Juni dan Pengorbanan Orang Tua yang Jarang Diceritakan

Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia dan penulis dengan nama pena Arsa Kalam. Aktif menulis tentang pendidikan, kehidupan kampus, literasi, pengembangan diri, dan fenomena sosial.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Oni Tarsani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu hari, seorang kawan membuat janji kepada anaknya: jika diterima di perguruan tinggi negeri, ia akan berhenti merokok.
Janji itu terdengar sederhana. Namun ketika sang anak benar-benar diterima di kampus impiannya, ia sadar bahwa yang harus ditinggalkan bukan sekadar sebatang rokok, melainkan kebiasaan yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
Hari-hari pertama tidak mudah. Keinginan untuk kembali merokok beberapa kali muncul. Ada rasa tidak nyaman yang harus ia hadapi, mulai dari mulut yang terasa berbeda hingga tubuh yang seakan sedang menyesuaikan diri. Namun setiap kali godaan itu datang, ia teringat satu hal: anaknya telah berjuang meraih masa depan, maka ia pun harus menepati janjinya.
Kisah itu mengingatkan saya bahwa cinta orang tua sering kali bekerja dalam diam. Tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, tetapi tampak dalam berbagai pengorbanan yang kerap luput dari perhatian. Bulan Juni adalah salah satu waktu ketika pengorbanan itu terasa paling nyata.
Juni dan Berbagai Perhitungan
Bagi anak-anak, Juni identik dengan liburan sekolah dan kenaikan kelas. Namun bagi banyak orang tua, bulan ini justru menghadirkan berbagai perhitungan baru.
Tahun ajaran berakhir, tetapi kebutuhan pendidikan datang hampir bersamaan. Seragam baru, buku pelajaran, sepatu, tas, hingga biaya daftar ulang harus dipersiapkan dalam waktu yang berdekatan.
Bagi keluarga yang anaknya akan memasuki jenjang pendidikan baru, ada pula keputusan yang tidak sederhana: memilih sekolah yang sesuai dengan harapan sekaligus kemampuan keluarga.
Tidak sedikit orang tua yang harus menata ulang keuangan. Ada yang mengurangi pengeluaran pribadi, mengambil pekerjaan tambahan, atau menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit agar kebutuhan pendidikan anak tetap terpenuhi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi salah satu komponen penting dalam pengeluaran rumah tangga Indonesia. Namun bagi banyak orang tua, pendidikan bukan sekadar soal biaya. Di balik setiap pengeluaran, ada harapan yang ingin dijaga dan masa depan yang sedang dipersiapkan.
Harapan yang Tumbuh Bersama Anak
Bagi keluarga yang memiliki anak lulusan SMA, akhir Mei hingga Juni sering kali menjadi periode yang penuh emosi.
Pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi menghadirkan berbagai cerita. Ada yang bersyukur karena diterima di kampus impian. Ada yang masih harus berjuang melalui jalur lain. Ada pula yang memilih jalan berbeda untuk melanjutkan pendidikan.
Namun setelah kabar bahagia itu datang, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana biaya kuliahnya?
Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya hidup, tempat tinggal, hingga kebutuhan penunjang perkuliahan menjadi tantangan berikutnya yang harus dihadapi keluarga.
Meski demikian, banyak orang tua tetap melangkah dengan optimisme. Mereka percaya bahwa pendidikan bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi harapan yang hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Pengorbanan yang Jarang Diceritakan
Kisah kawan saya yang berhenti merokok hanyalah satu contoh kecil.
Di luar sana, ada banyak bentuk pengorbanan lain yang mungkin tidak pernah muncul dalam cerita. Ada ayah yang menambah jam kerja, ada ibu yang menunda kebutuhan pribadinya, dan ada orang tua yang rela mengurangi pengeluaran demi pendidikan anak-anak mereka.
Sebagian pengorbanan itu tidak pernah diceritakan. Bahkan sering kali tidak pernah diketahui oleh anak-anak mereka.
Orang tua jarang menghitung berapa banyak yang telah mereka korbankan. Mereka lebih sering menghitung apakah kebutuhan anak-anaknya sudah terpenuhi.
Mungkin karena itulah cinta orang tua sering kali terlihat biasa saja dari luar. Padahal di dalamnya tersimpan perjuangan yang luar biasa.
Di tengah berbagai perhitungan itu, Juni juga menghadirkan kesempatan untuk berkumpul. Liburan sekolah memberi ruang bagi orang tua dan anak untuk menikmati kebersamaan yang sering tersita oleh rutinitas.
Di Balik Kesuksesan Anak
Ketika anak-anak mengenang masa sekolah mereka, yang sering diingat adalah seragam baru, ruang kelas baru, teman-teman baru, atau kampus impian yang akhirnya berhasil dimasuki.
Namun, ada banyak hal yang tidak selalu terlihat di balik semua itu.
Mungkin ada ayah yang diam-diam mengambil lembur tambahan. Mungkin ada ibu yang berkali-kali menghitung ulang pengeluaran rumah tangga agar kebutuhan sekolah tetap terpenuhi. Mungkin pula ada berbagai keinginan pribadi yang sengaja ditunda demi masa depan anak.
Sebagian besar pengorbanan itu tidak pernah tercatat dalam rapor atau diumumkan saat wisuda. Padahal, di balik setiap langkah pendidikan yang ditempuh seorang anak, sering kali ada orang tua yang sedang berjuang dengan caranya sendiri.
Banyak anak baru memahami hal itu ketika mereka tumbuh dewasa dan menghadapi tanggung jawab hidup yang serupa.
Ketika seorang anak mengenakan seragam baru, diterima di kampus impian, atau berdiri di panggung wisuda, yang terlihat biasanya hanyalah hasil akhirnya. Yang jarang terlihat adalah berbagai keinginan yang ditunda, pengeluaran yang dikurangi, dan tenaga yang dikorbankan orang tua agar momen itu bisa terjadi.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang biaya. Di dalamnya ada waktu, tenaga, pengorbanan, dan harapan yang diberikan orang tua tanpa banyak kata. Sebuah bentuk cinta yang bekerja dalam diam, agar anak-anak mereka dapat melangkah lebih jauh dari yang pernah mereka capai.
