AI dan IoT Ubah Sawah di Yogyakarta Jadi Bisnis Menjanjikan bagi Anak Muda

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pemerintah Kalurahan Pleret mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam sektor pertanian guna meningkatkan efisiensi pangan, menarik minat generasi muda, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Inisiatif modernisasi agribisnis yang dipusatkan di lahan Banyu Kencono, Kalurahan Pleret, Kabupaten Bantul ini mengoptimalkan lahan tanah desa yang sebelumnya tidak produktif melalui pembiayaan Dana Keistimewaan DIY lewat skema Desa Mandiri Budaya.
Lurah Pleret, Taufik Kamal, mengungkapkan bahwa inovasi berbasis digital ini dirancang untuk mematahkan persepsi lama bahwa bertani adalah pekerjaan rumit dan menyita waktu yang selama ini membuat anak muda enggan turun ke sawah.
"Selama enam tahun saya mengajak petani muda itu susah. Para petani menganggap [pertanian hortikultura] itu terlalu rumit dan waktunya terlalu banyak. Dari situlah kami mencoba mencontohkan di Banyu Kencono, sebuah pertanian berbasis Internet of Things yang nanti penginnya kita itu jadi bosnya—pekerjaan tenaga fisik bisa digantikan sensor," ujar Taufik dalam forum Rembag Keistimewaan pada Kamis (24/9).
Taufik menjelaskan bahwa stasiun kontrol Banyu Kencono mengintegrasikan sensor kelembapan tanah dan intensitas cahaya dengan asisten suara pintar Alexa, sehingga proses penyiraman serta pemupukan presisi dapat diaktifkan secara otomatis hanya melalui perintah suara maupun basis data terprogram.
Secara teknis, infrastruktur di lokasi ditenagai oleh panel surya (solar panel) mandiri yang terhubung ke pengontrol MPPT, baterai penyimpan daya, dan inverter untuk menggerakkan pompa air serta memancarkan data sensor nirkabel secara real-time.
Petani milenial sekaligus pengelola lahan Banyu Kencono, Sony Susanto, menyebutkan bahwa pemantauan kondisi lahan kini dapat dilakukan dari jarak jauh melalui ponsel pintar, mengubah persepsi bertani menjadi profesi yang praktis, efisien, dan bergengsi bagi anak muda.
"Pandangan anak muda biasanya bertani itu rekoso (susah dan berat). Dengan teknologi, sudut pandang mereka berubah: 'Oh, HP saja bisa untuk menyiram, memupuk, dan memantau tanaman tanpa harus panas-panasan ke tengah sawah.' Sambil rebahan pun daripada sekadar main sosial media, kita bisa memantau kondisi lahan," kata Sony.
Sony menambahkan bahwa sistem AI secara terus-menerus merekam parameter iklim lokal, di mana ketika terjadi lonjakan suhu panas ekstrem, sistem otomatis memberikan sinyal peringatan agar durasi penyiraman disesuaikan.
"Ketika ada lonjakan suhu panas, sistem AI merekam data tersebut. Kami di lahan langsung mengantisipasi—durasi penyiraman sore hari kita perpanjang supaya kondisi tanah benar-benar lembab dan tanaman tetap sehat," jelasnya.
Dari kalkulasi ekonomi, penggunaan benih bawang merah sebanyak 50 kilogram di lahan uji coba seluas 1.000 meter persegi dengan biaya operasional Rp 8 juta mampu menghasilkan panen hingga 1,2 ton.
"Di awal uji coba 1.000 meter persegi dengan benih 50 kilogram menghasilkan 1,2 ton. Biaya produksi sekitar Rp 8 juta bisa terjual belasan juta. Selama satu tahun, pertanian yang menggunakan alat digital ini diproyeksikan sudah balik modal," tegas Taufik.
Guna menjaga arus kas (cash flow) harian dan melindungi petani dari risiko fluktuasi harga pasar, Banyu Kencono menerapkan pola diversifikasi tiga komoditas sekaligus, yaitu bawang merah, cabai keriting, dan pare atau timun yang dapat dipanen setiap dua hari sekali.
Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Imam Budiarma, menegaskan bahwa penerapan teknologi modern tidak mengikis budaya agraris lokal, melainkan memberikan efisiensi biaya dan waktu agar para petani daerah mampu "naik kelas".
"Dalam perspektif keistimewaan, kita tidak hanya memelihara tradisi pertanian, tetapi juga mengembangkannya. Dengan IoT, operasional lebih hemat waktu dan biaya, sekaligus membuktikan bahwa teknologi justru membantu kita mempertahankan budaya agraris lokal agar tidak punah," tutur Imam.
Dari aspek kesetaraan gender, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, menilai sistem IoT sangat membantu petani perempuan dalam mengelola sawah secara fleksibel.
"Penggunaan IoT menjadi solusi bagi perempuan untuk mengefisienkan waktu dan tenaga di sektor pertanian. Mereka tetap bisa memantau perkembangan sawah secara presisi lewat HP dari rumah, di sela-sela aktivitas mengasuh anak dan mengurus rumah tangga," ujar Erlina.
Meskipun berbasis teknologi canggih, operasional lapangan tetap menghadapi tantangan fisik seperti gangguan hama tikus dan serangga yang menggigit kabel sensor tanah, yang diatasi melalui pemeliharaan rutin, proteksi stasiun kontrol, serta pengawasan CCTV 24 jam dan kamera multispektral.
Pemerintah Kalurahan Pleret kini tengah menyiapkan perluasan lahan riset pertanian yang direncanakan beroperasi 100 persen secara otonom tanpa pekerja manual di lapangan, di mana seluruh proses penyiraman, pemupukan, hingga penyemprotan dieksekusi penuh oleh kecerdasan buatan.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pemerintah Kalurahan Pleret mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam sektor pertanian guna meningkatkan efisiensi pangan, menarik minat generasi muda, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Inisiatif modernisasi agribisnis yang dipusatkan di lahan Banyu Kencono, Kalurahan Pleret, Kabupaten Bantul ini mengoptimalkan lahan tanah desa yang sebelumnya tidak produktif melalui pembiayaan Dana Keistimewaan DIY lewat skema Desa Mandiri Budaya.
Dalam forum Rembag Keistimewaan pada Kamis (24/9), Lurah Pleret, Taufik Kamal, mengungkapkan bahwa inovasi berbasis digital ini dirancang untuk mematahkan persepsi lama bahwa bertani adalah pekerjaan rumit dan menyita waktu yang selama ini membuat anak muda enggan turun ke sawah.
Taufik menjelaskan bahwa stasiun kontrol Banyu Kencono mengintegrasikan sensor kelembapan tanah dan intensitas cahaya dengan asisten suara pintar Alexa, sehingga proses penyiraman serta pemupukan presisi dapat diaktifkan secara otomatis hanya melalui perintah suara.
Secara teknis, infrastruktur di lokasi ditenagai oleh panel surya (solar panel) mandiri yang terhubung ke pengontrol MPPT, baterai penyimpan daya, dan inverter untuk menggerakkan pompa air serta memancarkan data sensor nirkabel secara real-time.
Petani milenial sekaligus pengelola lahan Banyu Kencono, Sony Susanto, menyebutkan bahwa pemantauan kondisi lahan kini dapat dilakukan dari jarak jauh melalui ponsel pintar, mengubah persepsi bertani menjadi profesi yang praktis, efisien, dan bergengsi bagi anak muda.
Sony menambahkan bahwa sistem AI secara terus-menerus merekam parameter iklim lokal; ketika terjadi lonjakan suhu panas ekstrem, sistem otomatis memberikan sinyal peringatan (alarm) agar durasi penyiraman sore hari diperpanjang guna menjaga kelembapan tanah.
Dari kalkulasi ekonomi, penggunaan benih bawang merah sebanyak 50 kilogram di lahan uji coba seluas 1.000 meter persegi dengan biaya operasional Rp 8 juta mampu menghasilkan panen hingga 1,2 ton, sehingga investasi perangkat digital diproyeksikan balik modal (ROI) dalam kurun waktu satu tahun.
Guna menjaga arus kas (cash flow) harian dan melindungi petani dari risiko fluktuasi harga pasar, Banyu Kencono menerapkan pola diversifikasi tiga komoditas sekaligus, yaitu bawang merah, cabai keriting, dan pare atau timun.
Komoditas cepat panen seperti pare dan timun yang dapat dipanen setiap dua hari sekali setelah masa tanam 45 hari memberikan pendapatan rutin bagi petani untuk menutup biaya operasional harian sembari menunggu masa panen raya cabai dan bawang merah.
Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Imam Budiarma, S.T., M.X.D., menegaskan bahwa penerapan teknologi modern tidak mengikis budaya agraris lokal, melainkan memberikan efisiensi biaya dan waktu agar para petani daerah mampu "naik kelas".
Imam menjelaskan bahwa pemerintah daerah secara berkala melakukan evaluasi dan pemantauan dampak investasi Dana Keistimewaan guna memastikan peningkatan produktivitas yang terukur serta membuka peluang replikasi teknologi serupa ke wilayah lain di DIY.
Dari aspek kesetaraan gender, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., menilai sistem IoT sangat membantu petani perempuan dalam mengelola sawah secara fleksibel di sela-sela aktivitas pengasuhan anak dan urusan rumah tangga.
Meskipun berbasis teknologi canggih, operasional lapangan tetap menghadapi tantangan fisik seperti gangguan hama tikus dan serangga yang menggigit kabel sensor tanah, yang diatasi melalui pemeliharaan rutin, proteksi stasiun kontrol, serta pengawasan CCTV 24 jam dan kamera multispektral.
Pemerintah Kalurahan Pleret kini tengah menyiapkan perluasan lahan riset pertanian yang direncanakan beroperasi 100 persen secara otonom tanpa pekerja manual di lapangan, di mana seluruh proses penyiraman, pemupukan, hingga penyemprotan dieksekusi penuh oleh kecerdasan buatan.
