SDC, Kelompok Penjaga Pantai di Morowali

Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), punya satu lembaga yang aktivitasnya tidak diragukan lagi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat. Kelompok ini juga telah memberikan sumbangsih yang cukup besar untuk kemajuan pariwisata bahari dan lingkungan di Morowali.
Kelompok itu bernama Sombori Diving Club (SDC) Kabupaten Morowali, didirikan oleh seorang pemuda, Kasmudin di tahun 2015 karena terpesona oleh keindahan Pulau Sombori dan ingin mempromosikannya.
Kini kelompok yang beranggotakan 18 orang itu, tidak hanya bergerak dalam bidang kepariwisataan, tetapi bergerak dalam upaya penyelamatan lingkungan.
Tahun ini, diakui Kasmudin jadi pencapaian yang membanggakan karena kelompoknya masuk dalam nominator penghargaan nasional Kalpataru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia 2021.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi Presiden RI kepada para pejuang lingkungan hidup yang terus aktif dan peduli. Ada 21 nomintor se-Indonesia dan SDC mewakili Sulawesi Tengah.
Kepada PaluPoso, Rabu (12/5), Kasmudin mengaku tidak percaya bisa lolos nominator penghargaan tersebut. Bahkan, saat ini tahap seleksi sudah masuk di tahap enam besar dan SDC ada di antaranya.
“Jadi ini satu kebanggaan sekaligus pekerjaan rumah bagi kami untuk terus konsisten mengedepankan penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Apalagi, daerah Morowali dikenal daerah industri pertambangan, di mana salah satu dampaknya juga di perairan,” kata Kasmudin.
Selain melakukan penyelamatan dan perbaikan lingkungan yang rusak karena aktivitas perusahaan tambang, kelompok tersebut juga mengedukasi masyarakat akan pentingnya pelestarian mangrove dengan melibatkan masyarakat menanam pohon tersebut di sepanjang pesisir pantai di Morowali. Kegiatan ini telah dilakukan secara rutin sejak empat tahun yang lalu.
“Kini masyarakat bisa menikmati kehadiran pohon itu,” kata Kasmudin lagi.
Tidak hanya itu, upaya penyelamatan lingkungan juga dilakukan dengan cara transplantasi terumbu karang. SDC termasuk kelompok yang aktif membuat gerakan itu.
Seperti yang dilakukan di Pulau Langala, Dusun Kurisa, Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, pihaknya pernah melakukan transplantasi terumbu karang yang diduga rusak karena aktivitas tongkang perusahaan setempat yang memarkir kapalnya di pulau tersebut.
Mereka pun mengambil langkah penyelamatan pulau dengan mendatangi lokasi tersebut, berdialog dengan masyarakat setempat. Melihat langsung tongkang-tongkang di lokasi dengan memeriksa keadaan pantai dan lautnya. Lalu merencanakan upaya penyelamatannya tepat tanggal 17 Agustus.
“Kami mengundang bupati, kepolisian dan TNI untuk bersama-sama menyelamatkan karang yang rusak di pulau itu. Saat ini tidak ada lagi tongkang yang bersandar dan wilayah tersebut menjadi tempat wisata,” jelasnya.
Semua aktivitas kelompok tersebut didokumentasikan dengan baik di media sosial. Kasmudin beranggapan, mungkin saja panitia penghargaan terus memantau aktivitas mereka di media sosial. Selain itu, sebelum masuk nominator, kelompok itu diminta mengumpulkan berkas-berkas sebagai syarat pendukung ikut dalam kompetisi meraih penghargaan tersebut.
“Jadi, kami didukung penuh Pemerintah Daerah terkait nominator ini. Mereka sangat aktif memberikan kami masukan dan dorongan. Semoga kami berhasil meraih penghargaan tersebut. Dan Morowali tidak hanya dikenal pertambangannya saja, tetapi kepeduliannya terhadap lingkungan,” ujarnya.
