan dalam menanggung penderitaan bukanlah pertanda kekalahan, melainkan sebuah pencapaian besar dalam hidup. Dari situlah pengalaman membentuk kedewasaan dan membuat diri kita bertumbuh.

Bertanggung Jawab hingga Hembusan Napas Terakhir

Pada akhirnya, menjadi manusia berarti menjadi pribadi yang sadar dan bertanggung jawab. Kita memberi makna pada hidup tidak hanya saat kita berdaya dan berprestasi, tetapi juga saat kita mencintai dan menderita.

Keberadaan manusia tidak pernah kehilangan nilainya, apa pun kondisi fisik atau sosial yang dialaminya. Kehidupan mempertahankan potensinya untuk bermakna hingga detik paling akhir. Tugas kita sederhana hanya terus berani berkata "Ya" pada hidup, dalam kondisi apa pun.