Dulu Dirundung, Bintang Muay Thai Ini Kini 'Tak Mau Tunduk Pada Siapapun'

The Home Of Martial Arts
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah mengalami masa kecil penuh perundungan, Seksan Or Kwanmuang mengasah dirinya di disiplin Muay Thai hingga meraih predikat sebagai salah satu petarung dengan rekor memukau.
Umumnya setiap bintang Muay Thai memiliki julukan petarung yang menjadi identitasnya, tak terkecuali Seksan yang berkarier di ONE Championship.
Ia dijuluki "The Man Who Yields To No One" atau Pria Yang Tak Tunduk Pada Siapapun berkat gaya bertarungnya yang terus maju seperti buldozer.
Mengawali karier lewat laga ONE Friday Fights, Seksan terus berjaya dan kini memiliki raihan 7-0 di ONE Championship. Ia pun selalu menampilkan laga keras yang membuatnya meraih sejumlah bonus penampilan hingga kontrak ONE Championship bernilai miliaran.
Secara keseluruhan, ia bahkan telah meraih 200 kemenangan dalam kariernya berkat raihan terakhir di ONE Friday Fight 16 akhir pekan lalu saat mengalahkan Karim Bennoui.
Fakta menarik, sosok yang pernah berhadapan dengan sang manusia rahang besi Rodtang di masa lalu ini kerap dijuluki sebagai sosok yang tak mau tunduk pada siapapun. Ironisnya, julukan itu diraih setelah ia menjalani perundungan di masa kecil.
Lahir di provinsi Nakhon Si Thammarat, sang bintang Thailand memulai karier Muay Thai di umur 9 tahun. Kala itu ia berkenalan dengan "seni delapan tungkai" atas saran ayahnya, setelah mengadu dirundung.
"Saya pulang sambil menangis, dan ayahku bertanya perihal apa yang terjadi. Saya bercerita kalau telah dirundung, dan ia membawaku latihan Muay Thai semenjak itu," kenang Seksan.
"Ia melatihku, dan saya terus berlatih hingga saat ini," lanjutnya.
Ketika itu Seksan mungkin belum memahami alasan sang ayah mengajarinya Muay Thai. Hanya seiring berjalannya waktu, mentalitas yang dijalaninya di sasana mulai membentuk dirinya sebagai sosok yang tangguh secara mental dan fisik.
Ia pun segera berkompetisi di pentas lokal pada umur belia. Ia pun meraih bayaran, dan menyisihkan sebagian uang bayaran untuk orangtuanya.
"Latihan itu telah memberiku keberanian, dan membuatku tak takut lagi," ujar Seksan.
Perubahan yang dialami Seksan juga membuatnya merajai pentas lokal, dan membuatnya meraih keberanian untuk merantau di Bangkok ketika berumur 15 tahun. Hijrah ke ibukota negara, sang bintang Thailand datang untuk menaklukkan panggung nasional.
"Saya butuh beberapa bulan untuk menyesuaikan diri di Bangkok. Sebelumnya saya tak pernah jauh dari keluarga," lanjutnya.
Namun, Seksan meraih keluarga di sasana tempatnya berlatih. Berkat dukungan pelatih dan rekan-rekannya, ia pun berhasil melalui masa-masa sulit tersebut.
Dukungan yang diberikan oleh rekan setim serta determinasi Seksan pun berbuah manis. Di skala internasional, ia meraih empat titel juara dunia dari kompetisi di Rajadamnern Stadium serta WBC Muay Thai.
Dalam perjalanannya meraih nama di pentas internasional, Seksan pun mendapat julukannya usai meraih kemenangan KO dari posisi tertinggal 2011 silam.
"Pada 2011 saya meraih penghargaan untuk laga terbaik di Rajadamnern. Saat itu saya dijatuhkan dua kali, dan saya balas memberi KO yang berbuah kemenangan. Semenjak itu saya dijuluki demikian," jelas Seksan.
