Pencarian populer

Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding yang Legendaris

Sate kuah daging sapi Pak Haji Diding. foto: dokumen pribadi.

Mengupas ragam kuliner Jakarta memang tidak ada habisnya. Dari kuliner fine dining, casual dining, restoran, kafe, coffe shop, jajanan pasar, sampai street food, semuanya ada di Jakarta. Wisata kuliner di Jakarta juga tidak selalu ditemukan di pusat perbelanjaan atau gedung bertingkat. Sebaliknya, kuliner yang legendaris di Jakarta banyak ditemukan di kawasan yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang banyak.

Soto tangkar dan sate kuah daging sapi Pak Haji Diding. Foto: dokumen pribadi.

Salah satu kuliner legendaris di Jakarta yang akan aku gali kali ini adalah Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding yang terletak di kawasan Pasar Pagi Jakarta. Untuk menuju ke sini memang bukan perkara mudah, karena selain letaknya yang tidak gampang ditemukan (untung ada di aplikasi petunjuk jalan seperti Google Maps dan Waze), lokasinya pun terletak di kawasan pasar yang selalu ramai pengunjung.

Satu porsi soto tangkar Pak Haji Diding. Foto: dokumen pribadi.

Menuju ke sini tidak disarankan menggunakan kendaraan beroda empat karena cukup sulit untuk menemukan tempat parkir, kecuali kalian berminat meletakkan kendaraan kalian di kawasan Glodok dan berjalan kaki ke sini. Menggunakan layanan jasa ojek online, aku pun harus turun di kawasan Pasar Pagi dan bertanya kepada orang sekitar mengenai letak sate kuah legendaris satu ini.

Dapur kedai soto tangkar dan sate kuah daging sapi Pak Haji Diding. foto: dokumen pribadi.

Untungnya, tidak ada satu pun orang di kawasan Pasar Pagi ini yang tidak mengenal kuliner yang digawangi oleh almarhum Haji Diding itu, sehingga tidak perlu waktu lama untuk aku menemukan kuliner legendaris satu ini. Maklum, Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Haji Diding sudah beroperasi sejak tahun 1960-an. Tempatnya tidak terlalu luas, hanya kios kecil dengan meja panjang ke samping layaknya desain warung pada zaman dahulu.

Kapasitasnya mungkin hanya 8-10 orang di dalam kios tersebut, mengingat gerobak Haji Diding juga terletak di dalam kios tersebut. Jam operasionalnya dari pukul 7 pagi sampai 5 sore, namun katanya sering habis sebelum makan siang.

Meracik kuliner legendaris Pak Haji Diding. Foto: dokumen pribadi.

Muka kebingunganku disambut ramah oleh staf (yang belakangan aku ketahui adalah salah satu anak Haji Diding) mereka sambil menanyakan berapa jumlah orang dan di mana aku ingin duduk (mereka juga memiliki tempat duduk di luar kios untuk 3-4 orang).

Mas tersebut kemudian menjelaskan menu apa saja yang ada di Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding sambil menanyakan apa yang ingin aku minum di sini. Keramahan memang menjadi salah satu hal yang aku selalu temukan di setiap tempat dengan embel-embel "Kuliner Legendaris".

Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding. Foto: dokumen pribadi.

Menu yang ada di Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding sangat sederhana, hanya ada 2 (dua) menu sesuai namanya yaitu Soto Tangkar (Rp 20 ribu) dan Sate Kuah Daging Sapi (Rp 20 ribu). Harganya cukup membingungkan karena setelah aku survey, ada yang mengatakan harganya Rp 25-30 ribu , tapi kenyataannya yang aku bayar hanya Rp 20 ribu per porsi belum termasuk nasi.

Soto tangkar Pak Haji Diding. Foto: dokumen pribadi.

Aku memesan keduanya supaya tidak penasaran yang mana menu terbaik mereka di sini. Mari kita mulai dari soto tangkar mereka, kuah santannya berwarna oranye, dicampur sedikit susu dan memiliki rasa yang cukup gurih. Selain daging sapi, di dalamnya kamu bisa menemukan daun bawang, tomat, babat, kikil, dan jeroan sapi.

Menurut aku pribadi, pengalaman dengan soto tangkar mereka tidak terlalu berkesan. Mungkin karena aku pecinta kuliner dengan rasa gurih, sedangkan ini rasanya gurih tapi masih light.

Sate Kuah Daging Sapi. Foto: dokumen pribadi.

Kekecewaan aku langsung terobati ketika mencoba sate kuah daging sapinya. Ada sensasi aroma asap dan warna hitam di dalam kuahnya (bekas bakaran daging satenya) yang tidak aku temukan di menu sebelumnya. Aku menjadi paham kenapa orang selalu mereferensikan sate kuah mereka. Selain dagingnya empuk, sensasi aroma asapnya membuat rasa kuah ini menjadi lebih gurih dan sedap saat dicampur dengan nasi putih (Rp 5 ribu).

Meracik Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding. Foto: dokumen pribadi.

Aroma asap dari kuah ini timbul karena sate yang disajikan adalah sate yang baru dipotong dan baru selesai dikipas. Selain di kawasan Pasar Pagi yang merupakan tempat aslinya, Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa tempat seperti Jembatan Besi, Jelambar, dan beberapa cabang lainnya.

Sungguh wajar mengapa Soto Tangkar dan Sate Kuah Daging Sapi Pak Haji Diding menjadi salah satu kuliner legendaris di Ibu Kota, karena menurutku daging sapi dengan kuah santan dalam sate kuah mereka berhasil menciptakan sensasi yang berbeda.

Selamat mencoba!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60