Konten dari Pengguna

Aku Penasaran Kenapa Selalu Ada Penjual Bunga di Perempatan Gramedia Jogja

Pandangan Jogja Com

Pandangan Jogja Comverified-green

email: pandanganjogja@gmail.com

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku Penasaran Kenapa Selalu Ada Penjual Bunga di Perempatan Gramedia Jogja
zoom-in-whitePerbesar

( Foto : Dokumen si Om, karena ponselku butut, fotonya jelek sekali, kuputuskan memakai foto si Om )

Gara-garanya seorang pengusaha muda, dalam sebuah pertemuan tak sengaja di sebuah working space di daerah Godean Sleman, memberi contoh kepadaku bahwa menjual bunga di perempatan Gramedia Jogja itu contoh perulangan bertahun-tahun oleh rendahnya gagasan enterpreneurship di kalangan anak muda Jogja.

“Itu sejak saya masuk kuliah di Jogja tahun 1998 sampai sekarang terus-terusan begitu. Kalau enggak jual bunga ya ngiderin kotak sumbangan,” katanya.

Meski aku sudah hampir wisuda tapi aku masih mahasiswa dan aku cukup tersinggung saat mahasiswa disebut-sebut rendah gagasannya, cupu, dan hanya mengekor apa yang dilihatnya tanpa pernah mempertanyakan ide mendasarnya.

Rasa-rasanya ada benarnya juga saat dia bilang bahwa fund rising untuk kegiatan apapun musti kreatif, tapi dia tak pernah menyebut sekalipun apakah dia pernah bertanya langsung pada para penjual bunga di perempatan Gramedia Jogja.

Dan pekan lalu, aku memutuskan untuk melakukannya.

Pertama-tama aku menemui temanku, Mukhammad Fairuz Zaman, 21 tahun, mahasiswa semester 6 Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Negeri Yogyakarta. Aku mendengar dari temanku yang lain bahwa Fairus juga pernah menjual berpuluh-puluh tangkai mawar di perempatan Gramedia.

“Untuk kegiatan amal bro, dan itu hanya satu dari beberapa cara,” begitu dia mulai menjawab saat kutanya kok bisa jualan bunga.

Itu tahun 2016 silam saat Fairuz tergabung dalam sebuah organisasi mahasiswa. “Apa amalnya, itu untuk membangun perpustakaan yang terletak di daerah Sleman,” sambar Fairuz sebelum kutanya amal apa.

Kawan Fairuz, Danang Bakti Kuncoro, 21 tahun, menambahkan bahwa mereka juga melakukan banyak kegiatan penggalangan dana selain menjual mawar. Contohnya, membuka kantin kejujuran di kampus, open donasi, konser amal, sampai ngamen segala.

“Ngamen ini paling banyak dan cepet dapetin uang. Kalau nggak salah sekitar 3 jam sudah bisa dapet 600 ribuan,” katanya.

Aku bersikeras bertanya kenapa jual bunga, kenapa ngamen, kenapa bukan cara lain, kan itu sudah sering dilakukan toh?

“Kamu punya gagasan apa?,” tanya mereka berdua.

Aku gelagapan juga, aku ternyata juga nggak punya gagasan lain. Baiklah kutunda saja pertanyaan lanjutan tentang enterpreneurship, aku juga nggak begitu menguasainya.

Lalu aku mendengar cerita yang menggugah, bukan tentang gagasan tapi tentang perasaan-perasaan. Danang mengatakan betapa ia merasa sangat berbahagia saat bisa memberi manfaat untuk orang lain. Dengan segala keterbatasan, menyiasati waktu di antara padatnya kuliah dan kegiatan kampus lain, Fairuz dan Danang, telah mengalami banyak hal seperti perasaan senang untuk orang lain dan juga rasa malu.

Fairuz berkata betapa malunya dia saat pertama kali mencoba jualan setangkai mawar di perempatan itu. Seumur hidup ia belum pernah jualan apalagi di perempatan, dilihatin orang-orang, dilihatin cewek-cewek.

“Malu banget, tapi karena ini untuk amal, kebayang manfaatnya untuk banyak orang, akhirnya enjoy. Dan menurutku ini juga jadi ajang belajar lah,” kata Fairuz.

Hasilnya sebuah taman baca di Desa Kopen, Tempel, Sleman, berhasil berdiri dan perpus itu masih aktif sampai sekarang. Tidak hanya untuk membaca, tapi juga kerap dijadikan tempat bermain dan mengaji anak-anak sekitar. “Harapan dengan taman baca ini warga jadi seneng membaca, terutama anak-anak,” kata Fairuz.

Sudahlah, aku tak bertanya lebih jauh tentang enterpreneurship. Bagiku, Om pengusaha, niat mereka itu lah yang pertama musti dilihat, jangan mengadili lainnya dulu, lah!.

Aku Penasaran Kenapa Selalu Ada Penjual Bunga di Perempatan Gramedia Jogja (1)
zoom-in-whitePerbesar

(Ini Fairuz, beberapa kali jual bunga untuk penggalangan dana kegiatan sosial. foto milik Fairuz)

Jual Bunga itu Menguntungkan

Hari yang panas akhir pekan lalu. Ngendon di kampus seharian, saat adzan Ashar dari masjid kampusku samar-sama mulai lenyap aku bergegas sholat sendiri di kantor UKM-ku. Aku masih ingin menemui beberapa narasumber lagi.

Riuh jalan menuju perempatan Gramedia aku mendengar kutuk para pengguna jalan, rasa-rasanya bukan di Jogja saja. Klakson dan omelan itu lho.

Salsadila Nadia Prameswari, gadis 15 tahun, sore itu kutemui sedang berjualan bunga mawar di perempatan Gramedia Jalan Jenderal Sudirman Jogja.

“Kalau sore begini cepet lakunya, soalnya lebih ramai,” ujar gadis yang masih duduk di bangku kelas satu SMAN 8 Yogyakarta itu.

Sudah sejak pukul dua ia dan belasan temannya menjajakan tangkai demi tangkai mawar kepada para pengendara yang berhenti di lampu merah itu.

“Tidak pasti sih, biasanya sekitar seratus sampai seratus lima puluh ribu sehari,” saut Eliza Abigail, teman Salsadila yang juga masih berusia 15 tahun.

Mereka berkata, keuntungan yang mereka dapatkan dari berjualan bunga ini akan digunakan untuk menyelenggarakan acara bertajuk Eightfest #44, sebuah kegiatan untuk memperingati hari jadi SMKN 8 Yogyakarta yang ke-44.

“Jadi ini dalam rangka penggalangan dana untuk event sekolah, namanya PASSION, pentas musik di Gedung PKKH UGM 20 April besok,” tambah Salsadila. PASSION, atau Pakci Music in Celebration adalah salah satu bagian serangkaian Eighfest #44.

Mereka masih SMA Om, bagaimana aku mau bertanya soal enterpreneurship. Guru mereka aja juga nggak ngerti kali !. Dan soal perulangan, ini anak-anak SMA kan nggak tahu juga kalau bunga sudah dijual di perempatan Gramedia sejak 1998, Om !.

Aku mulai senang menyadari ada yang keliru dari nada kesombongan Om pengusaha. Aku melihat banyak motivasi di sini dan tidak ada yang menyuruh mereka melakukannya. Ini kan sifat dasar enterprenership toh! Bukan birokrat atau pegawai yang apa-apa musti menunggu disuruh atasan.

“Bisa mempererat kebersamaan, jadi tahu bagaimana susahnya nyari uang, sama jadi tahu bagaimana membuat sebuah event sendiri dari awal sampai selesai,” papar Salsadila ketika menjelaskan manfaat yang dia rasakan dari kegiatannya.

Wow, anak-anak SMA bisa membuat acara musik sendiri?.

Hal yang mirip disampaikan Christophorus Maximilian William Putra (16), siswa kelas 1 SMAN 2 Yogyakarta. Di waktu dan tempat yang sama, ia dan beberapa temannya juga sedang terlihat sibuk menawarkan bunga kepada setiap pengendara yang tengah menanti berubahnya warna lampu lalu lintas menjadi hijau.

“Ini dalam rangka event tertentu dari sekolah buat nambah dana,” ujarnya.

Sedikitnya ada tiga event yang akan mereka garap dalam waktu dekat ini. Smada Art Fest, Pekan Olahraga Smada, serta PAKCI, semacam ziarah siswa-siswi Katolik. Karena kegiatan-kegiatan tersebut murni dari siswa, tidak ada bantuan dari pihak sekolah.

“Event itu yang ngadain kan dari siswa, jadi nggak ada dana dari sekolah,” tambahnya.

Mereka biasa menjual satu tangkai mawar dengan harga sampai 10 ribu rupiah. Rata-rata mereka membeli dari penjual dengan kisaran 3 ribu sampai 5 ribu rupiah. Semakin banyak mereka kulakan bunga, biasanya mereka bisa mendapat harga yang lebih murah.

Aku lama-lama menjadi mengerti, bahwa soal gagasan fund rising kreatif yang dikemukakan Om pengusaha mungkin ada benarnya. Tapi itu bukan contoh dari culunnya mahasiswa, apalagi anak-anak SMA ini. Melainkan, menurutku, ini lebih karena memang di kampus dan di sekolah tidak diajarkan gagasan kreatif enterprenurship. Buktinya apa, selain semua pelaku penjual bunga yang kutemui itu, aku saja nih, juga tidak tahu banyak soal enterpreneurship kok. Aku 'sang reporter' ini, sangat kesulitan melihat tema enterprenurship di aktivitas menjual bunga di perempatan Gramedia. Aku lebih terdorong untuk melihat mereka dalam kerangka kehebatan anak-anak muda ini dalam melakukan sesuatu yang bukan untuk diri mereka sendiri. Bagiku itu sebuah oase di tengah individualisme yang didorong oleh sistem belajar di kampus. SKS, cepet-cepet lulus, rendahnya minat diskusi, dan tradisi kritis. Aku sering iri mendengar dunia kampus Jogja dari, contohnya, si Om pengusaha.

“Dulu, dunia kampus Jogja berderap bro. Di mana-mana pertarungan gagasan. Kini, pengetahuan gampang didapat, tapi aku tidak melihat banyak gagasan yang tumbuh dari para mahasiswa di Jogja,” kata si Om.

Ah, sudahlah, itu nanti dulu. Aku kembali bergegas menemui penjual bunga di kawasan Kota Baru, tak jauh dari perempatan itu. Nama toko bunganya tak kucatat, karena itu berderet-deret sama semua, jual bunga.

“Kadang 4 ribu, kadang 3 ribu lima ratus, kalau jualnya kan sebenarnya 5 ribu. Kalau semakin banyak belinya semakin murah,” kata Handoyo (43), nama orang yang menjual bunga di salah satu toko di sana.

Handoyo mengatakan memang dari jaman dulu selalu banyak mahasiswa atau siswa SMA yang membeli bunga di tokonya. Banyak memang yang digunakan untuk kegiatan amal, tapi ada juga beberapa untuk usaha pribadi.

“Tak jarang mahasiswa yang memborong bunga hingga ratusan. Hebat juga mereka bisa jualan sebanyak itu. Bisa sampai 100-200 tangkai lho sehari,” kata Handoyo.

Kuperlihatkan naskah ini kepada si Om sebelum kuterbitkan di pandangan jogja di kumparan. Si Om bilang,”wow, jadi begini ya Wid. Ternyata memang jual bunga itu menguntungkan ya, lebih mudah cari dana buat kegiatan ya. Aku sedikit salah, aku mengaku. Tapi coba nanti aku survei sendiri, akan kuperlihatkan kepadamu apakah ada pilihan lain untuk mereka.”

Si Om setuju, ini bukan salah mahasiswa. Si Om menyetujui kecurigaanku bahwa sistem pendidikan lah yang keliru. Sebagai reporter tentu saja aku harus mengecek kecurigaanku. Aku akan mencari caranya sambil menuggu cerita si Om.

Penulis : Widi Hermawan, 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Universitas Negeri Yogyakarta.

Editor : YK-1