Atlet Sasana Bela Diri Han Academy Terapkan Protokol Tambahan Saat Berlatih

The Home Of Martial Arts
Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Performa seorang atlet akan selalu bergantung pada seberapa keras dan seringnya ia berlatih dalam sasana demi mempertajam kemampuannya. Fakta ini juga berlaku bagi atlet seni bela diri campuran.
Seorang atlet bela diri campuran tidak hanya harus mempertajam teknik – tekniknya, mereka juga harus mempersiapkan mental sebelum masuk ke panggung pertandingan untuk melawan saingan yang terlatih.
Tetapi, dalam kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini, banyak sasana bela diri campuran yang memilih untuk tutup atau mengubah cara mereka berlatih demi menjaga kesehatan para atlet. Salah satu sasana ini adalah Han Academy yang ada di Solo, Jawa Tengah.
Han Academy adalah salah satu sasana yang masih membuka pintunya, namun dengan protokol ketat sesuai dengan arahan pemerintah terkait anjuran jaga jarak fisik serta sosial.
Sang pendiri sasana dan juga kepala pelatih dari akademi bela diri campuran ini, Yohan Mulia Legowo, menjelaskan bahwa saat ini sasananya telah menerapkan cara mereka berlatih demi menghindari virus.
“Saya telah mengurangi jumlah murid dan juga jam sesi latihan untuk menghindari virus,” jelas Yohan.
“Dalam satu sesi latihan, saya hanya membolehkan maksimal enam murid ke dalam sasana, itupun setelah mereka membersihkan diri sebelum berlatih dan juga setelah berlatih.”
Yohan menjelaskan bahwa ia memberi izin pada murid – muridnya untuk menggunakan fasilitas sasana, namun mereka harus mandi dan menggunakan disinfektan sebelum dan setelah sesi latihan. Petarung divisi featherweight ONE Championship ini juga menghimbau para pengguna sasana untuk tetap dirumah jika tidak perlu keluar rumah.
“Kami tetap membuka pintu kami, tapi bagi yang tidak perlu masuk dan yang memilih untuk tetap dirumah kami harap mereka stay at home untuk mencegah paparan virus ini,” jelas Yohan.
Kebijakan ini dimanfaatkan Abro "The Black Komodo" Fernandes, yang memilih untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya di rumah.
“Saya belum pernah masuk sasana lagi semenjak dihimbau untuk tetap dirumah. Saya hanya berlatih dirumah saja untuk tetap bugar dan siap ketika nanti dipanggil,” jelas atlet divisi flyweight ini.
Meskipun “The Black Komodo” tidak menginjakkan kaki ke sasana, ia mengaku latihannya tetap berjalan demi mempertahankan kemampuannya dan fisiknya.
Di sisi lain, atlet muda yang juga bernaung di bawah sasana Han Academy, Aziz “The Krauser” Calim, tetap mempertahankan jadwal latihannya di sasana dengan mempertimbangkan protokol keselamatan.
Aziz mengaku telah mengikuti semua arahan untuk mendisinfektasi diri sebelum dan sesudah latihan supaya mengurangi potensi paparan.
“Saya tetap latihan seperti biasa, tapi selalu mengikuti arahan untuk membersihkan diri sebelum dan sesudah latihan,” kata Aziz.
“Dalam sasana tidak banyak orang yang ikut berlatih, dan saya juga mengurangi jam dan sesi latihan saya di dalam sasana.”
Selain memberi kesempatan untuk murid – muridnya berlatih, Yohan juga mendorong semua staf dan murid untuk membantu memberikan masker dan disinfektan secara cuma – cuma kepada warga sekitar sasana. Hal ini diharapkan membantu mencegah virus tersebar dan mempengaruhi warga.
“Saya meminta para staf dan murid untuk menjadi relawan dan menyebarkan masker dan disinfektan. Saya juga melaksanakan penyemprotan demi mengurangi paparan Covid 19,” ungkap Yohan.
Yohan berharap dengan pemberian alat – alat pencegah penularan, penyemprotan desinfektan, dan juga masyarakat yang mematuhi himbauan, wabah ini akan cepat berakhir dan semuanya akan berjalan lagi seperti biasa.
ONE Championship memutuskan untuk menunda gelaran pada bulan April yang rencananya akan diselenggarakan di Singapura. Hal ini sesuai dengan arahan dari pemerintah setempat yang tengah memperketat aktivitas masyarakatnya di tengah pandemi.
Rencananya, ajang kedepan akan digelar tertutup dari penonton, namun dapat disaksikan lewat ONE Super App, SCTV, vidio.com serta MAXStream.
