Selebritas Asia dan Bintang ONE Championship Mengutuk Rasialisme Saat Pandemi

The Home Of Martial Arts
Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pandemi global COVID-19 telah mengganggu berbagai sektor dan menjadi sebuah pekerjaan rumah berat yang membutuhkan uluran tangan dari semua pihak.
Namun, di tengah upaya keras yang berbagai negara lakukan demi melandaikan kurva penyebaran, masalah sosial juga menerpa. Bangsa Asia, yang kerap menjadi kelompok minoritas di negara barat, sering menerima perlakuan diskriminatif, hingga tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal hanya karena ras yang melekat dalam diri mereka.
Di berbagai belahan dunia, selebritas dan individu berpengaruh mulai lantang menyuarakan kecaman mereka atas rasialisme yang terjadi, termasuk musisi ternama asal Filipina Lea Salonga dalam sebuah acara CNBC News pada 14 Mei lalu.
Bersama selebritas Asia lainnya seperti Eugene Lee Yang dan Margaret Cho, mereka menyuarakan dukungan bagi warga keturunan Asia di seluruh dunia.
"Saya ingin mengirimkan pesan dukungan bagi warga Amerika keturunan Asia saat dalam masa COVID-19 ini," tutur Salonga.
"Sangat tak bermoral dan benar-benar bodoh seseorang bisa bersikap rasis terhadap yang lainnya. Saya memiliki teman yang dicela di jalan hanya karena mereka bangsa Asia."
"Saya tahu bahwa saat ini ada ketakutan dan kekhawatiran luar biasa. Namun ini adalah waktunya bagi semua orang untuk bersatu melawan penyakit ini, alih-alih membeda-bedakan orang membuat perpecahan, kebencian, serta ketakutan," urai Salonga.
Tindakan rasialisme menjadi marak karena COVID-19 dipercaya muncul pertama kali di Tiongkok.
Para atlet ONE Championship pun menyampaikan pesan di media sosial untuk mengikis rasa benci, memberi himbauan, dan mengutuk perbuatan tersebut.
Martin “The Situ-Asian” Nguyen, juara divisi featherweight (kelas bulu) ONE Championship berdarah Australia dan Vietnam, menyarankan agar warga “tidak membuat guyonan yang mengaitkan penduduk Asia dengan COVID-19.”
Hal serupa diungkapkan Christian “The Warrior” Lee, Juara Dunia divisi lightweight (kelas ringan) yang membawa bendera Amerika dan Singapura saat berlaga.
Ia mengecam tindakan rasis yang terjadi.
“Para pengecut ini menargetkan orang-orang Asia yang tidak bersalah dan tidak pernah melakukan apa-apa,” tuturnya. “Rasialisme adalah sesuatu yang tidak dapat dimaklumi atau dipelihara.”
Para juara dunia ini mengatakan bahwa kebencian tidak seharusnya memiliki tempat, terutama pada saat pandemi seperti sekarang.
“Unstoppable” Angela Lee, Juara Dunia divisi atomweight (kelas atom), dan juga Brandon “The Truth” Vera, Juara Dunia divisi heavyweight (kelas berat), menganjurkan setiap masyarakat untuk melakukan sesuatu saat melihat adanya kekerasan atau tindakan rasisme.
“Kita semua perlu melakukan sesuatu demi mengurangi kebencian dan tindak kekerasan terhadap masyarakat Asia,” kata Angela.
“Saat ini adalah waktu bagi kita semua untuk bersatu. Ini adalah saat yang paling genting untuk kita semua bersatu,” tambah atlet yang merupakan kakak kandung dari Christian Lee ini.
Sementara Vera, yang memiliki darah Filipina dan Amerika, mengajak warga untuk membela siapapun yang mengalami kekerasan terutama yang berbau rasialisme.
“[Ketika melihat tindakan rasis], katakanlah sesuatu dan cobalah membela mereka yang disakiti. Kita semua menghadapi keadaan yang sama saat ini,” tutur Vera.
