Suku Cadang Mobil Mitsubishi Lawas Mulai Langka, dari Kuda hingga Lancer

Usia kendaraan membuat ketersediaan suku cadang menjadi salah satu tantangan bagi pemilik mobil Mitsubishi lawas. Komponen original untuk sejumlah model masih mudah ditemukan, tetapi beberapa lainnya mulai mengalami kelangkaan di pasaran.
Rahmat Hidayat, pemilik bengkel Bangun Motor spesialis Mitsubishi di Ciracas, Jakarta Timur, mengatakan bahwa ketersediaan onderdil sangat bergantung pada model kendaraan. Mobil lansiran terbaru cenderung masih mudah mendapatkan spare part, sedangkan pada model klasik ketersediaannya mulai beragam.
"Tergantung modelnya ya, kalau Pajero atau Outlander gitu masih gampang spare part-nya. Lancer sama Galant itu mudah mulai langka sekarang. Kuda juga sekarang udah mulai susah," buka Rahmat kepada kumparan saat ditemui di bengkelnya, Rabu (26/8).
Keterbatasan suku cadang menjadi persoalan saat konsumen datang ke bengkelnya dan mencari komponen orisinal untuk beberapa model Mitsubishi lawas. Rahmat yang telah menggeluti Mitsubishi sejak 1997 menyebutkan dirinya masih memiliki jaringan luas, tetapi ia mengaku tetap kesulitan saat mencari barang genuine parts.
Di sisi lain, kondisi tersebut tidak berlaku untuk seluruh model Mitsubishi yang sudah berumur. Grandis, misalnya, masih memiliki ketersediaan onderdil yang cukup baik meski jumlah unitnya di Indonesia terbilang sedikit.
"Delica juga masih gampang kok spare part-nya. Mobil yang masih gampang itu Delica, Mirage, Outlander, Xpander, dan Pajero. Grandis masih gampang kok, sama kayak Delica dia populasinya dikit di sini," rincinya.
Selain ketersediaan onderdil, usia kendaraan turut membuat sejumlah komponen Mitsubishi lawas mengalami penurunan fungsi. Rahmat bilang, kelistrikan dan kaki-kaki menjadi bagian yang cukup sering dikeluhkan konsumen bila datang ke bengkelnya.
Karena itu, ia menyarankan pemilik mobil Mitsubishi klasik perlu memperhatikan kondisi komponen saat melakukan perawatan, termasuk kualitas spare part yang digunakan ketika harus melakukan penggantian.
"Mitsubishi lawas biasanya penyakit di kelistrikan dan kaki-kaki, hampir sama lah rata-rata semua model. Umumnya yang pakai model klasik biasanya penghobi, bukan buat harian. Tips dari saya jangan telat ganti oli, kalau kasus elektrikal kan itu berdasarkan kualitas barangnya," jelas Rahmat.
Rahmat sendiri memiliki pengalaman 22 tahun di Mitsubishi. Ia terakhir bekerja sebagai Service Advisor sebelum memutuskan keluar pada 2019 dan bergabung dengan bengkel milik mertuanya, Bangun Motor. Sejak saat itu, bengkel tersebut difokuskan menangani mobil Mitsubishi sesuai dengan keahliannya.
