Tekan Beban Keuangan, VinFast Lepas Bisnis Pabrik di Vietnam

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: VinFast
zoom-in-whitePerbesar
Pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: VinFast

Produsen kendaraan listrik Vietnam, VinFast, dilaporkan tengah melakukan langkah strategis untuk menekan beban keuangan. Selama lebih dari satu dekade melakukan ekspansi secara agresif, perusahaan tersebut diketahui belum mencatatkan laba sejak berdiri pada 2017.

Berdasarkan laporan Reuters, VinFast membukukan kerugian sebesar USD 3,9 miliar pada tahun lalu. Tingginya biaya produksi disebut menjadi salah satu faktor utama yang membebani kinerja keuangan perusahaan.

Untuk mengurangi tekanan tersebut, VinFast mengumumkan rencana menjual bisnis manufakturnya di Vietnam. Aset yang dilepas mencakup dua pabrik utama dengan nilai transaksi sekitar 13,3 triliun dong atau setara USD 506 juta.

Suasana pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Dalam skema tersebut, pihak pembeli juga akan mengambil alih utang VinFast senilai sekitar USD 6,9 miliar. Langkah ini disebut akan membuat perusahaan hampir terbebas dari beban utang karena unit manufaktur tidak lagi masuk dalam pembukuan.

Perusahaan menyebut strategi ini sebagai upaya bertransformasi menjadi model bisnis “asset-light”. Dengan cara itu, VinFast akan lebih fokus pada riset dan pengembangan produk dibandingkan aktivitas manufaktur.

Namun, rencana tersebut memicu sorotan terhadap tata kelola di induk usahanya, Vingroup. Grup ini dimiliki oleh miliarder Pham Nhat Vuong yang juga merupakan pendiri VinFast.

Pham Nhat Vuong, Ketua Vingroup dan CEO VinFast. Foto: Phuong Nguyen/REUTERS

Sejumlah analis menilai langkah divestasi pabrik secara bisnis dinilai masuk akal. Namun struktur transaksi yang dinilai kompleks memunculkan sejumlah pertanyaan, terutama terkait transparansi dan keterlibatan pihak-pihak tertentu.

“Dari perspektif strategis dan finansial, langkah ini masuk akal dan memberi fondasi pertumbuhan bagi VinFast. Namun dari sisi tata kelola, ada sejumlah tanda bahaya,” ujar analis industri otomotif Mehdi Jaouadi dari YCP di Singapura.

Salah satu perhatian tertuju pada keterlibatan pengusaha properti Nguyen Hoai Nam. Ia diketahui mengambil alih perusahaan Future Investment and Trading Development (FIRD), yang kini menjadi pemilik utama bisnis manufaktur tersebut dengan porsi 95,5 persen.

Struktur transaksi juga dinilai tidak lazim karena melibatkan beberapa pihak pada tahap awal, termasuk perusahaan properti Ngoc Quy Investment and Trading Development. Namun setelah transaksi rampung, perusahaan tersebut tidak lagi tercatat memiliki saham.

Suasana pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Masih dari laporan Reuters, VinFast menyatakan tidak dapat memberikan komentar lebih jauh karena bukan pihak langsung dalam transaksi tersebut. Perusahaan juga membantah spekulasi yang menyebut pabriknya akan dijual ke produsen lain seperti Foxconn.

Meski melepas bisnis manufaktur di Vietnam, VinFast tetap mempertahankan fasilitas perakitan di Indonesia dan India. Selain itu, perusahaan juga masih memegang hak paten untuk kendaraan listrik generasi terbarunya.

Sejak pengumuman transaksi pada 12 Mei lalu, saham VinFast tercatat mengalami penurunan sekitar 12 persen. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap langkah restrukturisasi yang tengah dilakukan perusahaan.