Konten dari Pengguna

Kang Dedi Mulyadi Hentikan Dagelan

Pakemitan Asik

Pakemitan Asik

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pakemitan Asik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kang Dedi Mulyadi Hentikan Dagelan
zoom-in-whitePerbesar

Dagelan adalah anekdot, anekdot adalah bodoran. Bodoran ini jelas sangat diperlukan untuk penyegaran disela-sela kepenatan aktifitas. Kepiawaian bodoran ini bagi Kang Dedi Mulyadi sudah tidak diragukan lagi. Terbukti mampu menandingi komedian tingkat Nasional Kang Sule diatas panggung sewilayah Jawa Barat.

Namun kepiawaian bodorannya itu tidak serta merta diterapkan pula dalam panggung birokrasi ataupun panggung politik. Justru malah sebaliknya Kang Dedi Mulyadi sudah sangat gerah melihat bodoran dalam habitat birokrasi dan politik. Mengapa demikian ?

Bodoran yg terjadi di birokrasi nyaris menghambat lajunya percepatan pembangunan. Sebab aktifitas manajemen relatif berbelit-belit dan menyita waktu. Sehingga kadang pembangunan wilayah tersendat hanya dengan sebuah kebijakan yang kurang kreatif dan inovatif, sementara rakyat sangat menanti dengan hasil pembangunan yang telah direncanakan.

Sebagai seorang politisi yang telah malang melintang, Kang Dedi Mulyadi merubah image bahwa politik selalu berbicara " Kita bangun jembatan diatas awan", mustahil bukan ?

Inilah mengapa Kang Dedi Mulyadi untuk membangun Purwakarta seolah tiada henti. Kadang jadi bahan pertanyaan publik, darimana semua anggaran itu didapatkan ?

Jawabannya sangat sederhana, "Membangun itu dengan nalar & rasa disertai pakem Kisunda yen hirup kudu bisa ngeureut neundeun geusan pikahareupeun (Berhemat dengan prioritas pembangunan wilayah)".

Jadi hentikan Dagelan, hentikan anekdot, hentikan bodoran kalau untuk membangun negeri. Pembangunan Jawa Barat itu harus dimulai dari Desa dan Perkampungan dengan pendekatan Budaya, "PAHEUYEUK-HEUYEUK LEUNGEUN PAANTAY-ANTAY PANANGAN". Gotong royonglah yang akan menjadi Gemah Ripah Repeh Rapih.